Veronika Memutuskan Mati

Aku melihat novel ini sedang teronggok di antara tumpukkan buku diskonan di Gramedia Grand Indonesia hari Senin kemarin. Awalnya hanya sebuah keisengan ingin mencari satu buku lagi menemani sebuah buku incaran yang sudah tergenggam di tangan, namun ketika aku baca resensi di belakang novel ini tak ragu lagi langsung aku memutuskan membelinya serta.

Novel apa sih itu?

Judulnya adalah Veronika Memutuskan Mati, ditulis oleh pengarang kenamaan Paulo Coelho yang dikenal dengan buku-buku laris semacam The Alchemist. Novel ini mengisahkan Veronika, seorang perempuan muda Slovenia yang belum genap seperempat abad tapi mencoba bunuh diri dengan minum pil tidur. Alasannya untuk mengakhiri hidupnya bukan karena dia depresi dan putus asa karena lelah menjalani hidup yang berat penuh penderitaan, bukan itu. Malah dia mempunyai hidup yang normal, punya pekerjaan yang aman sebagai pustakawati di sebuah biara, keluarga yang menyayanginya, pacar, dan menjalani kehidupan normal seperti yang lainnya.

Tapi mengapa ia ingin mati? Karena rutinias sehari-hari itu membuat tubuhnya bekerja secara otomatis, mengulangi hal yang sama, seperti bangun di pagi hari lalu berangkat bekerja, makan siang di bangku taman yang sama, pulang di sore hari dan menunjungi bar yang sama, pergi ke apartemen pacarnya dan baru pulang ke apartemennya sendiri. Semuanya berulang terus setiap harinya. Sampai tubuhnya mengingat semuanya dan melakukan tanpa perlu diminta, tapi rutinitas itu membuat jiwanya kosong dan hampa. Karena dia merasa hidupnya akan begitu-begitu saja lebih baik diakhiri secepatnya, toh nanti dia akan mati juga.

Setelah ia menenggak sejumlah pil tidur, bukan ke surga neraka (beneran tertulis di sana :P) ia dibawa, tapi justru ICU rumah sakitlah yang menyambutnya. Ia pun terselamatkan, namun kemudian dijebloskan ke rumah sakit jiwa Villete. Villete adalah unit pengobatan yang dibiayai oleh pemerintah untuk perawatan orang yang (dikatakan/mengatakan) mengalami gangguan kejiwaan.

Veronika yang dikatakan gila karena mencoba bunuh diri harus mengabiskan sisa hidup di sana, karena tak lama kemudian ia diberi tahu dokter bahwa mengalami kerusakan jantung akibat obat yang ia telan. Alhasil kini ia harus menunggu mati, dan itu rasanya jauh lebih menakutkan daripada memutuskan akan mati. Veronika ingin membunuh dirinya sendiri dengan mencari obat lagi, tapi niat itu tak pernah kesampaian. Agaknya aku mengerti, menunggu kematian berarti kau kehilangan kendali atas takdirmu. Sedangkan bunuh diri artinya kau yang memutuskan takdirmu, meskipun sesungguhnya kehidupan dan kematian berada di luar kuasa manusia.

Kisah selama Veronika menunggu ajalnya inilah yang menurutku sungguh menarik. Kita dibawa ke dalam perjalanan Veronika mencari jiwa yang sesungguhnya yang selama ini tertimbun dalam jiwa orang dewasa yang membosankan karena menjalani ritme kehidupan yang sama. Pencarian jati dirinya yang tenggelam dalam harapan orang tua atas masa depan yang mereka anggap normal dan bisa menghidupi.

Pencarian ini tidak terlepas dari lingkungan yang dipenuhi orang-orang gila di rumah sakit itu. Namun selama tinggal di sana ia melihat mereka tidak gila, mereka sungguh waras. Dan di sini, sering kali pikiran pembaca ditantang oleh pertanyaan..

apakah itu yang disebut gila?

apakah itu normal?

sebenarnya siapakah yang gila dan siapakah yang normal?

