Recipes for a Perfect Marriage

Buku resep, tertulis, “untuk menciptakan pernikahan yang sempurna”. Isinya, memang resep-resep masakan mulai dari roti sampai daging ham panggang, untuk melanggengkan pernikahan karena keluarga perlu diberi makan. Diselingi cerita dua perempuan beda generasi: seorang cucu yang tengah merasa menikahi laki-laki yang salah, karena memutuskan menikah lantaran kepepet umur ditambah ada seorang laki-lagi ganteng nan baik hati yang jatuh cinta padanya. Tapi setelah ia sadar dari mabuk pernikahan, dia menemukan dirinya tidak cocok dan tidak mencintai laki-laki yang telah jadi suaminya itu.

Pada hari pernikahan, dia dihadiahi buku harian neneknya yang telah meninggal. Si cucu mentauladani pernikahan kakek dan neneknya sebagai pernikahan yang sempurna, karena keduanya selalu tampak saling mencintai dan tidak pernah ribut. Tapi apakah demikian? Nyatanya mereka menikah karena dijodohkan. Cinta sejati neneknya adalah seorang lelaki yang tidak jadi menikah dengannya karena keluarga neneknya itu tak bisa membayar mas kawin yang teramat mahal. Karenanya sepanjang usia pernikahan, neneknya terus menyimpan cintanya yang tak sampai itu. Ironis, sang nenek baru menyadari sudah tumbuh cinta terhadap suaminya ketika suaminya telah meninggal.

Buku ini mengisahkan kehidupan si cucu dan buku harian nenek secara bergantian. Diselingi oleh resep-resep makanan lezat yang bisa memanjakan lidah suami tapi tidak menyelesaikan persoalan. Yup itulah yang dilakukan oleh dua perempuan tersebut, memasak, membereskan rumah, melayani kebutuhan seksual suami, menjalani kehidupan layaknya orang menikah. Mereka mengakui, pekerjaan rumah tangga adalah pelarian sempurna untuk membuat diri yakin bahwa kehidupan rumah tangga akan baik-baik saja. Kasarnya begini.. meski masalah rumah tangga tidak beres, setidaknya rumah beres. Ketika sedang cek cok dengan suami, buatkan ia makanan lezat, lalu layani kebutuhannya, dan suami pun tidak akan marah lagi. Berhasilkah? Jika iya, mustahil keduanya terjerat dalam masalah yang sesungguhnya sederhana tapi menjadi rumit karena tidak diselesaikan.

Satu hal yang membuat saya simpati, adalah suami-suami mereka yang baik, sabar, penyayang, tapi tidak mendapatkan hati istrinya. Terutama salut dengan kakek, yang mencintai istrinya meski tahu istrinya masih terobsesi dengan laki-laki lain. Si kakek tidak merasa cintanya tak berbalas, ia merasa dicintai istrinya dengan makan-makanan yang dibuatkan oleh istrinya itu, dengan suasana rumah yang rapih dan teratur. Karena baginya seseorang tak bisa melayani dan mengabdi dengan tulus jika bukan karena cinta. Kebijaksanaan itulah yang disadari oleh si nenek, di saat suaminya telah menghembuskan napasnya yang terakhir setelah nenek untuk kali pertama dan terakhir bilang “aku mencintaimu” dengan tulus kepada suaminya itu :(.

Secara keseluruhan novel ini kembali memperkuat sebuah quote..

Perempuan kadang lebih mencintai pernikahan itu sendiri daripada orang yang (akan) menikahinya.

Dan ketika semua sudah terlanjur, si laki-laki yang tidak tepat itu terlanjur sudah jadi suami. Perempuan mempunyai pilihan untuk pergi dan mengejar cinta sejatinya yang jelas-jelas sudah melarikan diri darinya. Atau tetap bertahan dalam kepastian, ketika pernikahan itu cukup beralasan untuk dipertahankan. Suami yang baik hati, penyayang, setia, tanggung jawab, rasanya cukup beralasan untuk dipertahankan daripada mengejar kembali mantan pacar yang berengsek, tukang selingkuh, apalagi kalau sudah jadi suami orang.

Jadi jika beras sudah jadi bubur, jadikan saja bubur ayam spesial: Ditambah kecap, kaldu, suir-suir ayam, kacang, daun bawang, kerupuk, emping.. Duh sangat menggiurkan kan 😳

Gambar diambil dari sini

Advertisements

9 thoughts on “Recipes for a Perfect Marriage

  1. Sejak kecil ga suka, eneg :-&
    Kalau buburnya diganti nasi mau lah.

    Anyway,

    suami-suami mereka yang baik, sabar, penyayang, tapi tidak mendapatkan hati istrinya

    Kok ya gimana gitu. 😐

    Human relationship is so oh complicated, beyond my understanding…

  2. quotenya itu…. belakangan ini saya mulai mengamininya. u_u
    Lingkungan seolah memaksaku berfikir ‘bagi seorang perempuan, yg penting itu pernikahan’…
    Dan, dgn pemikiran tsb, ada wanita-wanita ‘idealis’ yg rela mengorbankan diri demi keutuhan pernikahan, apalagi jika sang suami adalah seorang yang penyayang, pengertian dan baik hati…

  3. :: lambrtz

    …banyak saya melihat, para istri tersebut akhirnya jatuh cinta dan luluh pada suami yang penyayang dan sabar tersebut… Entah itu tepat pd waktunya atau setelah sang suami pergi..

  4. @ lambrtz:
    Begitulah :P.

    @ Snowie:
    Saya pun tak paham bagaimana semestinya. Karena kadang proses itu terjadi secara tiba-tiba tanpa kita sadari, tahu-tahu kita sudah terjebak dalam sebuah kondisi tidak ideal. Di satu pihak pernikahan adalah penting, ibu saya pun selalu was-was kalau anak perempuannya ini belum ada tanda-tanda ke arah sana di umur sekian ketika gadis-gadis lain sudah naik pangkat menjadi “Nyonya”. Kita pun tak memungkiri dengan berlalunya waktu dan jodoh impian itu belum datang juga, kita mulai berkompromi dengan keadaan. Saya pun tak tempe mana yang lebih baik, apakah tetap idealis atau realistis. Tapi apapun jalan yang dipilih, tentu sebelumnya harus sadar dan siap akan konsekuensi yang menyertainya :mrgreen:.

    @ Gentole:
    Bechull!! \m/

    Di PAM ada bubur ayam yang enak lhoo… Pernah nyoba? :mrgreen: *lospokus*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s