Jalan-jalan ke Tangerang

Di bulan puasa begini, ajakan untuk berbuka puasa bersama dengan teman-teman memang buanyak. Mulai dari teman kantor, kuliah, les bahasa Jepang, SMA, SMP, bahkan SD :lol:. Sebagai yang punya hobi makan, tentu saya amat menyambut baik ajakan itu. Apalagi kalau gratisan ;).

Etapi berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang minimal sesi buka puasa dengan teman kuliah sering datang, untuk tahun ini saya malah cuman ikut buka puasa dengan teman SD. Terhitung sudah hampir 14 tahun saya putus kontak dengan teman-teman SD, kecuali beberapa teman yang juga masuk SMP dan SMA yang sama. Jadi.. jadi.. apa yang telah mempertemukan kami? Fesbuk lah ;). Dan lewat fesbuk ini teman-teman saya tetep keep in touch. Malahan mereka ini nyatanya sejak lima tahun terakhir selalu mengadakan acara buka puasa bersama. Saya aja yang tidak tahu :lol:.

Acara buka puasa ini terasa sangat spesial, buat saya. Mengapa? Selain karena ini adalah kali pertama saya berjumpa kembali dengan teman-teman SD, acara buka puasa ini pun diadakan di Tangerang \m/. Meskipun orang Tangerang, tapi kalau ditanya tempat-tempat di wilayah kota Tangerang, jujur saya tidak tahu. Rumah ibu saya berlokasi di Karawaci yang lebih dekat akesnya ke Jakarta Barat. Jadi palingan tuh yang saya tahu hanya daerah Lippo Karawaci, atau yang lebih ke sonoan dikit, yaitu daerah Serpong. Itu pun hanya Mal-nya saja :lol:.

Padahal SMA saya dulu berada di kota Tangerang, sebelahnya Stadion Benteng markas Persita/Persikota, yang sering jadi korban kalau ada tawuran antar sporter. Dan perjalanan dari rumah ke sekolah memakan waktu sekitar 45 menit, cukup untuk mengenal seluk-beluk wilayah strategis di kota Tangerang, macam kantor pos, kantor Polres, Mall, Gym, dan sebagainya :D. Nah sejak lulus SMA, jarang sekali saya main-main ke Kota Tangerang, walaupun tempat tinggal saya di Tangerang :P. Pernah dulu, kira-kira dua tahun yang lalu saya pergi menghadiri buka puasa di gedung SMA, dan diwarnai dengan acara nyasar :mrgreen:. Jalanan sih masih ingat, tapi trayek angkutan umum sudah jauh berubah. Jadi yah, bisa dibilang malah tidak familiar juga.. :|.

Nah untuk acara buka puasa SD ini, lokasinya adalah di sebuah restoran seafood di tepi sungai Ciliwung-Cisadane. Awalnya, sempat agak was-was juga sih, soalnya dulu sungai ini lumayan kotor dan banyak sampah. Etapi sekarang malah berubah jadi begini…

Bantaran sungai yang dulunya banyak tumpukan sampah kemudian dirapihkan dan dibuat pagar pembatas serta jalan setapak. Kan jadinya terlihat bersih, rapih, dan nyaman :D.

Kalau sore hari, jalanan ini banyak tukang jajanan. Apalagi bulan puasa begini, tempat itu diramaikan oleh penjaja makanan khas berbuka puasa, seperti kolak, pacar cina, kue-kue, dan sebagainya. Dan rasanya enak kali ya jalan-jalan sore di sana sambil cari makan :P.

Bayangkan! Makan semangkok bakso dan es jeruk sambil menikmati senja di pinggir sungai. Asik juga kan :D. Malah malam harinya sebeberapa anak-anak kecil main kembang api, dan terlihat indah sekali pantulan kembang api di atas permukaan sungai. Tidak sebanding dengan nonton kembang api hanya dari atap rumah deh :P.

