Random Thought: Happiness

Ada orang yang terlalu mementingkan kebahagiaan dan kepuasaan ‘orang lain’, daripada kebahagiaan dan kepuasan batinnya sendiri atau orang-orang terdekatnya…

Aku bahagia jika kau bahagia

*cih*

Pertanyaannya:

Apakah aku (masih) bahagia jika sebenarnya aku tidak bahagia melihat kau yang bahagia?

Atau begini,

Jika kau tak bahagia, maka (haruskah) aku merasa tidak bahagia juga, padahal sebenarnya aku merasa bahagia

๐Ÿ˜†

Egois ya ๐Ÿ˜•

Tapi jika kebahagiaan tak memperoleh independensinya, selamanya aku akan bergantung pada kebahagiaan kau. Padahal aku dan kau suka Dancow (mungkin) punya sumber kebahagiaan yang berlainan, ya kau maupun aku adalah salah satunya dari sumber kebahagiaan diri kita masing-masing.

Tapi jika berpikir demikian, rasanya kejam bahagia di atas kepedihan orang lain. Manusia memang perlu bersimpati dan berempati. Nah, jika merujuk pada rasa simpati dan empati… Saya sendiri tak terlalu mengerti, mungkin itu hanya ekspresi yang ditunjukkan ke orang lain. Padahal jauh di dalam hatinya… tak ada orang yang tau selain dirinya sendiri. Hanya bisa disembunyikan, padahal di luar ia nampak sedemikian bersimpati dan hatinya mungkin berempati. Tapi mungkin ada sekelumit benih kebahagiaan yang dicoba ditekan agar tidak terlihat dari luar…

Jahat kah?

Tapi rasanya manusiawi sekali… ๐Ÿ˜

Advertisements

11 thoughts on “Random Thought: Happiness

  1. /pikiran aneh akibat demam ๐Ÿ˜›

    //Terinspirasi oleh kejadian barusan, saat saya dipaksa menghadiri meeting keluarga besar padahal saya lagi tepar ๐Ÿ™„

    ///Eh akhirnya saya pun mangkir dari meeting karena lemes buat jalan tapi masih bisa blogging-an

  2. karena saya cukup egois, saya menambahkan premis ‘ak bisa membuatmu bahagia’ sehingga kita berdua bisa sama2 bahagia.

    IMHO, yg membuat kita merasa tidak bahagia ketika melihat ‘dia’ bahagia sebenarnya adalah karena bukan kitalah yg membuatnya bahagia. Saya sendiri lebih memilih menghilang secara perlahan(daripada terus melihat dan akhirnya menjadi tidak bahagia dan berbuat hal2 yg mungkin akan saya sesali nantinya) dan cukup puas melihat kebahagiannya

    Sedangkan kenapa kita (merasa) bahagia ketika melihat ‘dia’ tidak bahagia adalah karena ada bagian kecil dari hati kita yg merasa senang karena terbuka kesempatan bagi kita untuk masuk ke dalam hidupnya untuk membuatnya bahagia.

    Ya semoga saya tidak salah mengartikan masalah ‘happiness’ ini ๐Ÿ˜€

  3. //Terinspirasi oleh kejadian barusan, saat saya dipaksa menghadiri meeting keluarga besar padahal saya lagi tepar ๐Ÿ™„

    Masa masalahnya cuma ini? :mrgreen:
    *curiga*

    OK, jawaban tuk kedua pertanyaan diatas adalah: “tidak”.
    1] Menyenangkan orang lain tidak boleh dengan terpaksa atau dipaksa. Itu melanggar hak asasi, kecuali kalau tuntutan profesionalitas.
    2] Susah liat orang senang, atau senang liat orang susah, itu hak kita, sejauh bukan kita yang menyusahkan orang tersebut secara langsung, dan tidak melanggar peraturan #1.