Dan aku selama mengikuti jalan cerita novel ini, ikut bergelut dalam pertanyaan-pertanyaan itu. Sampai akhirnya menangkap sebuah kesimpulan, normal adalah sebuah konsensus dalam masyarakat di mana semuanya menyepakati sebuah nilai yang sama. Orang normal adalah orang yang berlaku seperti orang pada umumnya, sedangkan orang aneh (atau dalam hal ini disebut orang gila) adalah orang yang memiliki kelakuan berbeda dari konsensus umum.

Ada sebuah kisah menarik yang diceritakan oleh Zedka, salah satu tokoh dalam cerita ini…

Suatu ketika ada seorang penyihir yang ingin menghancurkan seluruh kerajaan dengan membuat seluruh penduduk menjadi gila, ia pun memasukkan racun ke sebuah sumur yang digunakan oleh semua orang. Setelah berapa lama, semua penduduk berlaku aneh tidak biasanya, kecuali raja dan keluarganya yang ternyata minum dari sumur yang lain. Raja pun bingung karena semua orang bersikap aneh dan mencoba mengaturnya dengan mengeluarkan peraturan-peraturan baru. Namun justru raja dianggap gila karena membuat peraturan yang tidak masuk akal. Raja pun dianggap tidak pantas lagi berkuasa karena sudah gila! Merasa putus asa, raja pun berniat turun tahta namun ratu mencegahnya dan mengusulkan bagaimana kalau mereka minum dari sumur gila saja. Dan raja beserta keluarga pun akhirnya diterima kembali oleh rakyat karena sudah waras kembali, seperti mereka semua :lol:.

Dan memang demikian adanya, orang-orang gila adalah individu yang memiliki kehidupan yang berbeda dari orang normal. Ia adalah orang yang hidup di dunia yang berbeda, memiliki pikiran yang berbeda, impian yang berbeda, dari orang kebanyakan. Makanya disebut juga perilaku yang menyimpang. Tapi apakah orang itu memang gila dan bagaimana jika sebenarnya orang normal itulah yang gila?

Dan pertanyaan itu kembali timbul.. “Gila itu apa?”

Tapi ada sekelumit makna dari sebuah dialog di novel ini, yang kira-kira intisarinya seperti ini…

Setiap orang yang hidup di dunianya sendiri termasuk gila, yaitu mereka penderita skizofrenia yang membangun dunia baru di kepalanya dan para ilmuan jenius semacam Einstein yang mempunyai pemikiran berbeda dari orang kebanyakan di masanya. Penderita skizofrenia dikatakan gila, tapi Einstein dikatakan jenius.

Lalu apa bedanya antara orang-orang gila yang terkurung di rumah sakit jiwa dengan ilmuan pencetus teori-teori hebat, padahal mereka sama-sama punya pikiran yang bebas lepas tak terbelenggu.

Bedanya adalah orang gila adalah individu yang memiliki dunianya sendiri tapi terbelenggu di dalamnya, dan tidak bisa mengkomunikasikannya dengan dunia luar sehingga tidak ada yang bisa mengerti dan menerima bahwa ia memang sedikit berbeda. Semacam kalau kita berbicara dengan bahasa asing yang tidak dimengerti, atau menulis dengan metafora yang sulit dipahami. Toh itu semua ujung-ujungnya ke masalah persepsi bukan?

Sedangkan mereka yang mempunyai pikiran yang berbeda dari orang kebanyakan dan bisa mengkomunikasikannya sehingga orang lain bisa mengerti dan menerimanya, akan disebut sebagai seorang visioner, cerdas, jenius, karena ia memikirkan apa yang tidak terpikirkan oleh orang kebanyakan. Dan mereka masih ingin menjalin hubungan dengan dunia luar, tidak tenggelam dan tidak terjebak selamanya di dalam dunia maya yang diciptakan oleh pikirannya.

Tapi rasanya setiap manusia memang gila :lol:. Jika definisi gila adalah “berbeda”. Toh setiap individu sesungguhnya berbeda, tapi terkadang takut menunjukkan dirinya berbeda. Setiap orang mempunyai lipatan otak yang berlainan, membuat isi pikiran dua kembar siam pun mustahil sama persis. Tapi karena takut akan penolakan, kita menyamakan diri satu sama lain. Dan akhirnya kau mengaburkan dirimu dalam kumpulan masyarakat yang berpandangan sama.

