Menuju Puncak

Jumat malam, saya bersama tiga teman kantor iseng melakukan perjalanan singkat ke Puncak, berangkat menjelang tengah malam dan pulang Sabtu pagi. Semuanya serba spontan, diputuskan sehari sebelumnya, dan cuma bertujuan buat cari makan :P.

Jangan bayangkan kami menyantap makanan mewah dan serba aneh :mrgreen:

Mie rebus di warung pinggir jalan tepat di depan masjid Atta’awun.

Ini adalah incaran pertama sesampainya kami di sana. Mie rebus!! Rasanya seperti mie rebus biasa. Akan tetapi terasa sangat nikmat karena disantap panas-panas di tengah dinginnya malam, beserta bumbu kehangatan dan kejujuran antar kawan dekat. Juga bahasan serius soal status tempat kerja yang masih digantung pemerintah, entah mau dijadiin kaya gimana ini lembaga penelitian :|.

****

Jagung bakar, teh manis hangat, dan bandrek dari warung lain di pinggir jalan raya puncak.

Roti bakar ditaburi keju parut dan bandrek

Selanjutnya lanjut ke makin atas untuk mencari jagung bakar. Teringat lumayan sulit sampai ke warung tersebut.. Err, sebenarnya karena sulit memutuskan makan di warung mana yang menjual jagung bakar. Bukan berarti susah mencarinya, lha di sepanjang jalan itu pun semuanya rata-rata menjual jagung bakar. Tapi masalahnya adalah susah memilih warung yang hanya menyediakan jagung bakar :roll:. Teman-teman seperjalanan pun tak berpengalaman dalam membedakan warung jenis ini dengan jenis lainnya, alhasil kendaraan kami merangsek pelan sambil memandang deretan warung-warung tersebut. Mengamati isinya yang kebanyakan banyak perempuan muda berbedak tebal seperti topeng dan gincu merah menyala. Kadang sendirian ditemani rokok dan segelas minuman, dan ada juga yang bergerombol berpasangan. Sekalinya menemukan tempat yang tidak ada hal-hal seperti demikan, tapi tempatnya gelap dan sepi banget. Kami pun mesti turun agak jauh dari Puncak Pas, sampai bertemulah sebuah warung yang tampak seperti warung biasa :roll:.

Begitulah akhirnya, sambil terkantuk-kantuk dan beku kedinginan habis juga itu jagung dan roti bakar. Ngobol sebentar sambil memandang ke bawah lembah curam, melihat kilauan lampu ditengah kepekatan malam.

Nyaris menjelang subuh, kami kembali ke masjid Atta’awun. Parkir di halamannya dan merem sebentar mengistirahatkan mata, kemudian terbangun oleh adzan subuh dan pulang ke Jakarta sesudahnya.

****

Ya, hanya itu saja hasil jajanan semalaman itu. Ga penting ya? Memang :mrgreen:. Toh perjananan ini serba dadakan.

Saya sebenarnya tak biasa melakukan perjalanan yang miskin persiapan dan tanpa tujuan jelas begitu. Tapi entah kenapa kali ini ingin keluar dari zona nyaman itu. Zona nyaman yang keseluruhannya serba terkendali, dalam artian saya mencoba mengendalikan apa yang bisa dikendalikan dengan menyusun rencana matang.

Kali ini rencana yang rasanya lumayan matang itu hanya mengantarkan kami dari pintu gerbang kantor sampai ke jalan raya Puncak, dan selanjutnya semua keputusan.. ” habis ini mau ngapain? di mana?” diambil dalam keadaan spontan.

Dan seru memang…

Jadi inget masa muda dulu waktu masih berkeliaran di Depok-Salemba-Tangerang, ketika perjalanan macam begini sering kadang-kadang di lakukan. Macam “Ke Bogor yuk, makan es duren di Kebun Raya”, “Ke Muara Angke yuk, pengamatan burung laut” 😀 *rindu sekali saya*.

