Eleven Minutes

Awalnya agak bingung juga saya menyusun kata-kata untuk membahas isi novel karya Paulo Coelho ini. Saya agaknya terpaku dengan keinginan membuat sebuah tulisan dengan bahasa lebih halus dan tidak terkesan vulgar. Padahal novel ini berkisah tentang hal-hal tabu di masyarakat, semacam seks, persetubuhan, orgasme, dan pelacuran. Hal-hal yang mungkin ketika orang mendengarnya saja sudah langsung memberikan label “dosa”, “haram”, “zinah”, dan sebagainya. Padahal makna yang tersirat di cerita ini tak sedangkal itu, dan jujur pikiran saya menjadi lebih terbuka karenanya. Dan kalau dipikir-pikir jika awalnya saja pikiran saya sudah terkekang oleh stigma “dosa” ataupun “vulgar” dan lain-lain, tulisan ini mungkin akan mengarah ke sana jadinya :lol:. Tapi toh soal tabu maupun vulgar hanyalah persepsi masing-masing orang saja 😛 .

Cerita ini berkisah pada suatu masa hiduplah seorang perempuan cantik berkebangsaan Brazil, Maria namanya. Sejak remaja dia sudah tak yakin dapat menemukan cinta. Bukan berarti Maria tak pernah bergaul dengan laki-laki tetapi justu ketika dia terus berganti-ganti pacar hal yang namanya cinta seakan-akan berada di luar jangkauannya. Pernah terpikir cinta mungkin bisa dirasakan dengan kepuasan saat berhubungan badan, tapi dari sekian banyak pacar-pacar yang ditidurinya tak ada yang memberinya orgasme seperti halnya dia masturbasi sendiri. Sampai pada akhirnya Maria berkesimpulan tak ada peran penting bagi laki-laki dalam sebuah hubungan seksual.

Ketika sedang berlibur di Rio de Jenairo, secara kebetulan ia bertemu dengan lelaki berkebangsaan Swiss yang mengiming-iminginya menjadi artis terkenal. Dengan mimpi merengkuh ketenaran, harta, dan mungkin cinta yang ia yakini dapat dijumpai di sana, Maria menerima tawaran itu. Tapi nyatanya janji itu hanya kosong belaka, dan demi menyambung hidup Maria memilih menjalani profesi sebagai pelacur.

Berprofesi sebagai pelacur, seperti profesi-profesi lainnya, dibutuhkan dedikasi dan profesionalisme. Maria sadar akan daya pikatnya, cantik dan misterus seperti tak butuh laki-laki. Hal itulah yang menarik minat laki-laki padanya. Sebagai wujud dari profesionalisme, dia menerapkan batasan untuk dirinya sendiri dengan menutup hatinya rapat-rapat agar tidak jatuh cinta, apapun yang terjadi ia tidak akan merusak keutuhan rumah tangga klien-kliennya, serta ia tidak akan berciuman dengan klien-kliennya itu karena ciumannya hanya untuk laki-laki yang dia cintai. Dia juga membaca berbagai buku dan koran untuk memperluas pengetahuannya. Karena ia sadar, menjadi pelacur tak hanya melayani kebutuhan seksual kliennya, yang jika dihitung-hitung sebenarnya hanya sekitar “sebelas menit”, tapi lebih kepada melepaskan beban batin para lelaki. Lelaki-lelaki itu kadang hanya butuh teman bercerita dan memberi pendapat, dan butuh perempuan untuk membuktikan kejantannannya. Untuk urusan yang terakhir itu, seorang pelacur berkebangsaan Filipina memberitahunya agar ia mengerang dan berteriak meski kenyataannya dia tak merasakan apa-apa. Semuanya demi melayani dan memuaskan laki-laki yang telah membayarnya, meski dengan bayaran yang teramat murah untuk sebuah harga diri.