Satu hal yang membuatku berfikir lagi adalah alasan Veronika bunuh diri (hanya) karena jenuh dengan hidupnya, menurut temanku sungguh mengada-ngada, tapi terkadang kejenuhan itu membuat jiwa ini hampa, tapi sungguh aku tak berniat bunuh diri beneran :lol:.

Maksudku, ketika hari demi hari terlewati begitu saja dan akhirnya berganti tahun, tapi kau tidak merasakannya. Semuanya berjalan otomatis dan normal, lahir, sekolah, kuliah, kerja, menikah, punya keturunan, dan mati. Begitu bukan jalurnya? Okehlah, dalam waktu yang lebih sempit: bangun tidur, kerja, pulang, tidur. Menjalani hidup tanpa esensi hanya rutinitas semata, dan itu membuat jiwamu mati. Itulah yang disebut sebagai kegetiran di dalam novel ini, ditandai dengan bersikap normal miskin ekspresi karena menghindari konflik, membangun tembok tinggi yang melindungi diri dari dunia luar, hidup dalam zona nyaman yang lama-kelamaan memunculkan sikap acuh-tak acuh, memunculkan rasa kebas terhadap ketidakberesan yang terjadi pada dunia dan dirinya sendiri dan menerima semuanya dengan lapang dada. Kita pun merasa waktu berlalu dengan cepat setiap minggu dan suka cita ketika hari sabtu tiba, namun ketika diakhir pekan kita mengeluh bosan, suntuk, dan bete. Tapi anehnya ketika akhir pekan berakhir kita pun sedih, padahal sama sekali tidak menikmatinya. Itulah namanya kegetiran…

Kegetiran karena tak tahu untuk apa kau hidup, dan mungkin saja tidak tahu bagaimana rasanya hidup. Mungkin karena tidak tahu apa yang diinginkan dalam hidup sehingga tidak menjalani hidup yang benar-benar hidup sesuai dengan jiwamu. Seperti halnya manusia yang hidup demi membahagiakan orang lain, menurut apa kata orang yang sudah lebih lama menjalani hidup sehingga agaknya mereka lebih tahu apa yang terbaik untuk hidup kita. Tanpa pernah bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya yang ingin dilakukan dalam kehidupanmu sendiri. Atau terlalu lama terbelenggu dalam hidup normal..

Ketika dunia yang kaulihat terasa membosankan seperti film hitam-putih, dan kau perlu menghadirkan warna lain. Warna itu bisa dirasakan dengan melakukan hal yang gila mungkin. Hal yang keluar dari rutinitas dan dianggap aneh, tapi kau menikmatinya :D. Tindakan yang melanggar zona nyamanmu sendiri, menempatkanmu pada posisi tidak aman. Itu memacu adrenalin yang membuat jantung berdetak cepat dan membangkitkan ritme metabolisme tubuh, dan seketika kau bersemangat, dan merasa hidup pada akhirnya.

Well, pada akhirnya novel ini menamparku untuk tetap merasa(kan) hidup, dengan segala naik turun dan jungkir baliknya. Rasakan semuanya, syukuri semuanya dengan menjaga apa yang masih ada sambil merengkuh mimpi di atas sana. Tanpa terlalu ambil pusing jika dianggap gila, tanpa perlu takut menunjukkan bahwa setiap manusia memang sesungguhnya berbeda.

