Fallin’ Down

Hati itu layaknya sumur yang dalam, terkadang sempit namun kedalamannya tak dapat diperkirakan. Misterius tapi menggoda untuk diselami. Seakan menarik sosok yang tertegun diam di bibir sumur seraya melongok ke dalam kegelapannya, memanggilnya untuk terjun ke dalam untuk mencari tahu apakah isinya.

Dengan kemisteriusan dan ketidakpastiannya, ia memalingkan perhatian untuk memperhatikannya selalu. Semakin lama, semakin rasa penasaran itu timbul, kemisteriusannya membuat kau ingin jatuh ke dalamnya.

Dan akhirnya jatuh, kau menjatuhkan diri ke dalam sumur itu. Kau pun melayang, terjun bebas. Dirimu merasakan sensasi yang tak pernah dialami sebelumnya, antara takut, terancam, bergairah, senang.

Tapi kau tak pernah tahu apa yang ada di dasar sumur itu. Apakah air yang akan langsung dapat menerima jatuhmu; atau lumpur lunak yang akan meredam jatuhmu; atau beton keras yang akan meremukkan jiwamu.

Katakanlah kondisi terakhir yang menyambutmu, kau menyadari sumur itu buntu dan kau teronggok lemah di dalamnya, hancur, tak punya kekuatan untuk memanjat keluar, bahkan tak punya keinginan untuk keluar. Meskipun terjulur sebuah tangan atau tali yang dapat membantumu keluar, jika kau memang tak ingin keluar maka tak ada yang bisa menolongmu selain tanganmu sendiri yang menyambut tali itu. Ingin keluar tapi tak ingin melakukannya… *sulit dijelaskan*. Mungkin karena kau tak punya kepercayaan diri apakah bisa memanjatnya, atau kau memang masih berharap sumur itu tak berdasar beton keras…

Karenanya, jatuh itu rasanya selalu sakit, apalagi jika terjun bebas. Memang cepat sampai, tapi kau tak pernah punya waktu untuk memperkirakan apa yang ada di dasar. Dan kau tak punya pegangan apapun untuk menarikmu keluar.

Karenanya, mungkin lebih bijak jika jatuh perlahan-lahan. Dengan memanjat turun berpegangan dengan tali yang kuat terikat pada dunia luar. Ketika kau meniti perlahan-lahan semakin dalam, kau bisa sambil berpikir jernih apakah harus melanjutkan perjalanan. Dan sekalipun kau tiba di sana dan mengetahui apa yang ada di dasar, meski itu adalah beton keras, kau masih punya tali itu sebagai jalan pulang.

Karenanya… Mungkin… Jatuhlah sedikit-sedikit dan perlahan-lahan…

_____________

Note:
Terinspirasi oleh salah satu dialog dalam novel Perahu Kertas oleh Dee, saat Pak Wayan menasehati keponakannya, Luhde Laksmi yang tengah jatuh hati pada Keenan…

“Hati-hati, De. Pelan-pelan. Jatuh sedikit-sedikit, jangan sekaligus…”

Advertisements

12 thoughts on “Fallin’ Down

  1. IMO, jatuh itu tidak pernah perlahan. Jatuh itu wajib tiba-tiba, tidak disengaja dan bebas. Jatuh yang dipersiapkan, disengaja dan terencana itu bukan jatuh, tapi turun. Kan tidak ada kata jatuh lewat tangga; selalu jatuh dari tangga atau turun lewat tangga. Mana yang lebih baik: turun atau jatuh? Mungkin kita harus tanya sama orang yang pernah turun cinta dan jatuh cinta. πŸ˜€

  2. IMHO, kita nggak bisa milih mau jatuh perlahan atau cepat, jatuh ya jatuh. Pilihan di tangan kita hanyalah kapan kita mau melompat dan persiapan yg bisa dilakukan adalah siap menerima resiko akan apa yg ada di bawah jurang tersebut (kolam madu,lumpur lunak,beton keras,atau ladang duri).

