Martabak Manis

Martabak manis, makanan kedemenanku yang lain selain mie ayam pangsit, dan ayam bakar, dan mpek-mpek, dan cumi asam manis, dan…. *banyak dah* :lol:.

Martabak manis adalah salah satu makanan yang memorial karenanya hanya aku beli di satu tempat saja, ya hanya di abang-abang jualan martabak di dekat rumahku. Tidak pernah beli (sendiri dan diniatkan) di tempat lain, hanya di sana saja. Yah terkecuali kalau dibeliin orang, kan rejeki mah pantang ditolak bukan :mrgreen:.

Yang membuat martabak manis di tempat itu spesial adalah rasanya, pertama strukturnya yang lembut dan legit, apalagi dengan coklat dan kacang yang melimpah… ugh 😕 *ngiler*.

Dan jika teringat martabak manis, aku selalu teringat rumah :(. Sama halnya dengan mie ayam pangsit yang juga selalu aku beli di dekat rumah. Pasti jika kangen rumah, aku pun kangen dua makanan itu :(.

Semenjak aku ngekos di dekat kantor, alhasil aksesku ke martabak pun amat terbatas. Hanya bisa pulang di akhir pekan, itu pun kalau aku tidak ditahan di kantor untuk kerjaan serba mendadak. Karenanya saat-saat langka yang hanya jatuh dua hari dalam sepekan itu selalu aku manfaatkan untuk menghajar makanan favoritku yang hanya tersedia di dekat rumah.

Sebutlah minggu kemarin, semenjak ngidam selama semingguan akhirnya aku bisa menyantap itu mie ayam pangsit rebus \m/. Puwas rasanya :lol:. Karenanya hari sabtu ini niatnya giliran si martabak manis :oops:.

Tapi, aku tuh adalah orang yang hidup dalam penyangkalan. Misalnya ketika aku rindu seseorang sesuatu, aku menyimpannya dalam-dalam. Berkata, “ah nanti saja… nanti saja… ga apa-apa” terus berkutat dengan pilihan “beli… nggak… beli… nggak…”

Padahal tadi sore setibanya di daerah rumahku, aku lewat di depan itu tukang martabak yang tengah kosong-kosongnya dari pembeli karena baru buka. Dengan loyang pemanggang yang masih baru belum terpakai, memanggil-manggilku untuk memanggang martabak manisku :|.

Tapi.. ya dasar aku orangnya plin-plan yang mikirnya terlalu lama dan rumit, bahkan untuk memutuskan beli martabak :?. Aku menahan rasa kangenku dan berlalu pergi.

Dan apa akibatnya?!!?!! 👿

Aku kangen setengah idup sama martabak manis 😥

Padahal sekarang sudah tengah malam…  😦

Berbeda dengan kawan yang memperjuangkan brownisnya, agaknya aku tak jujur pada diri sendiri jika ngidam martabak manis. Dan yah apa boleh buat aku hanya bisa menunggu sampai besok malam untuk mendapatkan martabak manisku :|.

Dan… ini memang hanya soal martabak manis yang bisa aku dapatkan hanya dengan jalan kaki lima menit dari rumah, dan abang-abangnya pun mangkal di sana. Artinya banyak kepastian, hanya tinggal aku-nya saja mau atau tidak jalan ke sana. Tapi bagaimana jika tentang hal lain… yang hanya melintas sebentar… tapi karena terlalu banyak menimbang dalam keragu-raguan, pada akhirnya melewatkannya dan kemudian hanya bisa menyesal :|.

*berdoa semoga besok malam abang-abang martabaknya tetep jualan*

Advertisements

15 thoughts on “Martabak Manis

  1. It is called terang bulan, milady. 😀

    Entah kenapa saya suka sekali ngetroll tentang masalah penamaan martabak manis vs terang bulan ini. :mrgreen:

    Tapi bukannya mbaknya kerja ga jauh dari rumah? Maksud saya ga perlu nyeberang laut gitu. Kaya saya. 😦 *curcol*

  2. Beda kota, rumah saya di Tangerang sementara sekarang saya ngekos di dekat kantor di Jakarta :|.

    Iya sih, yang tinggal di luar negeri, susah juga ya kalau lagi kangen sama makanan Indonesia :|.

    Btw, di sono ada yang jualan martabak sejenis ini gak?

  3. Jadi gimana, dapat martabaknya, mbakyu? 🙂

    Mungkin karena relatif mudah didapat (tinggal jalan kaki 5 menit nyampe) jadinya sering ada ditunda. Go get him it :mrgreen:

  4. pas ada di depan mata bawaannya bimbang mulu padahal lagi kosong ga ada pembeli, beli nggak ya, ah besok aja deh toh dia mangkal disana tiap malem, lagi males keluar neh, ada pilem bagus, hujan, dan sejuta alasan lain.
    Dan ketika esoknya mau beli si abang udah pindah tempat karena ga ada pembeli dan si eneng langganan cuma lewat ngintip2 doang. Nggak kaya gitu tapi kan ya kejadiannya :p

  5. @ lambrtz:
    Bikin cabang terang bulan \m/

    😛

    @ Takodok:
    Dapaaaaaattt!! 😳

    Yang terasa dekat justru sering dianggap remeh.. “ah, kan dekat. ah kan ketemu tiap hari.” Tapi jika sudah tidak ada, baru terasa berartinya keberadaannya 😀

    *ngigit martabak manis*

    @ Oyen:
    Sama martabak manis kok mbak 😳

    Salam kenal juga :mrgreen:

    @ elia|bintang:
    Kalau saya sukanya martabak coklat kacang \m/. Atau kalau nggak martabak spesial yang isinya coklat-kacang-dan keju. Kumplit gituh 😆

    Salam kenal 😀

    @ TamaGO:
    Untungnya ga gitu sih, si abang-abang tukang martabak masih setia mangkal di situ 😛

  6. ini makanan favorit pas jaman SD, dan saya ingat. ini makanan selingan pas saya mimpin rapat kecil buat konfront langsung sebagai bentuk protes terhadap guru, yang berakhir dengan kami disepak satu persatu pas masuk kelas 😐

    btw, saya masih ngidam es campur pasar kranggan \m/ mizzy mau? ikutlah ke jogja! \m/ 😆

  7. @ Benjamin Sueb:
    Namanya gonta-ganti mulu

    Jogja? Kapan-kapan kepengen ke sono. Tapi ga tau kapan, masih belum diijinken cuti 🙄

    @ Disc-Co:
    Waaa~ Ada juga ya..
    Gimana rasanya? Sama ga dengan martabak Indo?
    :mrgreen:

  8. Namanya gonta-ganti mulu

    kan baru dua kali… 🙄 ntar kalo udah sebelas kali ganti, kasih saya hadiah ya :mrgreen:

  9. Huahuahua, baru mampir ke blog situ.. menggiurkan *ngiler* :mrgreen:

    Wuah, bisa mengobati kerinduan akan martabak manis nih *nyikut-nyikut Lambrtz*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s