Tentang Payung

Semenjak langit semakin cengeng akhir-akhir ini, tak ayal lagi akupun dipaksa oleh keadaan untuk sesegera mungkin memiliki naungan, dalam bentuk payung tentu saja karena menurutku kurang gimana gitu kalau cewek pakai jas ujan atau bahkan ponco :P. Aku memang tak punya payung, ya dulu sih ada, yaitu si merah darah yang kemudian langsung cacat tubuhnya setelah tertiup angin kencang :lol:. Memang aku sadar, aku terlalu egois memaksa si merah menerjang badai waktu itu :cry:. Hanya demi pulang on time, aku nekat terjun ke tengah hujan deras yang anginnya kencangnya ampun-ampunan *lebaaaay* :mrgreen:. Singkat kata, itu si merah sudah aku makamkan bersama dengan sampah-sampah yang dibuang.

Aku bukannya tak ingin punya payung baru tapi aku malas sekali belinya :P, padahal aku sering kerepotan dengan ketiadaannnya. Bagaimana lagi, aku itu orangnya memang sering sok nekat dan menyusahkan diri sendiri pada akhirnya. Jika di luar sana hujan lebat, aku lebih memilih berteduh di guaku yang nyaman sambil internetan dan ngemil makanan. Aku pikir toh badai akan segera berlalu dan digantikan oleh langit cerah. Tapi terkadang aku bosan menunggu sementara di luar sana hujan masih turun dengan derasnya. Jika itu yang terjadi, aku akan menunggu sampai hujan sedikit mereda dan dengan nekatnya berlari menerjang hujan gerimis. Tak jarang aku dipermainkan oleh langit, awalnya hujannya sudah kecil eh tapi kemudian deras di tengah jalan. Langit pun paham tabiatku yang sering nekat dan sok kuat, karena aku akan melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah dengan keadaan basah. Lalu kemudian sakit dan diomelin sama orang rumah :P.

Tapi jika terus-menerus hidup dengan cara demikian, akan jadi amat bodohnya aku ini sementara payung banyak tersedia di tempat penjualan. Dan rasanya aku memang harus punya supaya aku bisa lanjut berjalan meskipun di tengah-tengah hujan. Meskipun hujan itu akan berhenti jika ku sabar menunggu, tapi berdiam diri di dalam gua yang hangat hanya akan melemahkan daya tahan diriku. Selain itu aku banyak kehilangan moment berharga yang hanya bisa aku dapatkan di dalam derasnnya hujan. Ya, sambil jalan berduaan (bareng si payung maksudnye), itu romantis-romantis gimana gituuu 😳 :lol:.

Namun, mengacu pada pengalaman-pengalaman sebelumnya *mengingat almarhum payung-payungku*, agaknya aku harus lebih perhatian lagi dengan kesehatan si payung baru ini nantinya. Payung yang telah bekerja keras melindungiku dari derasnya hujan dan kencangnya angin, pastinya harus ku rawat dan ku sayangi :cry:. Misalnya, dengan mengangin-anginkannya dahulu ketika masih basah, bukannya langsung aku tutup dan disimpan di dalam plastik :P, soalnya nanti akan cepat berkarat. Ada lho temanku yang merawat payungnya dengan apik, ia beneran mengelap payungnya yang basah, kalo aku kan biasanya ditinggal begitu saja dalam keadaan terbuka sampai kering.

Payung yang telah memberi naungan, kemudian kita beri perhatian dan perawatan supaya tetap baik kondisinya. Semahal apapun payung itu, tapi jika sembarangan tidak dirawat, ia akan ringkih juga. Dan meskipun payungnya cuma seharga 15 ribuan, tapi jika disayangi dan diperhatikan pasti nantinya akan awet ;).

Payung baru, akhirnya aku beli hari sabtu kemarin. Yak, payung baruku yang biru.. seperti warna langit.. aku namakan Ao-kun (青くん), dari kata aoi (青い) yang artinya biru. Dan kalau kupikir-pikir langit lah tempat bernaung yang sebenarnya, meski ia sering menguji dengan terik matahari maupun derasnya hujan badai.

Advertisements

10 thoughts on “Tentang Payung

  1. waah.. wangsiit sudah tibaa. postingan baru, dua hari berturut-turut! hahaha.. OOT yaa. πŸ˜€

    iyaa Mizzy, kalo hujan badai Ao-kun jangan di bawa keluar, nanti kayak payung merah darahnya.
    Kalo di komik atau film, payung yang di pakai pas hujan berangin bentuknya tertekuk ke atas.
    Bukannya jadi pelindung dari hujan, malah jadi penampung hujan.. :mrgreen:

  2. handle with care… e ini pake urusan naming juga itu ya? πŸ˜› jadi ya sepakat saja lah. kita hargai dan rawat sebaik-baiknya properti kita πŸ™‚

    btw, saya kayaqnya kebanyakan mengkonsumsi filem soal intrik dan konspirasi. rasanya ada hal-hal terselubung dalam tulisan ini 😐

  3. @ mauritia:

    waah.. wangsiit sudah tibaa. postingan baru, dua hari berturut-turut!

    Seingat saya, wangsit itu rajin turun di saat kesibukan saya menggila :P. Teringat postingan lama di blog yg udah jadi almarhum…

    Makin sibuk –> otak makin aktif berkerja –> efek samping: banyak muncul pikiran aneh yang ga ada hubungannya dengan kesibukan awal

    πŸ˜›

    Berhubung saya kalau memikirkan sesuatu itu sering tidak fokus, akibatnya bisa mikir melebar ke mana-mana. Jadi di awal mikirin tentang A, eh tapi wangsit yang didapat malah A, B, C, D… kadang yang A, malah ga dapet penyelesaiannya :P.

    *nah kan! malah OOT* πŸ˜†

    iyaa Mizzy, kalo hujan badai Ao-kun jangan di bawa keluar, nanti kayak payung merah darahnya.

    Iya, supaya Ao-kun awet. Ga gampang loh untuk mendapatkan sesuatu untuk berlindung 😐 baca: malas nyari payung

    @ Frederick Mercury:

    kita hargai dan rawat sebaik-baiknya properti kita πŸ™‚

    Sepakat.. sepakat.. properti harus disayangi dan dirawat.

    rasanya ada hal-hal terselubung dalam tulisan ini 😐

    Ahhh, dirimu terlalu banyak nonton film eh mas :-”

    @ mauritia (lagi):
    Ah, masa’ sih :mrgreen:

  4. Ngomong-ngomong soal payung, payung saya warnanya merah mulu. Dan kemarin dikasih payung baru sama bapak, lebih besar dan kokoh.

    Nah, mari berpayung-payung πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s