The Right Time

Hari Jum’at ini, tak biasanya saya pulang teng-go tepat jam 16.30, karena biasanya saya memilih pulang setelah maghrib. Bukan berarti kerajinan ngelembur padahal mau weekend, biasanya sih kalau hari Jum’at begini jam 14.00 saja semua kerjaan sudah rampung :P.

Pulang selepas maghrib itu tujuannya untuk menghindari kemacetan parah yang pasti selalu terjadi di Jum’at malam 😐 . Harapannya sebagian orang-orang sudah hampir mendekati rumahnya dan jalanan di Sudirman-Gatot Subroto-Tol Kebon Jeruk sudah ‘sedikit’ agak lengang. Dan memang biasanya demikian…

Tapi tadi, karena sudah tak ada kerjaan, apalagi sudah mati gaya di depan komputer, dan lab sepi nian karena semua bos tidak ada, teman-teman pun sudah pulang, alhasil saya sangat bosan kalau harus menunggu waktu tepat untuk pulang. Akhirnya saya putuskan pulang cepat dengan menyadari semua resikonya. Dan, benar saja 😐 … Kemacetan sudah menghadang mulai dari Kantor KPU di Menteng dan terus padat merayap bahkan diam beberapa saat sampai Slipi Jaya, disambung lagi mulai dari Tomang sampai Kebon Jeruk. Waktu tempuh bisa dibilang jauh lebih lama jika pulang telat. Dan saya tiba di rumah hanya setengah jam lebih cepat jika pulang selepas maghrib πŸ™„ . Itu kalau dilihat dari waktunya, dan apabila dipandang dari kenyamanan saat di perjalanan. Pulang tepat waktu mengharuskan saya bergempet-gempetan di bis, apalagi jadi stress karena macet. Jika saya tidak bosan menunggu, mungkin waktunya bisa disisakan untuk browsing, chatting dengan teman yang tadi sempat heran saya pulang cepat :P, dan juga ngemil. Karena, toh seperti biasanya, sampai di rumah tak beda jauh waktunya kalau pulang teng-go πŸ™„ .

Karenanya… Mungkin memang demikian ya, kadang kita memang sebaiknya menunggu sampai saat yang tepat. Setelah merencanakan semuanya dengan matang, menimbang-nimbang semua kemungkinan, dan menyiapkan rencana cadangan jikalau gagal. Cepat atau tidak, ukurannya menjadi relatif untuk diri sendiri. Mungkin bukan cepat… Tapi tepat…

Dalam kata lain…

Kapan waktu yang tepat untuk terbang… Apakah sudah punya sayap; jika iya, apakah sayapnya sudah cukup kuat untuk mengepak dan melayang sendirian. Atau jika ternyata mendapat tebengan pesawat, apakah memang sudah pasti menjadi penumpang resmi yang tercatat dalam manifest penumpang, dan bukannya penumpang gelap yang bisa didepak kapan saja πŸ˜• . Lalu jika kemungkinan terburuk terjadi, seperti sayap tak kuat melawan kuatnya angin dan jatuh terhempas, atau jika pilot pesawat berubah pikiran dan menjatuhkan saya apakah punya pegangan yang bisa menahan jatuhnya dan apakah mampu menahan rasa sakitnya. Banyak yang perlu dipikirkan, direncanakan, dan introspeksi diri sendiri sebelum memutuskan untuk mulai terbang.

Tapi melihat seorang kenalan yang sanggup sampai ke tempat tinggi dengan langsung mengambil resiko miskin persiapan, dan memang tertatih-tatih, tapi katanya itu adalah serunya perjuangan. Mungkin saya memang ingin menciptakan sebuah kondisi ideal dalam memulai perjalanan, memastikan semuanya nyaman dan akan lancar sesuai target. Lambat memulai tapi cepat selesai dan meminimalisir resiko ketidaknyamanan πŸ™„ . Meskipun masa depan memang tak pasti, karenanya harus mengambil yang pasti-pasti saja di masa kini supaya masa depan yang tak pasti itu tidak semakin tak pasti *blibet* :P.

Dan di suatu saat, ketika melihat di sekitarmu ada sebuah kepastian, namun sayangnya tujuannya bukan untuk terbang di langit yang dicita-citakan. Muncul keinginan untuk menyambarnya, tapi mungkin lebih kepada terdesak oleh keterbatasan waktu yang ukurannya ditentukan oleh diri sendiri padahal belum tentu demikian adanya.