    Kalau bingung japri saja nanti. ๐Ÿ˜‰

  4. //Terinspirasi oleh kejadian barusan, saat saya dipaksa menghadiri meeting keluarga besar padahal saya lagi tepar ๐Ÿ™„

    *ikut2 jensen*

    jadi mau disidang buat dijodohin? ๐Ÿ˜ฎ

    *disambit sendal crocs*

    kalo mengenai urusan hubungan cowok-cewek, saya setuju ama jawaban TamaGO sudah mewakili ๐Ÿ˜Ž

    kalo mengenai urusan hubungan antarmanusia biasa, saya setuju ama jawaban jensen99 :mrgreen:

  5. @ TamaGO:
    ๐Ÿ˜ฏ *jreb*

    ๐Ÿ˜†

    Terima kasih atas pendapatnya *tercerahkan* :D.

    @ Jensen:

    Masa masalahnya cuma ini? :mrgreen:
    *curiga*

    He he he :mrgreen:

    Well, dalam interaksi antarmanusia kita seringnya pakai topeng ๐Ÿ™‚ untuk menyembunyikan muka ๐Ÿ˜ฅ , ๐Ÿ˜ฆ , bahkan ๐Ÿ‘ฟ . Sedangkan isi hati, dalamnya seluas jagat raya :P.

    @ Arm:

    jadi mau disidang buat dijodohin? ๐Ÿ˜ฎ

    ups ๐Ÿ˜ณ
    Hus hus.. *lempar sendal jepit*

    Yap, saya juga setuju ๐Ÿ™‚

  6. hualahhh…. lagi being complicated ya… non…? :mrgreen: ๐Ÿ˜†
    .

    sebenarnya pleasure n happiness itu dua hal yang berbeda , tapi hampir sulit di bedakan. untuk lebih jelasnya,itupun jika anda gak keberatan, silahkan anda baca di postingan saya tentang “quote of the life time”
    .

    pleasure itu harus ada sebab, sementara happiness itu independen dalam artian berdiri sendiri dan tidak tergantung pada apapun dan siapapun. makanya banyak orang bilang bahwa kebahagiaan itu adalah sebentuk pilihan yang nantinya akan menjadi satu keputusan.
    .

    Aku bahagia jika kau bahagia

    .
    hualaaaah betapa suci , agung dan mulainya hati orang yang mampu mengatakan hal seperti ini :mrgreen: ๐Ÿ˜†
    .

    sekalian numpang nanya nih, si mbak ini kan cewe ya…? :

    .

    sikap apa yang akan anda ambil ketika orang tua menawarkan calon pendamping si A sementara hati anda sepenuhnya dah di bawa kabur oleh si B. nah si A itu bisa dikatakan cowo yang ya boleh dikatakan hampir mendekati sempurna, dan semua orang mengakuinya. . nah gimana hayoo terima atau tolak…? ๐Ÿ˜†
    .
    .

    * ini hanya sekedar pemisalan saja *
    .

    Tapi jika berpikir demikian, rasanya kejam bahagia di atas kepedihan orang lain

    .
    wah jika alasannya untuk hidup dan kehidupan sepertinya tidak ada itu yang namanya kejam.
    .

    masih lebih baik membiarkan ada yang hidup daripada memaksakan semuanya harus mati. walaupun harus ada itu yang terkorban atau yang berkoraban . tapi asal jangan mengorbankan dan dikorbankan saja ๐Ÿ˜‰

  7. call me bitch, tapi buat saya pribadi yang terpenting adalah kebahagiaan saya sendiri. tapi sebisa mungkin saya tidak mau menyakiti hati orang lain.
    tapi kuncinya ya itu, my own happiness…. jadi kalau saya tidak sanggup melihat orang lain bahagia, ngapain saya harus nonton itu?

  8. @ G3mbel:

    hualahhhโ€ฆ. lagi being complicated yaโ€ฆ nonโ€ฆ?

    Well, life is complicated :mrgreen:

    pleasure itu harus ada sebab, sementara happiness itu independen dalam artian berdiri sendiri dan tidak tergantung pada apapun dan siapapun. makanya banyak orang bilang bahwa kebahagiaan itu adalah sebentuk pilihan yang nantinya akan menjadi satu keputusan.

