Stupid Cupid

sore ini

mendengar kabar dari seseorang

seketika aku teringat obrolan dengan teman

ketika ada

ajakan yang tiba-tiba

dengan membawa sebuah komitmen

di saat hatinya (mungkin) belum siap

tapi memaksakan diri untuk berkompromi

berdamai

atau berlari dari kenyataan *kasarnya*

memang awalnya memang mulus dan lancar

tapi hanya gara-gara sebuah undangan dari sang mantan

luka itu (mungkin) kembali terkoyak

dan….

beberapa kali aku melihatnya

tak lama kemudian temanku juga berpendapat yang sama

sembuhkan lukamu

at least, niatkan…

jangan pernah berlari dengan kaki yang pincang

meskipun bisa dipapah oleh orang lain

tapi kau membebaninya

memberinya harapan padahal kau hanya ingin lari

dan kami pun pernah berdiskusi

ketika di awal, mungkin punya segala macam pengharapan

kemudian gagal

lalu menurunkan standar

itu kah berkompromi?

okeh lah…

lalu berujar, “yah gapapa, yang penting…”

lalu kemudian berkata, “gapapa juga, yang penting…”

lama-lama kau hanya menyerah pada apa yang ‘tersedia’

padahal itu hanyalah pilihan, satu dari sekian yang disediakan

kau kehilangan independensi untuk menentukan, memilih, sesuai dengan apa yang diinginkan

mungkin memang ingin mendapatkan sebuah pengakuan

bahwa diri masih dibutuhkan

masih diharapkan

masih punya kekuatan untuk mempengaruhi hidup orang lain

ujung-ujungnya, “bahwa masih berharga”

tapi pertanyaannya, “apakah kau masih menghargai dirimu dengan mencari apa yang benar-benar kau inginkan?”

kalau kata temanku yang lain, “mungkin lelah mencari”

“lelah berharap”

sementara ada yang nyeletuk, “cape yah istirahat…”

“apa semua harus cepat…”

“takut terkejar dia?”

dan ketika hal itu benar-benar kejadian

di saat hati yang tak siap itu tengah mencoba

merengkuh asa dari sebuah ajakan berkomitmen yang tergeletak di depan mata

lalu….

gara-gara sebuah undangan

kembali terseok-seok

luluh-lantak

dan mengaharapkan yang sudah hilang

.

.

.

kami pun jadi bertanya-tanya

jika dalam posisi itu…

ketika telah menerima ajakan berkomitmen

‘seharusnya’ tak akan terlalu tergoyahkan dengan undangan sang mantan

maksudnya

toh kau pun akan mengalami hal yang sama

tak lama lagi

ya, dengan orang yang berbeda sih

nah, apakah mungkin masalahnya di sana? 😕

nah.. nah.. 😎

.

.

.

dan akhirnya jadi teringat quotes ini…

wanita kadang tersesat dalam angan-angan tentang pernikahan

sebenarnya, memang benar-benar mencintai orang yang akan dinikahi…

atau ia lebih mencintai pernikahan itu sendiri?

.

.

.

*yuks mari dipikirkan, ladies*

😛

Advertisements

5 thoughts on “Stupid Cupid

  1. Ndak tau e mbak, belum (mau) kepikir sampe ke situ, kan masih remaja 😳
    *dipentung*
    😆

    Yang jelas saya teringat Definately Maybe. Seorang tokohnya bilang, “bukan masalah siapa, tapi waktunya. Jika waktunya sdh tepat, siapa orang terdekatmu lah yg kau nikahi.”
    Kurang lebih spt itu :mrgreen:

    Dan saya rasa memang kebanyakan wanita mencintai pernikahan itu sendiri, bukan siapa yg dinikahinya 😛

  2. hoo… women’s talk!
    mungkin karena saya lelaki ya, jadinya meski udah baca dari atas-bawah dua kali, tetep bingung! 😆

    soal pernikahan, memang sakral sih, tapi saya lebih melihat soal betapa vitalnya urusan pasca pernikahan, hingga kehidupan sehari-hari sampai ajal memisahkan itu…

    nggak nyambung ya?

    biarin dah! 😆

  3. @ Takodok:

    “bukan masalah siapa, tapi waktunya. Jika waktunya sdh tepat, siapa orang terdekatmu lah yg kau nikahi.”

    Takdir ya.. 🙂 Kalau memang sudah waktunya, semuanya akan dimudahkan.

    Dan saya rasa memang kebanyakan wanita mencintai pernikahan itu sendiri, bukan siapa yg dinikahinya 😛

    Trims buat pendapatnya ;). Asyik juga kalau dijadikan pooling 😆 pernah ada yang neliti ga ya.. *thinking*

    @ quinie:
    Huaah, setuju juga mba? 😀

    @ Captain Jack:

    hoo… women’s talk!
    mungkin karena saya lelaki ya, jadinya meski udah baca dari atas-bawah dua kali, tetep bingung! 😆

    Nope, yang cewek-cewek juga (ternyata) pada ga ngerti 😈 😆

    soal pernikahan, memang sakral sih, tapi saya lebih melihat soal betapa vitalnya urusan pasca pernikahan, hingga kehidupan sehari-hari sampai ajal memisahkan itu…

    Hmmm, pasca pernikahan… saat semuanya terungkap dan tiada yang ditutupi :P.

    Tapi masalahnya, kadang ada yang (biasanya perempuan, ga ngerti deh apa laki-laki juga begini) lebih fokus ke urusan menjelang pernikahan :mrgreen: *that’s my point actually*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s