Dan muncul sebuah keraguan baru, apakah terbang dulu ke sana lalu kemudian mengejar langit yang lebih tinggi itu…

Atau memang harus bersabar sebentar, menunggu terciptanya sebuah peluang, semoga dapat tiket gratisan, sehingga bisa terbang di langit yang lebih luas…

Ya, bukan hanya ingin cepat… Tapi waktu yang tepat memulai perjalaan panjang dengan persiapan lebih matang ke tujuan yang memang dicita-citakan…

Entahlah… πŸ˜•

πŸ˜›

Mungkin tujuan dekat yang lebih realistis itu akan saya jadikan patokan, jika sampai deadline penutupannya saya belum mendapat tiket gratis pesawat untuk perjalanan jauh, mungkin saya akan mempertimbangkan jalan kaki ke sebelah sajah… Mungkin sekarang rencananya begitu ya…

Kalau nanti akan berubah…. yah, entahlah :P. Lihat saja nanti πŸ˜› *pusying*

Advertisements

6 thoughts on “The Right Time

  1. oho yeah… (niru kalimatnya pacarnya RAYI RAN di iklan conello)

    we should estimate the right time to offense and divense, bu… kapan kudu maju buat nyuri kesempatan menyundul bola liar atau hasil sepak pojok, dan kapan kudu turun ke belakang buat mentackle lawan… πŸ˜€

    *berasa kaga nyambung sama isi postingan* :mrgreen:

  2. Bukannya macet tidak bisa diprediksi? Kadang kalo sedang “sial” yang biasanya waktu tidak macet jadinya macet juga.
    Sama dengan waktu yang tepat, sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana “tepat” itu. Kadang “tepat” itu diciptakan sendiri, bukan yang ditunggu. Tapi ketika ditinjau ulang kok rasanya jadi tidak tepat lagi ya? *mbulet* :mrgreen:

    Ah, yang penting kalo hendak berjalan jauh persiapkan bekal yang cukup, mbak. Jadi ketika dilempar keluar oleh si pilot mbaknya punya parasut, handycam (untuk merekam kekejian si pilot, siapa tau bisa dituntut :mrgreen: ), dan bekal untuk bertahan hidup di bawah sana.
    Ngelantur ya? :mrgreen:

  3. @ Kurotsuchi:

    we should estimate the right time to offense and defense.. [..]

    That’s what I mean… memperkirakan (atau menciptakan? πŸ™„ ) waktu yang tepat :mrgreen:

    @ itikkecil:
    Menjadi realistis memang perlu, mba πŸ˜‰
    Tapi kadang saya ingin mencoba lebih… lebih tinggi… penasaran, jangan-jangan sebenarnya mampu kalau diusahakan πŸ˜›

    @ Takodok! :

    Bukannya macet tidak bisa diprediksi? Kadang kalo sedang β€œsial” yang biasanya waktu tidak macet jadinya macet juga.

    Bener banget 😦 . Biasanya sih kita bisa baca polanya, tapi kadang kenyataannya malah menyimpang :P.

    Sama dengan waktu yang tepat, sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana β€œtepat” itu.

    IMO banyak faktor yang mempengaruhi, meskipun kita sendiri sudah membuat peluang dan menilai itu lah saat yang tepat, kadang faktor luar yang mementahkannya dan pada akhirnya itu belum saat yang tepat *belibet* πŸ˜†

    Jadi ketika dilempar keluar oleh si pilot mbaknya punya parasut, handycam (untuk merekam kekejian si pilot, siapa tau bisa dituntut :mrgreen: ), dan bekal untuk bertahan hidup di bawah sana.

    πŸ˜† sebenarnya ga boleh semena-mena begitu sih main depak saja dari pesawat, kan ada prosedurnya. Tapi salah satu sahabat saya pernah mengalami, diturunkan dari pesawat karena dianggap cuma penumpang biasa dan posisinya digantikan oleh penumpang yang bukan orang biasa πŸ˜› , untung pesawatnya belum take-off jadi ga sampai terjun bebas 😐 .

    Ngelantur ya? :mrgreen:

    Hehehe, ga lah…
    Lagian tidak dilarang ngelantur kok πŸ˜‰
    Saya juga selalu sering ngantur πŸ˜›

  4. jadi inget kata2 temen saya di halaman kata pengantar skripsi-nya, dia bilang “tidak bisa lulus tepat waktu, tapi lulus pada waktu yang tepat” :mrgreen:

    nah, mengenai waktu yang tepat itu, meskipun kita bisa saja mendefinisikan sendiri kapan waktu yang tepat itu, sebenarnya tetap bergantung pada keadaan yang terjadi di sekitar kita, yang dapat kita baca perkembangannya *belibetjuga* πŸ˜›
    contoh gampangnya gini, orang membunuh banyak musuh di masa perang bisa menjadi pahlawan bagi negaranya, tapi orang membunuh 1 orang di masa damai dengan sengaja cuma berakhir sebagai pembunuh πŸ™‚
    *analogi yg dipaksakan :lol:*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s