    Saya sepakat bahwa kebahagiaan adalah sebuah keputusan. Meskipun ia dalam kondisi yang (menurut pandangan orang) menyedihkan, tapi ia memilih dan memutuskan untuk bahagia. Mungkin kebahagiaan itu muncul akibat adanya harmonisasi antara ekspektasi dan realitas ya? di mana harmonisasi itu merupakan buah dari segala macam bentuk kompromi untuk menyelaraskan keduanya.

    sikap apa yang akan anda ambil ketika orang tua menawarkan calon pendamping si A sementara hati anda sepenuhnya dah di bawa kabur oleh si B. nah si A itu bisa dikatakan cowo yang ya boleh dikatakan hampir mendekati sempurna, dan semua orang mengakuinya. . nah gimana hayoo terima atau tolakโ€ฆ?

    Pertanyaan yang berat ๐Ÿ˜†

    Baiklah akan saya coba jawab dengan membayangkan jika saya mengalami hal tersebut

    IMO, yang perlu diperhatikan di sini pertama,

    nah si A itu bisa dikatakan cowo yang ya boleh dikatakan hampir mendekati sempurna, dan semua orang mengakuinya. .

    Dalam hal ini yang berpendapat si A hampir mendekati sempurna adalah semua orang, kecuali saya… mengapa?

    Kerena,

    … hati anda sepenuhnya dah di bawa kabur oleh si B

    :mrgreen:

    Ia sempurna di mata orang lain, dan di dalam logika saya ketika saya melihat banyak nilai-nilai dalam dirinya yang sesuai dengan kriteria ideal saya. Tapi memilih untuk menerima atau menolak, bukan hanya berdasarkan sempurna-tidak sempurnanya sosok itu secara kasat mata dan logika. Apa daya ketika anda tidak memiliki hati yang utuh untuk menerima :mrgreen: . Jika jantung adalah organ penghidup raga, maka hati adalah jantungnya jiwa *halah ๐Ÿ˜† *. Seperti yang saudara bilang di salah satu komentar di posting tersebut, kebahagiaan itu letaknya di hati. Meskipun nampaknya saya harusnya bisa bahagia karena ia sempurna, tapi karena dia tidak kebagian jatah hati saya hati saya bukan untuknya maka saya pun agaknya sulit untuk merasa bahagia… misalnya begitu :mrgreen:.

    @ itikkecil:

    call me bitch…

    Kalau di buku Why Men Marry Bitches, BITCH itu singkatan dari Babe In Total Control of Herself ๐Ÿ˜‰

  9. Well, life is complicated :mrgreen:

    .
    i don’t think so, life is simple…, absolutely simple if we knows what’s life… ๐Ÿ˜‰
    .

    Mungkin kebahagiaan itu muncul akibat adanya harmonisasi antara ekspektasi dan realitas ya? di mana harmonisasi itu merupakan buah dari segala macam bentuk kompromi untuk menyelaraskan keduanya.

    .
    yap that’s the point terus menerus berhasrat dan berharap itu ibarat orang yang terlelap dalam mimpi tanpa hendak mau bangun, lantas menyonsong kenyataan.
    .

    Dalam hal ini yang berpendapat si A hampir mendekati sempurna adalah semua orang, kecuali sayaโ€ฆ mengapa?

    .
    dalam hal ini pula ada hal terbesar ( the biggest mistake ) yang tidak di sadari oleh karena karenanya :mrgreen:
    .
    ketika hati kita sudah berpindah tempat dan berada pada orang lain maka itu berarti hati itu bukan hati kita lagi.
    .
    Jika hal ini terus berlarut2 tanpa kita sadari maka jangan harap kita bisa menjadi diri kita sendiri alias selamanya kita menjadi orang lain.
    .
    sementara anda sendiri sepakat bahwa kebahagiaan itu wujud dari idependensi…, betul…?
    .
    kalau terus2 menerus seperti ini maka kebahagiaanpun hanya akan tetap menjadi impian tanpa akan mewujud jadi sebuah kenyataan.

    .
    .

