Find The Best Way Back Home

(Gambar diambil dari sini)

Terhitung mulai bulan ini saya kembali menjadi cewek jalanan. Setiap pagi kerjaannya mengejar-ngejar bis jemputan karyawan Depsos yang akan berangkat teng-go jam enam. Makanya harus bela-belain bangun subuh demi tidak tertinggal kesempatan nebeng bis orang dengan biaya yang cuman empat ribuan sekali jalan. Kemudian di sore hari, sekitar jam empatan mulai kelimpungan bingung memutuskan pulang lewat jalur mana supaya tak terjebak kemacetan.

Agaknya perlu dijelaskan, kantor saya terletak di kawasan rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta Pusat. Diapit oleh Kampus Universitas Indonesia di Salemba Raya dan kompleks bioskop dan kompleks jajanan enak Megaria di Cikini Raya. Jadi kalau keluar dari gerbang kantor, jalan kaki ke arah kanan adalah menuju Megaria sementara ke kiri adalah menuju UI Salemba.

Selama nyaris lima tahun menjadi cewek jalanan yang musti mondar-mandir Salemba-Tangerang bahkan Depok, saya sebenarnya sudah mengetahui beberapa jalur alternatif pulang menuju rumah di Tangerang yang bisa dipilih sesuai keadaan:

Belok Kanan

Pertama, jalan kaki dulu ke depan Megaria dan menyebrang jalan menuju halte. Di sana ada dua bis pilihan, yaitu bis non-AC 213 jurusan Grogol-Kampung Melayu dan bis AC P11 jurusan Grogol-Pulo Gadung. Keduanya sama saja jalurnya, dari Megaria menuju Menteng, lalu ke bundaran Hotel Indonesia, Sudirman, Semanggi, Slipi, dan lurus sampai Grogol. Tapi jika diperhatikan semua tempat tersebut adalah titik rawan kemacetan :lol:.

Menteng, adalah tempat bermukimnya orang-orang penting dan tak jarang lampu lalu lintas menyala merah lebih lama demi mempersilahkan mereka lewat. Bundaran HI, Sudirman sampai ke Semanggi adalah satu paket karena memang macetnya biasanya berawal di HI kemudian berakhir untuk sementara di bundaran Semanggi. Setelah itu? Jangan senang dulu, mulai dari depan Taman Ria Senayan sampai Slipi biasa macet juga.

Setelah lewat Slipi sudah bisa bernafas sedikit lega. Nah di depan Plaza Slipi Jaya biasanya saya turun untuk transit dan naik bis yang ke Cimone Tangerang. Kalau transit di sini banyak pilihan, karena bis-bis yang dari Kampung Melayu, Kampung Rambutan, Pulo Gadung, Tanah Abang, Blok M pasti lewat di depan Slipi Jaya. Tapi memang kecil kemungkinan mendapat bis yang kosong dan bisa duduk nyaman, karena bisanya sudah penuh dan berdiri gempet-gempetan. Nah dari Slipi Jaya ini bis tinggal melaju ke arah Tomang dan masuk ke tol Kebon Jeruk. Macet? Yah, dikit :P. Selepas dari Kebon Jeruk sudah lancar untungnya, dan teruslah melaju sampai ke Tangerang.

Nah sebetulnya kalau tidak turun di Slipi Jaya pun bisa, jadi dengan bis 213 itu saya lanjutkan perjalanan sampai ke depan Mal Citraland yang dekat dengan Terminal Grogol. Mengapa tidak turun di terminal saja? Soalnya bisnya suka muter lewat flyover dan kembali ke arah Slipi :P. Jaraknya memang lebih jauh, tapi dari sini bisa naik bis 104 yang langsung ke Perumnas 2 daerah rumah saya. Jadi tidak pake nyambung angkot lagi, seperti halnya jika naik bis yang ke Cimone. Tapi tuh lewat sini juga sama macetnya, terutama di depan Mal Taman Anggrek sampai Citraland. Apalagi bis 104 hanya ada sampai jam 19.30, lewat dari itu sudah deh wassalam.

