Terkadang menyadari apa ada yang salah pada diri ini tak semudah kita melihat ada yang salah pada dunia di luar raga ini. Karena mata, organ penangkap rangsang itu hanya bisa melihat ke luar, tidak ke dalam diri. Ada juga yang pernah berkata gunakan mata hati, tapi sesungguhnya di mana letak mata hati itu? Karena keberadaannya yang abstrak, terkadang malas dan tak tergerak untuk mencarinya.
Sementara jika mengandalkan mata orang lain, terkadang penilaian itu tak diterima secara fair karena terhalang benteng ego dan penyangkalan. Atau bisa juga meskipun mata lain itu melihat yang sebenarnya, tapi sang empunya mata dalam memberikan penjabaran apa yang dilihatnya sangat dipengaruhi oleh sudut pandangnya, cara interpretasinya, dan ketidakgamblangannya karena takut terlalu keras serta khawatir malah akan memperburuk luka yang telah ada. Kelebutan itu, mungkin baik, tapi mungkin juga tidak efektif. Karena ditepuk secara lembut, padahal mungkin seharusnya ditampar supaya sadar.
Tapi ditampar orang itu rasanya sungguh tak enak bukan
. Pernahkan mencoba menampar diri sendiri? Ketika kau merasa ada yang salah pada dirimu, tapi kau tak tahu bagaimana bangkit dan meninggalkannya. Ketika kau tak bisa berhenti menangis, padahal kau tersiksa dengan kerapuhan itu. Ketika perasaan itu begitu menguasai jiwamu sehingga menutupi akal sehatmu.
Tapi bagaimana cara membangunkan diri itu? untuk memintanya bangun…
Jika mata kita tak bisa melihat diri sendiri, maka butuh alat bantu yaitu tak lain adalah cermin. Cermin yang menampakkan diri seutuhnya, dan mata bisa melihat sesosok makhluk yang tampak di sana.
Jika di saat kau melihat diri di cermin kemudian menangkap sosok bayangan yang tak kausuka. Misalnya wajah tirus pucat, mata sembab dengan tatapan kosong merah berair, layu seakan tidak berjiwa. Kau pun menatap langsung ke matanya, mencari jawaban mengapa ia sedemikian buruk rupanya. Jika logikamu sepenuhnya sadar bahwa ia adalah bayangan dirimu, tapi kau merasa ia bukanlah dirimu.
Apabila di saat kewarasanmu semakin memudar, kau kemudian berbicara padanya menanyakan mengapa ia sedemikian jeleknya, sedemikian menderitanya. Ya, kau pun bisa berkomunikasi dengan dirimu. Ia pun bercerita mengenai kisahnya dengan sesekali terisak, dan kau melihat ia sedemikian menyedihkannya.
Dan apabila di saat kewarasanmu mulai kembali, menyadari bahwa sosok itu adalah dirimu sendiri, kau bisa melihat dirimu dari sudut pandang dunia luar. Dan berpikir mereka selama ini memperhalus kenyataannya, hanya menepukmu dengan lembutnya. Dan mungkin kau akan menyadari mengapa mereka memperhalusnya. Jika kau memang benar-benar ditampar dengan keras, kau akan hancur berkeping-keping karena sedemikian rapuhnya.
Di saat kau merefleksikan dirimu di cermin, kenyataan yang tersirat dalam rupa bayanganmu di cermin bisa terkuak perlahan-lahan. Ya, kau mungkin merasa ditampar oleh dirimu sendiri, tapi menampar diri sendiri itu sungguh bisa dikontrol kekuatannya sehingga kekuatan tamparannya hanya untuk membangunkan dan bukan untuk menghancurkan. Karena kau yang memegang kendali atas semuanya, kesedihanmu, kerapuhanmu, dan kekuatan yang tersembuyi dalam dirimu.
Dan ketika kau bisa menerima rupamu yang sebenarnya, kini waktunya kau mengaburkan kembali kewarasanmu dan berbicara dengan bayanganmu sendiri di cermin. Katakan ia tak bisa terus-terusan begini, coba lihat sosoknya yang menyedihkan itu, begitu tidak bahagia padahal di sekelilingnya banyak potensi kebahagiaan lain yang menunggu untuk ia rengkuh kembali. Katakan ia begitu cengengnya, menangisi hal yang sedang ia merasa kehilangan untuknya padahal banyak tersisa hal-hal lain yang patut disyukuri dan dijaganya. Katakan meski langitnya selalu diliputi awan gelap, tapi langit di luar dunianya sungguh biru cerah luas tak terbatas.
Dan, pertahankan ketidakwarasanmu lalu tekankan ia harus berhenti meratap dan keluar dari kepekatan dunianya, bukan demi siapa-siapa tapi untuk dirinya sendiri, supaya wajah menyedihkan itu menjadi lenyap.
Kemudian terakhir, kembalikan kewarasanmu dan katakan bukan demi apa-apa, hanya saja kau ingin memperoleh senyummu kembali
.
__________
**Selamat mencoba



Recent Comments