Heal The Wound

Merawat sebuah luka agar bisa sembuh seperti sedia kala tidaklah semudah jikalau lisan mengucap mudah atau sulit. Butuh banyak hal yang terlibat dalam usaha menyembuhkannya.

Misalnya, ketika tengah asyik-asyiknya berlari, tanpa benar-benar memperhatikan jalanan, tidak kelihatan itu batu besar. Sehingga tak bisa terhindar dari tersandung batu dan jatuh terjungkal-jungkal. Sakit? Amat dirasakan, dan tak tertahankan.

Jika kebetulan di situ ada orang, beruntunglah ada yang bisa membantu. Tapi jikalau tidak ada bagaimana? Mau tak mau harus bangkit sendiri. Pertama, sedikit membiasakan dengan rasa sakit itu supaya bisa berdiri dan berjalan meskipun dengan terpincang-pincang. Lalu pulang ke rumah yang membuatmu nyaman dan aman. Sesampainya di rumah baru lah menyambar kotak P3K untuk mulai merawat luka supaya sembuh sedia kala.

Pengobatan itu sendiri adalah sebuah proses yang pada masing-masing hati individu berbeda, kadang ada yang cepat sembuh tapi kadang ada yang lama. Karena nampaknya banyak faktor yang terlibat di dalamnya…

Pertama, tiap-tiap orang memakai obat penyembuh yang berbeda sesuai dengan kepercayaan. Mengapa? Karena jika tak percaya maka efek obat akan berkurang kemanjurannya. Mengapa? Karena kepercayaan menumbuhkan sikap positif yang membangun faktor kedua. Yaitu, sistem kekebalan tubuh yang menyembuhkan dari dalam. Inilah sebetulnya sumber kekuatan penyembuhan, yang berkerja otomatis karena secara alamiah dimiliki tiap orang meski kadang tak nyadar. Sistem yang menyembuhkan luka dengan berjalannya waktu asalkan sikap positif itu terus terjaga. Tapi masalahnya sikap seperti itu seringnya timbul tenggelam :|.

Ketika obat eksternal dan internal itu tengah bekerja, maka akan sama aja bo’ong kalau tetap membiarkan luka itu terbuka, terpapar debu yang bisa memperburuknya. Ia perlu diperban, ditutup, diisolasi dari hal-hal yang bisa memperparahnya.

Ketika dalam masa perawatan, istirahatlah dan hindari diri dari hal-hal menyakitkan yang bisa menimbulkan luka baru. Jika satu luka belum sembuh, malah ditambah luka yang lain… :roll:. Misalnya lutut terluka parah, eh malah ikutan lari :P. Begitulah… Tapi bagaimana kalau ada yang ngajak? Yang tahu kondisi hati tubuh adalah sang empunya, jikalau memang dirasa tak bisa katakan tidak. Selorohan “kok ga sembuh-sembuh” mungkin mengusik harga diri, tapi jika hanya dengan alasan harga diri kita memaksa diri sendiri untuk memuaskan orang lain sementara kita sesungguhnya mati-matian menahan sakit lutut ini… Hmm :?. Toh jika ia memang serius menantangmu menginginkanmu menemaninya berlari, harusnya dia mau menunggumu sembuh . Jika memang kau berarti baginya :roll:. Toh demi kesuksesan jalannya acara lari bersama ๐Ÿ˜† , di mana kedua peserta bisa menikmati larinya ;).

Satu lagi, selama proses penyembuhan hindarilah merasakan rasa sakit itu. Bagaimana bisa melupakan jika terus mengingatnya. Sulit memang, tapi rasanya benar juga sih. Karena bagaimana bisa sembuh jika terus menyakiti diri sendiri :roll:.

Dan proses itu akan berjalan seiringan dengan waktu. Cepat-lambat, entahlah mana yang paling bagus… tapi semuanya perlu berproses dan tergantung pada hal-hal yang telah dijelaskan di atas :mrgreen:. Meskipun demikian, dalam berproses itu tidaklah selamanya harus berbaring di ranjang, jikalau memang bisa berjalan ya berjalanlah. Tapi memang harus penuh kehati-hatian supaya luka itu tidak terbuka. Meskipun nampaknya di luar sudah kering, tapi mungkin saja bagian dalamnya masih perih.

Akhirnya, ketika sudah merasa fit, maka berlarilah… Meskipun takut tersandung lagi, tapi yang pasti kita sudah belajar bahwa ada batu ‘ini’ yang nantinya harus kita hindari. Pastinya akan banyak batu lain yang bergelimpangan dan siap membuat diri terjungkal-jungkal, ya… meskipun nanti mungkin akan jatuh lagi, setidaknya sudah punya pengalaman bagaimana caranya menyembuhkan.

Ayo, balapan lari lagi \m/

padahal jogging aja muales bener ๐Ÿ˜›

Advertisements

5 thoughts on “Heal The Wound

  1. Mbak lagi menyembuhkan sebuah luka kah?
    Kalau gitu, mari sama-sama menyembuhkan luka!

    Karena bagaimana bisa sembuh jika terus menyakiti diri sendiri

    *tertohok* ๐Ÿ˜ฆ

    Ayo, balapan lari lagi \m/

    Ayo mbak! Someday I will join you! ๐Ÿ˜›

  2. Sometimes shit happens. Sometimes you have to run faster and faster, and you’re bleeding. No time for healing. But, even heroes have the right to bleed. So yeah, you don’t care. Let leukosit, fibrin, fibrinogen do their job ๐Ÿ˜†

  3. yup, setelah sembuh jangan takut untuk kembali berlari lagi hanya karena pengalaman tersandung batu yg menyakitkan itu

    bukankah Nietzche mengatakan ‘What doesn’t kill you makes you stronger’ ๐Ÿ˜€

  4. yeah you bleed just to know you’re alive

    Sesekali kita memang kudu jatuh koq. Cuman yang paling penting adalah kita kudu tau caranya berdiri lebih tegak dan berupaya tidak tersandung batu yang sama… Tapi bolehlah terguling jatuh oleh batu yang lebih besar lagi *halah* ๐Ÿ˜€

  5. @ Frea:
    Yap, luka jatuh, luka tusuk… hahahaha ๐Ÿ˜›

    Hayuks, jogging bareng \m/

    @ Takodok:
    Berlari sambil berdarah-darah ๐Ÿ˜ฎ

    Let leukosit, fibrin, fibrinogen do their job ๐Ÿ˜†

    *minum suplemen penguat sistem imun* ๐Ÿ˜†

    @ TamaGO:

    What doesnโ€™t kill you makes you stronger

    \m/

    @ Kurotsuchi:

    Tapi bolehlah terguling jatuh oleh batu yang lebih besar lagi *halah*

    Makin sering jatuh, harusnya makin lihai menghindari batu-batu kecil. Maka ketika nanti terjatuh lagi, akibat kesandung batu yang lebih besar. Demikian seterusnya, makin lama batunya makin besar… ๐Ÿ˜€ *meracau*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s