Terkadang mungkin kita jadi bertanya-tanya apa alasan mereka terjun ke dunia semacam itu. Mengapa para pelacur itu tetap melacur bertahun-tahun lamanya. Jika alasannya adalah karena terhimpit keadaan, toh pilihan pekerjaan tak hanya ini saja. Mungkin saja dengan alasan mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Jika niatnya memang untuk mendapatkan uang, jika ditabung lama-kelamaan uang akan terkumpul dalam jumlah besar dan alasan tersebut menjadi sirna dan mereka bisa meninggalkan profesi itu. Tapi pada kenyataannya, banyak perempuan menjalankan profesi sebagai pelacur bertahun-tahun lamanya. Apakah mereka tak tahu itu adalah dosa? Entahlah. Seperti pengamatan Maria terhadap teman-teman seprofesinya, mereka taat beribadah dan rajin datang ke gereja untuk menikuti misa, padahal mereka berprofesi sebagai pendosa.

Pendosa yang berprofesi melayani dan membuat orang senang, dengan imbalan uang tak seberapa yang tidak akan pernah cukup menebus harga dirinya. Bandingkan dengan orang-orang bergaji besar berlabel “terhormat” yang katanya menyuarakan keinginan rakyat, tapi nyatanya lebih sering tidur di gedung miring dan baru semangat ketika akan dibangun fitness center dan spa… bah :lol:. Bisa jadi kita berpendapat pelacur jauh lebih hina, karena menjual harga dirinya. Tapi toh harga diri tak hanya melulu soal urusan seks semata.

Demikianlah kehidupan yang dijalani oleh Maria, dia memasang tembok tinggi yang menghalangi dirinya tersentuh oleh cinta. Sampai suatu ketika dia bertemu dengan dua “klien khusus” yang memperkenalkannya dua sisi yang berbeda. Cinta yang terang benderang, dan di lain pihak penderitaan yang menjadi kenikmatan.

Ralf, seorang pelukis terkenal yang tak sengaja bertemu Maria di sebuah restoran kemudian ia meminta Maria menjadi model lukisannya. Ralf jatuh cinta pada cahaya yang dipancarkan oleh sosok Maria, meski Maria mati-matian tak percaya ia bisa memancarkan cahaya. Ralf meminta Maria mengajarkannya “sesuatu” yang ia sendiri tidak pahami, hal yang hilang dan membuatnya tidak bergairah lagi dengan seks. Agak panjang jika dijelaskan di sini sebenarnya, mungkin jika anda tertarik silahkan membaca sendiri :mrgreen:.

Seorang lagi, Terence, seorang aktor membawanya kesebuah sisi gelap dari kenikmatan dan sekaligus sisi terang dari penderitaan. Mungkin anda pernah mendengar sadomasokisme, sebuah penyimpangan seksual di mana kenikmatan diperoleh dengan saling menyakiti (atau lebih seringnya menyakiti pasangannya). Tapi jika yang disakiti pun merasakan kenikmatan, awalnya saya pikir itu tak masuk akal :?.

Di sela-sela ceritanya, Paulo Coelho menyisipkan asal usul munculnya sadomasokisme. Mulai dari orang-orang yang rela dicambuk tubuhnya demi membebaskan penduduk dari wabah penyakit yang menjangkiti penduduk Eropa di jaman dahulu. Pada sejarah Kristen di abad keempat, juga ada kisah para santo yang rela dirinya dicambuk untuk mengusir roh jahat. Sejak jaman dahulu, manusia sadar pengorbanan seseorang dapat menyelamatkan manusia lainnya. Dan sesakit apapun penderitaan, jika bisa dihadapi dengan tegar, bisa menjadi sarana pembebasan. Karena ketika kita punya kuasa dalam menguasai rasa sakit itu, yang akan tersisa nantinya adalah kedamaian yang hakiki.

Anehnya, sadomasokisme yang dilakukan oleh Terence dan Maria menyimbolkan keimanan dan kepasrahan manusia kepada Tuhan :lol:. Maria, berperan sebagai hamba yang tak berdaya, pasrah, dan buta tak tahu akan takdir apa yang akan terjadi padanya. Terence, berperan sebagai Tuhan yang memberikan cobaan hidup dalam bentuk cambukan. Maria, ketika pertama kali dicambuk sakit sekali rasanya. Tapi dengan sikap yang menerima, cambukan-cambukan selanjutnya tak seperih sebelumnya. Sampai pada penerimaan dan kepasrahannya yang paling bulat, ia merasakan kenikmatan. Persis sama ketika kita mendapat cobaan yang teramat sakit, rasa sakitnya bisa berkurang ketika hati telah menerimanya.