Anyway, setelah puas bernorak-norak menikmati panorama pinggir sungai sendirian. Langsung saya menuju restoran seafood tempat acara yang letaknya tak jauh dari sana. teman-teman saya belum datang, hanya ada cumi goreng tepung, udang rica-rica dan ikan kakap goreng yang menanti saya :D. Eh tapi saat itu belum buka puasa >,<.. 😆

Demikianlah, acara jalan-jalan dan makan-makan di Tangerang. Sebuah Kota yang sudah hampir 21 tahun saya tinggali, tapi karena tinggalnya di daerah pinggiran alhasil jadi ndeso juga kalau pergi ke kota. Ya nyasar lah, bingung lah, atau terkesima dengan betapa berubahnya kota itu. Mungkin kapan-kapan asik juga jalan-jalan, sambil membandingkan penampakan kota di jaman sekarang dengan kilasan memori yang tersimpan di sudut kenangan :mrgreen:.

Advertisements

9 thoughts on “Jalan-jalan ke Tangerang

  1. Ah, saya dulu setelah lulus SD di Ponorogo pulang kampung ke Jogja, sementara temen-temen lain either lanjut SMP di sana atau ke kota tetangga macam Madiun. Jadi putus hubungan dan sekarang cuma segelintir yang ketemu di Facebook. 😐

  2. @ lambrtz:
    Acara kemarin itu juga cuma dihadiri 11 orang saja, belum disebut reunian juga sih. Sementara teman-teman yang lain berhalangan datang. Susah sih menggumpulkan semuanya, masing-masing sudah punya acara dan ke sibukan sendiri-sendiri :D.

    @ TamaGO:
    Betul :lol:. Malah saya juga tak dikenali oleh teman-teman saya itu :P.

  3. OMG aku kok kagak tahu sih ini? Hahaha sama juga sama gak ngertinya soal tempat-tempat menyenangkan di tangerang kecuali empirenya James Riyadi. Btw, dikau tau pasar modern karawaci? Hihi kemarin ngabuburit ke belakang Harkit. Aneh! 😀

  4. ^

    Ooemji, aku belum pernah ke pasar modern karawaci :lol:. Padahal rumahnya di daerah Karawaci *memalukan*. Sering lho ngeliat angkot yang di kaca belakangnya ada iklan: “Kami Akan Mengantarkan Anda ke Pasar Modern Karawaci”. Tapi tempatnya pun aku tidak tau dimana :P.

    Btw, gimana tempatnya? Udah rame kah? Banyak jajanan enak kah? :mrgreen:

  5. tempatnya aneh; aku rada kesal sih. 20 tahun lalu itu tempat aku ngobak di kali. semuanya bersih; cuma tanah dan pohon. tidak ada limbah.

    udah agak rame tapi belum hidup betul. kayaknya bakal gagal. seperti orang yang mau hidupin mitra; lippo terlalu tangguh.

  6. Teman SD kah?
    Aku pindah SD sampai 2 kali, jadinya kalau dihitung-hitung teman2 SD ku 3 kali lipat dari 3 SD berbeda (semuanya di Belitung, cuma beda kampung dan desa). Sayangnya karena masing-masing terlampau singkat waktu perkenalannya, tak semuanya kuingat baik nama apalagi tampang mereka sekarang. Lagipula 3 SD itu semuanya di kampungnya kampung. Yang masuk daftar fesbuk hanya teman2 SD yang berimigrasi dari Belitung ke kota besar kayak Jakarta dan sekitar, Bandung, dll. Sisanya yang tetap ngedon di Belitung tak tahu lagi kabarnya. Mungkin jika mau maksa dibilang reuni, paling teman2 yang ada dikampung tinggal manggil satu sama lain buat ngumpul di warung kopi :mrgreen:

    Btw, dulu saya tinggal di Jatiuwung waktu numpang kerja di Tangerang. Setahun tinggal disana rasanya koq nggak betahan ya?

  7. Di perumnas memang perumahan padat penduduk, kalau masnya tidak terbisa dengan keramaian mungkin juga tidak betah. Apalagi banyak angkot, kalo hujan becek, ga ada ojek.. *eh* 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s