    . Apa daya ketika anda tidak memiliki hati yang utuh untuk menerima

    .
    sedemikian repotnya kah…? , bukankah hati juga bisa di partisi non sama kaya hardisk :mrgreen:
    .

    nah kasus seperti inilah yang membuat saya tak habis pikir tentang perempuan, sehingga muncul pertanyaan :
    .
    apakah mayoritas perempuan itu menghendaki semua laki2 itu menjadi pencuri ( pencuri hati matsutne :mrgreen: ), dan hanya bersedia menikah dengan laki2 yang telah mencuri hatinya ketimbang laki2 yang secara sopan dan beradab meminta hatinya secara baik2 lewat orangtuanya pula …?, meskipun si pencuri itu dikenal sebagai laki2 brengsek bin bajingan …? , sungguh ini tak masuk nalar maupun logika ๐Ÿ™„
    .

    tapi karena dia tidak kebagian jatah hati saya hati saya bukan untuknya maka saya pun agaknya sulit untuk merasa bahagiaโ€ฆ misalnya begitu :mrgreen:

    .
    saya setuju sekali dengan anda jika anda bukan perempuan tapi laki2 . maksudnya jika saya dalam posisi seperti itu dan kebetulan saya ini laki2 saya akan bersikap seperti itu.
    .
    nah laki2 itu akan sulit untuk memberi jika hatinya tlah berisi. jadi hanya memberi pada yg mengisi hatinya itu ๐Ÿ˜€
    .
    nah kalau perempuan tinggal menyediakan ruangnya saja kan , terkecuali jika ruang itu sengaja di kunci :mrgreen:

  10. @ G3mbel:

    ketika hati kita sudah berpindah tempat dan berada pada orang lain maka itu berarti hati itu bukan hati kita lagi.

    Karena akibat kecurian hati itu berarti ada ruang kosong di sana, dalam arti hati sudah tidak utuh lagi. Ibaratnya hatinya bolong-bolong kaya keju Swiss :P.

    Jika hal ini terus berlarut2 tanpa kita sadari maka jangan harap kita bisa menjadi diri kita sendiri alias selamanya kita menjadi orang lain.

    Benar sekali ๐Ÿ™‚

    sementara anda sendiri sepakat bahwa kebahagiaan itu wujud dari idependensiโ€ฆ, betulโ€ฆ?

    Yap

    kalau terus2 menerus seperti ini maka kebahagiaanpun hanya akan tetap menjadi impian tanpa akan mewujud jadi sebuah kenyataan.

    Tampaknya demikian.

    Saya pernah mendiskusikan ini dengan beberapa teman cewek, bisa dibaca di postingan ini atau postingan ini (versi yang katanya lebih jelas :P). Intinya…

    sembuhkan lukamu dulu

    jangan pernah berlari dengan kaki yang pincang

    Ini sekaligus menjawab pertanyaan anda…

    sedemikian repotnya kahโ€ฆ? , bukankah hati juga bisa di partisi non sama kaya hardisk :mrgreen:

    :mrgreen:

    apakah mayoritas perempuan itu menghendaki semua laki2 itu menjadi pencuri ( pencuri hati matsutne :mrgreen: ), dan hanya bersedia menikah dengan laki2 yang telah mencuri hatinya ketimbang laki2 yang secara sopan dan beradab meminta hatinya secara baik2 lewat orangtuanya pula โ€ฆ?, meskipun si pencuri itu dikenal sebagai laki2 brengsek bin bajingan โ€ฆ? , sungguh ini tak masuk nalar maupun logika :roll:

    Muwahaha ๐Ÿ˜† . Banyak teman kuliah saya yang menerima laki-laki yang secara sopan meminta hatinya, etapi saya tak pernah menghitung persentasenya dalam populasi global :mrgreen: . Menarik juga tuh dibikin penelitian.

    sungguh ini tak masuk nalar maupun logika :roll:

    Karena perempuan cenderung lebih dipengaruhi perasaan daripada logika, makanya kadang tindakannya sukar dinalar masbro ๐Ÿ˜‰

    saya setuju sekali dengan anda jika anda bukan perempuan tapi laki2 . maksudnya jika saya dalam posisi seperti itu dan kebetulan saya ini laki2 saya akan bersikap seperti itu.

    Kalau gitu coba tanya ke perempuan lain yang lebih perempuan. Karena masalahnya pola pikir saya kadang seperti laki-laki ๐Ÿ˜† *serius*

    nah kalau perempuan tinggal menyediakan ruangnya saja kan , terkecuali jika ruang itu sengaja di kunci :mrgreen:

    Kalau sengaja dikunci sementara karena untuk diperbaiki? :mrgreen:

  11. Pingback: Happiness (Part 2) | White Twilight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s