Praktek sadomasokisme ini tak hanya berlangsung dalam hubungan seksual saja. Dalam kehidupan sehari-hari, kadang manusia mencari-cari penderitaan untuk memunculkan sebuah kepasrahan. Contohnya saja.. uhum.. saya sendiri *curcol dikit*, terjerat.. eh salah.. menjeratkan diri dalam sebuah hubungan tidak seimbang selama setahun, ditambah dengan menyiksa diri selama setahun dengan tetap mencari-cari kabarnya. Yang kalau dipikir-pikir sekarang, alasan saya tetap mencari gara-gara dengan melihat foto-foto mesranya di Facebook dengan wanita yang dicintainya adalah demi memunculkan rasa sakit untuk kembali mengingatkan saya untuk menerima kenyataan kemudian melepas. Kemudian saya merasa tercerahkan, dengan menderita saya merasa mendapat ganjaran sebuah kenikmatan memasrahkan diri kepada kuasa Tuhan. Tapi masalahnya besarnya penderitaan yang dirasakan selalu berbanding lurus dengan usaha melepaskan. Jika kita main pisau dan tak sengaja terluka gores, kejadian tersebut tak akan membikin jera sepeti halnya jika jari kita terpotong. Sama halnya, rasa sakit itu bisa terus dipelihara sampai suatu batas yang entah ada di mana, sampai kita bertekad “cukup sudah”.

Ehem.. balik lagi…

Ketika Maria sudah mulai terhayut oleh kenikmatan dalam penderitaan, Ralf kembali menariknya menuju pilihan lain untuk merasakan kenikmatan. Bahwa kebahagiaan ataupun cinta tak hanya bisa ditebus oleh pengorbanan dan penderitaan. Kebahagiaan bisa direngkuh dengan cara yang lebih tidak menyiksa diri, yaitu dengan memberikan cinta tapi tidak menguasainya. Cinta yang membebaskan, tanpa tuntutan, yang ada hanya memberi sebaik-baiknya dan menerima seikhlas-ikhlasanya. Cinta seperti itulah yang membuat urusan “sebelas menit” tidak hanya berlangsung selama sebelas menit, tapi selamanya.

Demikian sekelumit hal-hal menarik yang dapat saya bagi dari buku ini. Sungguh masih banyak hal-hal menarik yang meski dibungkus dalam latar “sebelas menit”, tapi dapat terjadi dalam 1.429 menit lainnya dalam satu hari hidup kita. Untuk membacanya, baik di buku ini maupun di setiap menit hidup kita, agaknya yang dibutuhkan adalah tetap berpikiran terbuka. Akhir kata, selamat membaca :mrgreen:.

Advertisements

5 thoughts on “Eleven Minutes

  1. saya berkali-kali liat buku ini di rak toko buku, dan pernah beberapa kali tergoda buat mengambilnya 😛
    tapi suatu ketika, saya iseng2 mbaca2 salah satu buku yg kebuka, dan entah mengapa saya langsung memutuskan ini bukan selera saya, sayang kalo ngabisin duit buat buku ini 😛

    *pinjem bukunya mbak mizzy aja 😎

  2. Di kantor saya yang lama ada perpustakaannya, dan di situ ada buku2nya Paulo Coelho.
    Sempet minjem yang The Alchemist, soalnya itu yang kayaknya paling terkenal.
    Saya langsung suka sama gaya ceritanya.
    Pengen baca buku2nya yang lain, tapi sayangnya di kantor yg sekarang ngga ada perpustakaannya…
    Mesti nabung dulu deh… abis buku2nya ga pernah ada di obralan buku yg 10rb-an sih *ngarep*

  3. @ Arm:
    Pinjem? Boleh, tapi bayar 😎

    @ Felicia:
    Jarang buanget yang diobral sampai 10 ribuan sih 😆
    Diskonan paling signifikan yang pernah saya liat sih cuma 30%an, itupun musti nunggu bazar buku 😛 .

  4. @ Prof. Satchafunkilus:
    Ah, thanks 😀

    Soal buka halaman Fesbuk untuk bikin sakit hati itu, Mengharukan. 😐

    Haha, sampai sebegitunya ya saya 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s