Stupid Cupid ~new version~ [2009.11.07]

Terkadang wanita suka tersesat dalam angan-angan tentang pernikahan. Sebenarnya, apakah memang benar-benar mencintai orang yang akan menikah dengannya atau lebih mencintai pernikahan itu sendiri?

Di atas adalah petikan yang awalnya pernah saya tangkap dari beberapa novel Chicklit, kemudian jadi dibahas kembali dengan beberapa teman cewek yang juga masih single and happy. Ya, dan mengingat tulisan sebelumnya yang juga membahas tentang hal ini (tampaknya) sangatlah berbau autis dan introverted, kayaknya demi efektifitas penyampaian pesan yang tersirat di dalamnya saya tulis lagi deh ketika kewarasan saya sudah muncul kembali. Meskipun akan tampak agak berbau feminist, tapi ingin mencoba menggali maknanya secara logis tanpa bau-bau melankolis *apa bisa? šŸ™„ *.

Begini, bayangkan ketika seorang wanita yang baru saja hancur dunianya ditawarkan sebuah komitmen serius oleh laki-laki lain yang (belum) dicintainya. Ia, yang masih terseok-seok melangkah karena hati yang terluka, memutuskan ingin mencoba. Meski dengan berjalannya waktu, ia harus menurunkan standarnya tentang kriteria idealnya. Ya, wajar karena tiada satupun makhluk yang sempurna. Meskipun ada, dia tidak ingin bersamanya lagi :P.

Tapi inikah bentuk kompromi? Di saat sosoknya makin menjauh dari sosok yang kau inginkan. Pertanyaannya, apakah kau tak punya pilihan untuk mencari sosok yang nyaris mendekati ideal yang mungkin saja ada? Tapi, hati sudah terlanjur memutuskan untuk terikat dengannya yang memberimu rasa ‘itu’…

Apakah rasa ‘itu’? Kami menduga, mungkin karena dia memberimu cinta tanpa kau minta, bahkan menerima hatimu yang masih terluka. Kau merasa diri ini masih berharga karena masih dipuja. Keberadaanmu masih diinginkan karena ada yang ingin bersama denganmu padahal sudah tau kau dalam kondisi demikian. Karenanya (mungkin) kau ingin membalasnya…

Tapi di satu sisi, bukankah hubungan itu hanya berlandaskan balas budi? Kalau kata Souma Yuki, “hubungan satu pihak yang sama saja dengan bertepuk sebelah tangan, dan itu rasanya sungguh sepi…”

Lalu ada yang berpendapat mungkin karena sudah letih untuk mencari, makanya memutuskan mengikat diri dengan komitmen yang sudah ada di depan mata. Singkatnya, mencoba realistis…

Dan tentu saja tak bisa mencari, karena luka itu belum sembuh dan masih berjalan terseok-seok. Mungkin memang harus berhenti dulu, mengobati diri, membenahi hati agar bisa membenahi diri.

Tapi itu pilihan… Jika sudah dijalankan, sebaiknya tak ada sesal kemudian… Mungkin obat yang diberikan orang itu memang bisa menyembuhkan…

Dan kau mungkin merasa sudah sembuh, dan bersiap menyongsong hari baru…

Tapi Tuhan ingin memberi ujian akhir padamu… Terujarlah undangan dari mantan soul mate-mu…

Sedih… Pastinya ada, luka itu pun kembali terbuka

Tapi seharusnya efeknya tak terlalu menghancurkan seperti kalau kondisi kita masih sendirian. Logikanya, karena tak berapa lama lagi kau akan merasakan hal yang sama…

Tapi jika duniamu hancur saat itu, mungkin ada ‘hal’ yang patut dipertanyakan…

Apakah kau menerimanya karena dia menerima keberadaanmu?

Apakah kau mencoba belajar mencintainya karena ia sangat memujamu?

Atau seperti quotes di atas…

Apakah kau lebih mencintai pernikahan yang ia sodorkan?

Dan karenanya kau memilih untuk bersamanya?

Padahal jika dipikir-pikir lagi, mungkin kau terlampau banyak berkompromi untuk mencocokkan diri. Memotong ‘bentuk’-mu di sana-sini agar cocok dengan ‘bentuk’-nya. Padahal mungkin saja kau telah kehilangan bentuk aslimu, demi… Ya itu tadi, karena kau terhanyut dalam euforia komitmen yang ia tawarkan…

*thinking*

Apakah itu salah? Entahlah, salah dan benar itu relatif, tergantung pada nilai-nilai yang dianut bersama. Dan sah-sah saja mengambil keputusan yang manapun juga, selama kau tidak terganggu olehnya…

Tapi, mungkin perlu kita renungkan juga…

Memang perlu dipikirkan lagi, oleh saya juga… “apa iya?” dan tentang batasan realistis dan idealis, supaya kita tak hidup dalam surga khayalan, tapi alangkah lebih indah jika bisa menghadirkan surga di bumi ini. Surga yang duniawi, bersama dengan malaikat yang manusiawi :P.

Dan

Terlepas dengan apa jadinya nanti, nasib dan takdir akan membawa kita ke mana…

Tapi pasti kau ingin mengetahui jawabanmu sendiri kan šŸ˜‰

.

.

.

Penutup:

Ketika tadi saya menerima kabar… “aku kurang bersyukur, aku sungguh beruntung ada orang yang sangat mencintaiku…”

Dan saya nekat menantang pikirannya dengan berkata, “ya, dan dia orang yang kau cintai juga kan?”

Dan…

Ia pun diam dan offline ^^’

*siyap-siyap didiamkan*

Advertisements

6 thoughts on “Stupid Cupid ~new version~ [2009.11.07]

  1. Bagaimana kalau kata wanita diatas diganti seuruhnya dengan kata pria, dan kata pria di tukar dengan wanita…. kira2 masih koovalen gak yah sama isi postingan?

  2. @ Mr.El-Adani:
    Hmm, maaf kalau isi postingannya terlalu personal šŸ™‚

    @ Ando-kun:
    Hmm, let’s see…

    Begini, bayangkan ketika seorang pria yang baru saja hancur dunianya ditawarkan sebuah komitmen serius oleh wanita lain yang (belum) dicintainya… [..]

    Mungkin bisa relevan juga sih. Dan kalau kata ditawarkan dirubah menjadi menawarkan, mungkin jadi lebih merujuk pada tema pelarian sesuai dengan post ini šŸ˜›

  3. ^
    Ehhh? emang nya cuma pria yg boleh menawar? wanita gak boleh?
    Mana nih cerita emansisapipasi? Apakah karena pelarian, posisi seorang wanita turun drastis?

    *apa kata orang minang dunia!!!!*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s