Belok Kiri

Nah, kalau dari gerbang kantor saya belok kiri menuju Salemba bisa pulang lewat tiga alternatif jalur. Kalau saya menyebrang ke depan rumah sakit Carolus dan naik angkot ke arah Kampung Melayu, di Terminal Kampung Melayu bisa naik bis AC 119 jurusan Cimone, tapi masalahnya bis ini tuh lewat Cawang-Pancoran-Semanggi –Slipi yang sama aje macetnya.

Nah kalau dari Salemba tidak nyebrang jalan, di depan UI saya bisa naik angkot ke arah Senen. Dari terminal Senen bisa naik beberapa bis jurusan Cimone Tangerang. Misalnya, bis 106 yang lewat Harmoni-Biak-Tomang-Kebon Jeruk-Tangerang. Atau alternatif lain adalah naik bis 157 atau 25 tapi dia lewat Harmoni-Roxy-Grogol-Tomang-Kebon Jeruk-Tangerang. Yap, dua-duanya macet juga :lol:. Tapi berdasarkan pengalaman akhir-akhir ini, kalau lewat Biak macetnya tuh parah banget. Lebih cepat lewat Roxy sebenarnya. Jadi bis 157 dan 25 adalah pilihan utama :mrgreen:.

Nah, dari depan UI pun sebenarnya bisa naik busway nanti turun di Senen untuk transit ganti busway yang ke Harmoni, dan dari Harmoni ganti busway lagi ke arah Kalideres. Turunnya di halte Grogol, lalu dari situ bisa naik 104 kalau masih ada, atau bisa juga bis 157 atau 25. Malah kadang-kadang suka ada bis AC 33 jurusan Kota-Tangerang yang juga lewat Grogol. Oya, dari UI sebenarnya ada busway yang langsung menuju Harmoni, malah lebih enak kalau naik itu karena tidak perlu antri dan gempet-gempetan lagi di halte Senen. Penandanya adalah keterangan di depan bis, tertulis besar-besar HARMONI. Eh tapi jangan salah naik seperti seseorang, soalnya ada juga busway jurusan ANCOL, ntar bisa jalan-jalan dulu ke Ancol :lol:. Nah, sebetulnya kalau naik busway bisa saja saya turun di Kalideres. Tapi dari situ ribetnya harus dua kali nyambung pakai angkot lagi, dan jaraknya pun lebih jauh. Apalagi jika malam hari angkotnya sudah syepi dan syerem :P.

Untuk menghindari kemacetan bisa juga diubah variabel waktunya *halah*, maksudnya jam berapa pulangnya. Kalau pulang teng-go jam 16.30, bisa sampai rumah jam 19.30 (3 jam 😮 ). Kalau pulang jam 17.00-17.30, bisa sampai rumah jam 21.00 (4 jam 😐 ). Sedangkan kalau saya pulang selepas magrib, sekitar jam 18.30 sampai di rumah itu jam 21.00 juga. Sama saja toh, malah sambil nunggu kan bisa ngopi sambil browsing, fesbukan, atau chatting :P. Daripada waktu 4 jam dihabiskan total di jalan, mendingan juga 1,5 jam nunggu di kantor dulu sementara 2,5 jam lagi baru deh di bis.

Tapi yah, jalanan memang sulit diprediksi. Meski awalnya sudah memilih jalur yang biasanya tidak macet dan jam pulangnya pun dirasa sudah pas, tapi sama aja macet-macet juga :lol:. Kadang saya juga bingung sebaiknya lewat mana. Malah lebih sering untung-untungan, misal ingin lewat Sudirman eh malah macet parah. Dan besoknya mencoba lewat Senen dan relatif lancar. Karenanya, besoknya lagi saya tetap lewat Senen, eh tapi malah macet buanget dan sampai rumah sudah jam 10 malam. Nah, besoknya lagi lewat mana doms? 😆