Kalau sekarang sih jarang, untuk sekedar ke Mall aja saya masih pikir panjang :roll:. Okeh lah kalau niatnya buat beli buku, nonton, atau makan. Tapi kadang lebih nyaman baca buku di rumah sambil selimutan dari pada kelayapan cuma buat jalan-jalan liat etalase. Malas saya 😐

Kenapa jadi ngawur bernostalgila… 🙄

Advertisements

18 thoughts on “Menuju Puncak

  1. Anyway, setelah ini sebenarnya ada beberapa keinginan…

    Ingin wisata kuliner ke Depok buat nyari es buah yang dekat kosan saya di Margonda, atau makan bakso Rudal di Gang Senggol *nyam-nyam* Ini belum kesampaian, semenjak rencana ke Depok bareng temen-temen seangkatan gagal mulu 😐

  2. Hwaaaa…
    *ngiler lihat mie rebus and Roti keju nya*
    *merasakan bibir kering*
    *menelan ludah*

    Ah, saya puwasa ini….

    *cepet-cepet kabur sebelum tergoda*

  3. @Lumiere
    Mie instan dengan cita rasa Nigeria Indonesia itu susah sekali didapat. Mie instan di sini rasanya aneh-aneh. Lalu, Indomie goreng yang dijual di sini dengan merk Indofood beda rasanya. Di bawah apartemen saya ada minimarket yang jualan Mie Sedap, cuman buat saya merk ini kalah sama Indomie rasa Ayam Spesial yang nostalgik itu. Yang terakhir ini luar biasa susah dicari. Di supermarket biasa tidak ada. Ada beberapa teman yang pernah dapat, tapi setiap kali ke tempat yang mereka beri tahu, saya tidak pernah mendapatinya. Oleh karena itu, setiap kali ada teman dari Indonesia yang kemari, atau ada yang mudik ke Indonesia, atau kalau saya mudik, biasanya saya titip/bawa beberapa bungkus kemari.

  4. Dan, to make it worse, saya tak pernah beli telur mentah. Jarang bikin makanan sendiri, ga ada waktu. Kalau beli telur juga harus satu paket yang isinya kalau tidak salah selusin. Terlalu banyak.

  5. @ Zephyr:
    Deket rumah saya kebetulan ada yang jual jagung bakar juga. Tapi entah kenapa rasanya lain ya kalau kita makan jagung bakar di Puncak 😀

    @ dnial:
    Heleh, masa ga ngerti 😈

    @ Lumiere:
    Ups 😛
    *bungkusin roti bakar keju buat Lumi*

    @ Snowie:
    Nanti balik lagi kalau udah buka puasa ya~ 😀

    @ Nicholas Hwa:

    Lalu, Indomie goreng yang dijual di sini dengan merk Indofood beda rasanya

    Rasanya memang beda sekali dengan yang di jual di Indo ya? Dulu pernah denger dari teman saya kalo Indomie yang dijual di luar negeri itu lebih ‘sehat’, karena kandungan vetsin di bumbunya agak dikurangi (mungkin karena ini rasanya agak beda ya 🙄 ).

    @ TamaGO:
    Saya juga jadi kepingin lagi ini 😀

  6. sukmaaaa… pakabar? blog dikau yang ini blom sayah link euy. *buka windows baru untuk bikin blogroll*

    deuuuh serunya jalan2 ke puncak. emberr.. paling enak makan indomi rebus+jagung bakar!!!
    beda rasanya, beda atmosfernya ama yang dijakarta.

    serba ga jelas? hm.. life itself is mistery, then if there’s another mistery, i think it’s not a big deal 😀

  7. ^

    Baaaiiiikkkk, mbak 🙂

    beda rasanya, beda atmosfernya ama yang dijakarta.

    Yap, beda suasananya kalau kaya kita makan mie di rumah misalnya :mrgreen:

    btw, poto2 para vektor dna nya mana? xixixixi

    Euh, poto-potonya ditaruh di fesbuk saja, lagian nanti ketauan betapa ganas menyantap itu mie dan jagung bakar 😳

    menuju puncak kan theme songnya AFI kan?! xixixi

    ho’oh, benar sekali 😛

  8. Pingback: Menuju Menteng « Time Capsule

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s