Balada Naik Angkutan

Menyambung cerita tentang pengalamanku sebagai cewek jalanan, kali ini akan aku ceritakan salah satu pengalaman balada naik angkutan. Kejadiannya baru saja, tepatnya kemarin, Selasa malam. Nah mau tau ceritanya? Mari kita lanjutkan…

Seperti biasa, aku berencana mengambil jalur Salemba-Senen-Tangerang karena berdasarkan pengalaman jalur itu lah yang paling nyaman. Dari Salemba aku naik angkutan jurusan Kampung Melayu-Senen. Setibanya dekat Atrium Senen, aku turun dan menyerahkan ongkos ke si Abang. Namun si Abang pun marah, geram. Apa pasal? Karena duit limapuluh ribuan yang aku sodorkan tidak ada kembalian. Iya sih, wajar mengingat ongkos yang seharusnya aku bayar hanya dua ribuan. Tapi mau bagaimana lagi, Bang! Duit yang tersisa di kantongku hanya selembar itu doangan.

Tapi kemudian apa yang aku persoalkan? Reaksi si Abang yang membentakku benar-benar membuat aku geram. Tapi, seperti biasa, masih kupasang ekspresi datar sambil masuk kembali ke angkutan dan melaju menuju dekat pintu terminal. Di sana bisa kutukarkan itu duit limapuluh ribuan ke tukang gorengan. Setelah membayar, aku berjalan lanjut berjalan. Karena gara-gara harus menukarkan uang, aku harus berjalan lebih jauh ke depan Atrium Senen untuk menunggu bis jurusan Tangerang. Saat itu, perasaanku masih geram. Namun ketika amarah itu perlahan-lahan menghilang, kemudian digantikan sebuah pemakluman bahwa kesalahan berada di aku yang tidak menukarkan dahulu itu duit pecahan besar padahal ongkos yang harus dibayarkan hanya dua ribuan.

Setelah tiba di depan Atrium ternyata sudah ditunggu oleh bis yang aku harapkan. Aku pun senang riang. Segera kududuk di pinggir jendela, sambil menikmati panorama lampu jalan. Ketika si Abang kenek meminta uang, aku sodorkan satu lembar dua ribuan dan lima logam seratusan. Si Abang, alih-alih mengambil seluruh uang itu dengan senang hati, malah hanya meraih lembaran dua ribuan. Sementara lima logam uang seratusan ia cuekin dan menyuruhku menyediakan satu logam lima ratusan. Kalau aku memang punya, pasti aku kasih. Tapi apa daya, hal itu di luar kemampuanku. Dan jika dipikir-pikir sama saja nilainya toh, antara lima logam seratusan satu logam lima ratusan. Ia menuntutku memberikan apa yang tidak bisa aku berikan, meski di lain pihak aku telah menawarkannya dengan nilai yang sama walaupun tidak sesuai dengan bentuk yang ia harapkan. Kemudian apakah yang terjadi? Mau tak mau dia mengambil apa yang aku tawarkan, meski sambil lalu aku masih mendengar seburat kekesalan.

Dalam perjalanan, pikiranku melayang terhadap dua macam kejadian barusan. Di kejadian yang pertama kesalahan terletak padaku yang tidak bersesuaian dengan kemampuan abang supir angkutan. Sementara yang kedua, abang kenek menuntutku memberikan apa yang tak bisa aku berikan. Seketika kesal di dada pun memudar perlahan-lahan, apalagi mengingat bis ini bukanlah tujuan akhirku. Meskipun aku akan menaiki bis ini dalam jangka waktu yang lama, pasti aku akan mencari bis lain yang menghormati dan menghargai penumpangnya.

Setiba di Islamik Tangerang, sudah larut malam gara-gara macet tentu saja. Dan sialnya, sudah tidak ada lagi angkutan yang akan membawaku ke akhir tujuan. Ada juga angkutan lain berwarna putih, yang kemudian harus menyambung lagi dengan sekali kali naik angkutan lain yang berbeda. Binun, kan? Bisa juga naik angkutan tersebut, tapi setelah aku perhatikan sejenak gelagatnya, mereka adalah tipe-tipe yang suka ngetem sampai seluruh bagian mobil disesaki penumpang. Tipe seperti ini sungguh bikin kesal, apalagi ketika sudah larut malam yang menuntut aku segera cepat pulang.

Anehnya, seketika itu terbersit sebuah ide cemerlang. Bagaimana kalau aku jalan!! Maksudku, jalan sendirian menyusuri trotoar Lippo Karawaci yang jika malam diterangi temaram lampu jalan dan kelap-kelip lampu warna-warni yang menghiasi pepohonan. Toh, rasanya, daerah itu aman.

Jadi kulepaskan dipendensi terhadap angkutan, dan sepenuhnya kuletakkan tujuan di atas kaki-kakiku yang hari itu untungnya tidak pakai sepatu hak tinggi. Yap, berjalan dengan kakiku sendiri. Rasanya, awalnya, adalah aneh. Tahu kan, jika biasanya aku menumpang angkutan yang sepenuhnya aku letakkan nasibku pada Abang supir. Tapi ketika berjalan begini, aku jadi menyadari banyak hal yang luput dari perhatianku selama ini ketika masih menumpang Abang supir. Temaram lampu jalan yang tampak cantik dengan warna kuning pucat menerangi sebagian pekarangan gedung yang tinggi menjulang. Juga romantisnya suasana Benton Junction, sekumpulan café outdoor yang diterangi temaramnya lilin.

