Silent Mode On

Akhir-akhir ini merasa amat bising dunia ini. Terhadap koar-koar kosong miskin esensi hanya perwujudan sebuah esistensi. Ketika banyak mulut membahas hal sama, daripada berkata “iya” atau “sependapat” saja, tapi malah mengulang semuanya meski dengan kalimat beda toh intinya sama saja. Bukankah itu pembosoran suara, toh pendapatnya sudah terwakili oleh pendapat sebelumnya. Ketika semua ingin bicara, ingin suaranya didengarkan, tapi tampaknya tak punya iktikad untuk mendengarkan. Dan semuanya pun makin riuh redam oleh keegoisan.

Tapi yah, ini cuma cuap-cuap saya saja. Mungkin normalnya demikian, eskistensi ditunjukkan oleh terdengarnya suara seseorang. Kalau tiba-tiba masuk rumah tanpa bersuara bisa dikira setan, begitulah pengalaman mbak-mbak di kosan saya yang kaget setengah idup ketika saya masuk tanpa bersuara :lol:.

Mungkin sayanya saja yang amat terbiasa kerja sendiri dalam keheningan. Terkurung dalam ruang yang tak ada jam, tanda waktu hanya berpatokan pada terang-gelapnya langit yang mengintip dari celah jendela. Apalagi partner kerja saya adalah seorang anak muda yang cerdas dalam keheningannya. Berbicara seperlunya tapi sarat pengetahuan. Beda dengan saya yang berbicara seperlunya tapi sarat dengan metafora :lol:. Karenanya saya terbiasa dalam modus “silent” :P.

Dan ketika tepapar dunia luar, apalagi dengan betulnya tipi kosan yang dulu meledug, saya merasakan kebisingan itu. Bahkan ketika setiap harinya melintasi pertigaan Carolus di Salemba Raya, dengan kendaraan mengklakson dengan gencarnya padahal jelas-jelas lampu lalu lintas menyala merah. Bagaimana saya tidak merindukan tempat sepi semacam lab atau pun kamar kosan saya tercintah.

Begitulah. Maka karena tiap-tiap makhluk hidup punya peran masing-masing di dalam ekosistem, ketika ada yang bicara maka ada pula yang diam. Jadi biarlah yang bicara terus mengumbar ketidaktempeannya. Sementara biarlah yang diam tidak diketempei ketidaktempeannya.

Bechull? πŸ˜‰

πŸ˜†

Advertisements

6 thoughts on “Silent Mode On

  1. kalau sudah ada yang bicara, saya diam. kalau sudah ada yang marah, saya juga tak perlu marah, karena toh, protes saya sudah diwakili.

    tapi kadang, pas pengen marah pun, saya tetep diam. “enggak baik”. itu kata temen saya.

    silent mode. kalo enggak ditanya, saya enggak bakal jawab. buat apa? males saya. setidaknya itu juga biasa saya lakuin. πŸ˜›

  2. @ dnial:
    Tempe mendoan \m/

    @ Felicia:
    *peluk-peluk* πŸ˜€

    @ Asop:
    Dua-duanya mungkin, itu kalau dalam kondisi terparah :mrgreen:
    Tapi biasanya saya men-disable fitur bicara, sementara kuping tetap siaga πŸ˜€

    @ Kurotsuchi:
    Jiiiaaahhhh.. sama kaya saya eh πŸ˜† *toossss*

    setidaknya itu juga biasa saya lakuin. πŸ˜›

    Ohh, belum dikasih tau ke orangnya tah? 😯

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s