Freedom

Ketika pikiran terasa mulai terpenjara oleh nilai-nilai tertentu yang dibuat sebenarnya bukan untuk membatasi, melainkan untuk menahan segala macam ekspresi yang keluar; apa yang bisa saya lakukan selain berfikir ini boleh atau tidak, ini pantas atau tidak, atau ini baik atau tidak. Kontrol diri yang bertujuan untuk menjaga dan mengamankan, justru berbalik mengekang karena takut… takut… melakukan kekeliruan atau kesalahan yang sama. Tapi kemudian saya berfikir, apakah memang itu keliru dan salah? Tak ada yang menyebutnya demikian, karena nilai dalam diri inilah yang menilainya tak seharusnya. Namun jika berfikir demikan, kembali penyesalan itu menyeruak membuat saya sedikit menyesal :P.

Satu yang saya sadari, sayalah yang menaruh rantai di kaki ini, sayalah yang dengan suka rela masuk ke dalam kurungan yang mengekang. Jika seandainya bisa membuat diri sendiri nyaman berada di luar dengan kondisi kaki bebas melangkah, jika hujan lebat atau matahari terik membakar yang membuat saya tak nyaman itu bisa saya terima dan membiasakan diri terhadapnya, mungkin saya masih menjadi orang yang sama.

Tapi, toh sudah terlanjur merantai, penyesalan tak akan berguna bukan. Sekarang bagaimana caranya melepaskannya, sehingga bisa lepas bebas seperti biasanya.

Tapi, sekarang jadi tau apa yang sedang saya lakukan, berhenti dan kemudian melangkah ke jalan lain yang asing dan tampak terang tapi sebenarnya hampa dan kosong. Lain halnya dengan jalan yang dulu, gelap tapi hangat dan yang terpenting… jujur apa adanya ;).

Dan seperti taruhan perkiraan mereka-mereka itu, saya tak akan berubah… ya, mungkin sebentar berubah, tapi kemudian kembali lagi ke asal :P. Karena mengontrol emosi dan ekspresi muka, bagi saya mudah saja 😆 *hoax*. Tapi kalau mengontrol pikiran dengan batasan semacam tak baik, tak seharusnya, tak penting, tak normal.. dan “tak-tak” yang lain. You know me better, guys… I enjoy freedom much :oops:.

Advertisements

7 thoughts on “Freedom

  1. Satu yang saya sadari, sayalah yang menaruh rantai di kaki ini, sayalah yang dengan suka rela masuk ke dalam kurungan yang mengekang.

    good to know that 😉

  2. @ Lumiere:
    :mrgreen:

    @ Takodok:
    Hmm, entahlah 😕 . Harus dipertimbangkan juga jika dituangkan akan mengakibatkan apa terhadap lingkungan sekitar *halah* 😆

    @ itikkecil | Nicholas Hwa:
    Yeah… (rock)

  3. well, saya pikir kitalah yang menciptakan batas bagi diri kita sendiri… dan persepsi benar salah itu kadang kudu dikonsultasikan dengan orang lain, karena kebenaran itu butuh kesepakatan dari banyak dan semua pihak…

    …saya rasa, inilah saat yang tepat buat kita melabrak batas-batas konservatif yang kita bikin sendiri, demi mencipatakan zona nyaman semu itu!!! so leeets ROCK!!!! (rock)

  4. ^

    Yap, batas konservatif yang kita sendiri ciptakan pada awalnya hanya ingin membangun zona nyaman itu, tapi kemudian di lain pihak bisa menjadi kaca mata kuda yang mempersempit cara pandang. Agak-agak complicated sebenarnya, saya sendiri masih memikirkan gimana enaknya batasan itu dibangun. Kalau indikatornya adalah rasa tidak nyaman, masa selamanya tidak belajar membuat diri merasa nyaman 😕 *halah* 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s