Advertisements

10 thoughts on “Find The Best Way Back Home

  1. Woaa… ga kebayang mesti ngabisin 3-4 jam buat pulang ke rumah…
    Lebih cepet dari Cikarang sini pulang ke Bandung, cuma 2 jam… >.<
    Btw saya kalo lagi di Jakarta, ke mana2 naek busway gara2 ngga tau rute angkot maupun bus…
    Kali2 mau donk diajak jalan2 sama Mbak Mizzi 😀

  2. Lebih cepat lewat Roxy sebenarnya

    saya pernah kejebak macet hampir 1 jam afteroffice di perempatan habis belokan harmoni arah roxy. saya pikir kemacetannya sangat tidak manusiawi :{

    anw, saya belakangan selalu pulang malam. kemacetan sudah mulai surut 😛

  3. @ Feli:
    Teringat pernah naik bus Tangerang-Bandung. Kalau dihitung-hitung Tangerang-Jakarta sama waktu tempuhnya dengan Jakarta-Bandung, sama-sama dua jam :P.

    Boleh… boleh… kapan-kapan jalan-jalan yuks \m/

    @ Asop:
    Lebih kejam dari ibu tiri 😆

    @ TamaGO:
    Memang begitu. Pernah dulu dari Slipi ke Slipi Jaya tuh sampai 2 jam, malahan kalau jalan kaki paling 15 menit saja :|.
    Kalau diingat-ingat lagi seru juga ternyata

    @ Jensen:
    Pakai motor? Mungkin lebih cepat. Ah, mungkin yang lebih tau tuh Mas Gentole :mrgreen:

    @ lambrtz:
    Kalau ada tiket gratisan, saya dengan senang hati angkat kaki dari sini 😈

    @ Kurotsuchi
    Oh, kadang macetnya sampai depan ITC Roxy Mas, dan sambung lagi di depan Trisakti sampai Tomang 😆

    Iya, pulang lebih malam bisanya sudah tidak terlalu macet 😀

  4. Hai.. haii nona ^_^
    Kunjungan perdana, rekomendasi dari @jensen_yermi nih..

    Hmmm… jalanan di dpn RSCM ituh adl jalan alternatif saya kalo kebetulan pulang bareng hubby… eh mesti setuju, bioskop metropol tuh kompleks jajanan enak! *ketahuan gembulnya haha* paling suka bakmi yang dipojokan yg sering ada kayak banner kuning buat nutupin jendelanya. Mizzy pernah icip2 disitu?

    Btw soal rute pulang.. Pernah hitung ga brp km jaraknya antara kantor – rumah? Ngeliat perjuangannya yang dahsyat begitu.. gak pengen nge.kos aja non?
    Salut! Gila kuat bgt!

  5. Halo :D. Wah ada Mbak Eka. Saya suka baca cerpen-cerpen di blog Mbak, walaupun blum pernah meninggalkan jejak, hehehe :mrgreen:.

    paling suka bakmi yang dipojokan yg sering ada kayak banner kuning buat nutupin jendelanya. Mizzy pernah icip2 disitu?

    Wah, Bakmie Megaria? Iya memang enak itu. Saya juga suka mampir ke mpek-mpek yang ada di sebelah warung bakmi 😀

    Kalau soal ngekos, iya saya pernah ngekos sampai bulan kemarin, kemudian berhenti dan kembali bolak-balik ke rumah. Sebenarnya kalau jaraknya tuh tidak sejauh waktu tempuhnya, tanpa macet hanya perlu 45 menit saja :D.

  6. weeeewww,, 3jam?? maknyuuz
    pantes masih di kantor nyampe magrib, hehe
    saia yg 1jam naek motor aj udah capek bgt dijalan blom ditambah jengkel ma supir angkot n metromini yang tiba-toba berhenti ngedadak,, belom lagi kudu menebak-nebak kapan bajaj belok (krn g ada lampu sen).. klo dipikir2, menebak-nebak kapan bajaj belok seperti menebak-nebak hati wanita.. *halah*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s