Get a life \m/

Advertisements

14 thoughts on “Veronika Memutuskan Mati

  1. Tapi rasanya setiap manusia memang gila

    mengutip siggy seseorang,

    There is a thin line between genius and insanity, I have erased this line

    😈
    :mrgreen:

    IMO, kalo ga ada orang2 yg berkorban melakukan rutinitas, maka belum tentu kita2 semua bisa posting di blog seperti ini πŸ™„

    tapi novel ini sempat membuat saya tergoda buat ngambil kemaren, meskipun akhirnya ngambil Moribito :mrgreen:

  2. normal adalah sebuah konsensus

    couldn’t agree more…
    dulu saya sempat kepengen nulis tentang ini tapi mbak Mizzy sudah menuliskannya dengan jelas melebihi yang saya pikirkan.. πŸ˜€

  3. Hai! Saya tersentuh dengan latar belakang keinginan Veronika untuk bunuh diri. Memang itu akibatnya kalau hidup terasa monoton. Membuat bosan, dan rasanya kita ingin lari saja dari kehidupan itu.

    Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak selalu lurus.

  4. rasanya aneh kalo hidup di jaman yang udah menjelang akhir ini kita tidak gila πŸ˜† dan kategorisasinya gila itu subjektif koq, tergantung pada penilaian masing2 individu. dan karena orang2 jaman sekarang itu cenderung subjektif, maka, yaa kita semua ini ‘gila’ πŸ˜† well, yah, intinya sih pengen bilang, term ‘gila’ sekarang jadi ambigu, sama dengan ambiguitas term ‘otaku’ dan ‘autis’ di penggunaannya di jaman sekarang :mrgreen:

    Btw, i recommend you to read a book titled “mereka bilang aku gila” (memoar seorang penderita skizofrenia) karya claire berman :mrgreen:

  5. Yeah…Get a life!
    Setelah membaca tulisan diatas, saya menyimpulkan (halah,bahasanya) πŸ˜›
    Kita baru tahu, sehat itu anugrah saat sudah sakit. Dan tak selamanya kesulitan hidup itu merupakan kesulitan. Dan perasaan bosan adalah yang paling berbahaya.

    gak heran lah ada ungkapan, I’m bored till dead. \m/

  6. @ Arm:
    Kalau ga ada rutinitas, bisa ga ada peradaban yah. Semua orang cepat bosan, ga ada kerjaan yang selesai πŸ˜›

    @ Felicia:
    Ditulis aja, mungkin ada pemahaman yang berbeda dari saya πŸ˜€

    @ Takodok!:
    Banyak mengangkat pertanyaan simple tapi berat πŸ™„

    @ Vicky:
    Life is like a roller coaster.. naik-turun-jungkir balik \m/

    @ quinie:
    Yap, ukurannya jadi relatif πŸ˜€

    Jadi inget salah satu episode di Spongbob Squarepants :D. Waktu itu si Spongbob yang terkenal aneh tiba-tiba berubah seperti orang normal. Etapi sama orang-orang di Bikini Bottom dia malah dikatain aneh banget :lol:. Jadi keanehannya adalah normalnya si Spongbob *belibet* :mrgreen:

    @ Kurotsuchi:
    Dan apakah kebanyakan mikir itu bisa jadi gila? kaya saya ini πŸ™„

    @ Snowie:
    Kadang-kadang perlu melakukan hal menarik untuk membunuh rasa bosan itu \m/

  7. perilaku yg berbeda dari orang2 pada umumnya? nggak normal? aneh? saya lebih suka menyebutnya unik dan berbeda πŸ˜€

    rutinitas yg sama (bangun,beraktivitas(makan,kerja,jalan2), tidur, bangun lagi …) bukan berarti menjalani hidup yg sama lho. Jika diamati isi dari tiap hari itu beda dan punya keunikan tersendiri. If you cant find something special in your day, then make it πŸ˜€

  8. @ dnial:

    there is a thin line between insanity and sanity, I forget where it is… πŸ˜›

    Yep, saya juga πŸ˜›

    @ TamaGO:
    Karena sudah menjadi rutinitas, kadang semuanya tampak sama meskipun sebenarnya banyak detail yang beda sih πŸ˜€

  9. Huaduh.. hanya karena jenuh mau bunuh diri? Ogah deh… πŸ˜€

    Duh, novelnya Paulo Coelho banyak banget yah…
    Mbok yo novel2nya G.P. Taylor, Jonathan Straud, ama Philip Caveney yang banyak diterjemahin…. >.<

  10. Pingback: Time Capsule « White Twilight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s