    Klo dalam analogi cinta sih kayanya jurang tempat kita berpijak makin lama makin tinggi, semakin lama dan dalam cinta kita akan makin tinggi tebingnya dan pastinya jatuhnya bakal makin sakit (apalagi klo ternyata dasarnya beton hehe)

  3. @tamago

    IMMHO, tidak ada pilihan sama sekali. Ini persoalan bahasa sebenarnya. Melompat itu berbeda dengan jatuh. There’s a reason why the coroner’s court in Singapore had to decide whether the late David Wijaya jumped or fell to his death. We never know when we’re going to fall. No?

  4. untuk “jatuh” yang ini kayaknya ndak bisa milih, ndak bisa nolak, ndak bisa pula ingin semua terjadi begitu saja seolah di luar kontrol dan kesadaran. lebih parah lagi “jatuh” saat terpuruk lagi. coba bayangkan…!! tapi jangan deh soalnya sangat mengerikan :mrgreen:
    .
    sehingga saat di tengah2 perjalanan sadar ternyata dah ada di atas awan 😯
    .
    jadi pertanyaan selanjutnya adalah milih terus jatuh atau milih terbang …. ?
    .

    jatuh dari menara petronas kira2 gimana ya ? πŸ™„ apalagi dari atas awan membentur karang laut pulak πŸ˜†

  5. Ngomong-ngomong soal jatuh. Kemarin seorang lelaki dan seorang perempuan dikabarkan tewas setelah jatuh atau lompat dari dua mall mewah yang sangat intimidatif di Jakarta. Tidak ada yang tahu pasti mereka itu lompat atau jatuh.

  6. jatuh kok pilih-pilih…
    yang namanya jatoh ya jatoh
    ga bisa milih mau pelan atau ngga pelan…
    sekarang gimana caranya supaya jatohnya ngga sakit…
    atau coba untuk meminimalisir sakitnya…
    sedia kasur seblom jatoh kayanya pilihan yang aman deh…
    atau siapa tau ada yg punya matras untuk dipinjam sebentar??

    hihihi *peace*

  7. @ Ali Sastro:

    Mungkin kita harus tanya sama orang yang pernah turun cinta dan jatuh cinta

    πŸ˜†

    Turun cinta dan jatuh cinta. Saya rasa ini memang perumpamaan yang tepat :mrgreen:

    Emm, kalau jatuh cinta kejadiannya mungkin memang tiba-tiba tanpa direncanakan. Sedangkan turun cinta, lebih kepada sengaja ingin memasuki sumur hati itu tapi dengan penuh kehati-hatian ya :D.

    @ TamaGO:

    IMHO, kita nggak bisa milih mau jatuh perlahan atau cepat, jatuh ya jatuh.

    Ga bisa pakai parasut yak πŸ˜•
    πŸ˜†

    @ G3mbel:

    sehingga saat di tengah2 perjalanan sadar ternyata dah ada di atas awan

    Maksudnya mati, kah? 😯

    jadi pertanyaan selanjutnya adalah milih terus jatuh atau milih terbang …. ?

    Saya tak paham analogi ini :|, mohon pencerahannya m(_ _)m

    @ Ali Sastro (2):
    Bunuh diri ya katanya? 😐

    @ si Cutbray:
    Sedia parasut 😎

    @ Arm:

    Fallin’ I’m Fallin’ Down Down Down… (rock)

  8. @Ali Sastro : brarti kata2 terjatuh itu salah ya, klo emang jatuh itu memang proses yg tidak disengaja brarti ga perlu imbuhan ‘ter’ lagi untuk memberi arti ‘tidak sengaja jatuh’? (lho kok malah jadi ngebahas sastra?)

    oke berarti klo dalam konteks cinta,istilah yg tepat kayanya lompat karena proses menyatakan perasaan dan siap untuk ditolah (menghujam beton) ini disengaja (kasus pernyataan spontan juga nggak masuk kategori tak disengaja rasanya). Tapi after-effect dari melompat ini disebut apa klo bukan jatuh? (gludak, lagi2 ngebahas bahasa)

    @Mizzy : bisa pake parasut, itu namanya persiapan. ibaratnya udah menasehati diri sendiri ‘terima aja dengan lapang dada klo ditolak,memang kelihatannya perasaan ini one side kok’ tapi klo pas ditolak beneran malah shock,depresi,merasa dunia ini runtuh dan pengen bunuh diri brarti parasutnya gagal kebuka 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s