Suasana Benton Junction di Waktu Malam (Gambar diambil dari sini)

Tapi tentu saja, aku sadar tak bisa selamanya berjalan sendiran. Tujuanku sangat amat jauh dan sulit jika hanya ditempuh dengan kaki saja. Bukannya tak ada yang menawarkan tumpangan. Selama perjalanan, ada dua motor yang berhenti menawarkan tumpangan. Entah tukang ojek atau bukan, yang jelas aku tak berani menerima ajakan yang tak jelas maksud dan tujuan.

Aku berjalan, bukan berarti selamanya tak akan pernah naik angkutan. Aku hanya mencari angkutan yang sesuai dengan kriteria yang telah aku tetapkan. Menurutku kriteria itu penting, terutama untuk menghindari penyesalan salah mengambil keputusan. Meskipun demikian kriteria itu telah disusun sedemikian rupa sesuai dengan skala prioritasnya. Makin ke atas, prioritasnya makin diutamakan dan tak bisa ditawar. Sementara kriteria lain yang berada mulai di urutan kesekian tentu bisa dikompromikan. Dengan demikian aku mengaharapkan, keputusanku untuk memilih tumpangan masih mencakup kriteria utama yang meyakinkan diriku. Dan pada akhirnya membuatku bertoleransi dengan segala macam hal-hal yang tidak tercantum dalam kriteria yang telah kususun, namun itu membuat hari-hariku lebih berwarna… 😯 … mulai ngelantur..

Balik lagi.. 😛

Angkutan yang aku harapkan bukan berarti mustahil aku dapatkan. Karena ketika aku memutuskan jauh berjalan, aku sudah punya pengetahuan sampai di tempat tertentu aku bisa mendapatkan itu angkutan. Yap, sampai di depan pintu belakang Mal Karawaci tampak angkutan warna kuning berjejer menunggu penumpang. Yap, kriteria pertama adalah jurusannya Lippo-Annisa, angkutan dengan warna cat kuning. Kesesuaian tujuan adalah hal yang sangat penting, bukan? Hal yang sejak awal harus disesuaikan dan mulai dikompromikan. Bukan ketika sudah terlanjur naik, penumpang dan supir berantem di tengah-tengah perjalanan menentukan musti belok kiri atau kanan.

Pokoknya, angkutan ini lah yang akan membawaku ke depan pintu gerbang gang. Tapi, bagaimana aku bisa memilih ketika aku tak mengenal baik tabiat mereka yang kuharapkan sesuai dengan kriteriaku yang kesekian-sekian. Kemudian aku memilih sebuah angkutan yang menyediakan ruang kosong di depan, tepat di sebelah pak supir. Aku suka duduk di tempat itu, karena lapang dan tak ada orang lain kecuali aku seorang. Eh, jangan salah, kalau si supirnya mau, ia bisa menjejalkan 2 orang di sisinya. Tapi saat itu, di dalam mobil angkutan itu, di sisi pak supir hanya ada aku seorang. Langsung saja aku kunci pintu untuk mengamankan posisi… muahahaha *eh*. Beruntungnya aku karena angkutan itu tidak ngetem terlalu lama, dan langsung melaju meski hanya berisi tiga penumpang saja.

Malam telah larut, tapi aku merasa aman berada di dalam angkutan yang aku rasa nyaman. Sesampainya di rumah, kaki telah pegal karena berjalan, tapi.. tapi tak ada tapinya :lol:. Eh bukan, tapi lumayan bisa merasakan sekilas romantisnya Benton Junction dalam temaram lilin di bawah lampu jalan.

Pada akhirnya, tiada yang aku sesalkan. Kejadian-kejadian barusan hanya aku bikin jadi bahan buat senyam-senyum dan curhatan di postingan blog yang sudah lama terbengkalai. Yah, biarin deh yang sudah terjadi terjadilah, yang penting sudah sampai dalam keadaan utuh. Dan kemudian aku langsung terlelap, menanti hari esok yang mungkin juga akan penuh kejutan.

Advertisements

6 thoughts on “Balada Naik Angkutan

  1. Walaupun cerita tentang angkutan, entah kenapa waktu membacanya rasanya seperti bukan membaca cerita tentang angkutan 😆
    Btw,
    pertamax! \m/

  2. fotonya bagus, scene-nya mengingatkan gw akan sebuah area di Utrecht yang tahun kmrn gw lewatin tiap hari :D.
    ada yang tau gak, dimana lagi tempat di seputar Jakarta/Depok dengan scene kayak gitu, dan gak terlalu crowded 🙂

  3. @ Felicia:
    😆

    @ udin:
    Kalau kafe outdoor bernuasa eropa, mungkin di daerah sekitar Kota Tua ya, serasa di jaman kolonial :lol:. Tapi daerah itu memang relatif ramai apalagi kalau weekend, jadinya serasa kaya di Indonesia lagi deh :P. Nah kalau di daerah Depok, gw ga tau. Jarang berkeliaran di tempat-tempat lain, cuman tau daerah UI-Margonda :P.

    @ Asop:
    :mrgreen:

  4. bahagianya tinggal di luar Jakarta….. 😎 :mrgreen: 😛

    *etapi sama aja ding angkotnya suka ngetem dan bikin macet L:|

    btw, ngga coba bawa seli (sepeda lipat)? naik busway sampe ke halte terdekat, terus memberdayakan kaki untuk menggoes sepeda? 😀

    *pernah liat orang nenteng seli di busway*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s