The Devil and Miss Prym

Seorang lelaki paruh baya tengah mencari jawaban dari sebuah pertanyaan “Apakah sebenarnya manusia itu baik atau jahat?”. Ia adalah orang baik yang taat pada aturan, meski sebagai dikrektur perusahaan pembuat senjata. Suatu hari anak istrinya diculik oleh sekelompok teroris yang meminta ditukar dengan sejumlah senjata dan amunisi. Meski tuntutan teroris itu ia penuhi, tapi pada akhirnya anak istrinya dibunuh juga. Ia tak habis pikir mengapa ada orang di dunia ini yang tega membunuh seorang istri dan anak perempuan tak berdosa, hanya karena uang semata kah? Atau sebenarnya manusia itu memang jahat, bahkan bisa membunuh orang lain tanpa alasan yang kuat.
Ia bertandang ke sebuah desa kecil, terpencil, indah tapi membosankan, yang masyarakatnya masih menganut nilai-nilai tradisi yang menjunjung tinggi kebaikan dan ketaatan. Untuk mencari jawaban tersebut, ia menebarkan umpan. Kepada seorang perempuan muda, Miss Prym, ditunjukkan sepuluh batang emas beserta tempat persembunyiaannya di hutan. Miss Prym ditawarkan memiliki sejumlah batangan emas, asal mau dijadikan media untuk menyampaikan tawaran ke seluruh penduduk. Tawaran itu berisi, bahwa kesepuluh batangan emas itu akan diberikan kepada desa itu asalkan dalam sepuluh hari terjadi sebuah pembunuhan di sana.

Miss Prym awalnya tidak menggubris tawaran sinting itu, tapi lama kelamaan iblis-malaikat mulai berperang di dalam dirinya, tanpa pernah ia kehendaki. Sekonyong-konyong iblis menemaninya di satu malam, memunculkan segala pemberontakan dan protes akan ketidakadilan Tuhan padanya. Di malam lain, malaikat memunculkan rasa penyesalan apabila hal keji semacam itu, membunuh hanya demi uang, dia biarkan terjadi di desanya yang damai. Demikian terus, malam-malamnya bergantian ditemani iblis dan malaikat. Sampai pada akhirnya dia muak dan menerima peran sebagai alat jahat.

Kisah satu orang, adalah kisah seluruh umat manusia. Sama seperti pengalaman Miss Prym pertama kali, ketika tawaran itu diumumkan oleh Miss Prym di bar tempat ia bekerja, tawaran itu mendapat sambutan negatif dari masyarakat desa. Namun selanjutnya iblis perlahan-lahan muncul dari balik bayangan, menyusupi ketaatan yang hanya serapuh kayu tua yang dipancangkan di aula desa untuk menandakan bahwa mereka manusia yang beradab dan beragama.

Desa itu, dan mungkin seluruh komunitas manusia di bumi ini, ditanamkan keta’atan pada nilai dan norma berdasarkan para rasa takut. Takut akan hukuman, takut akan dosa, dan jika ditelusuri jauh maka berujung pada percaya akan adanya neraka. Desa terpencil itu pun punya sejarah, yang awalnya adalah tempat pembuangan para buronan dan penjahat, kemudian ada seorang penjahat yang insap dan menegakkan tiang gantungan. Ia awalnya tak berkata apa-apa tentang tiang gantungan itu, ia hanya mengumumkan peraturan-peraturan apa yang dan yang tidak sambil berdiri di sebelah tiang gantungan. Dan kemudian masyarakat desa pun jadi mudah diatur, karena melihat alat penghukuman yang nyata. Namun ketika kini tiang gantungan itu sudah diganti oleh salib, apakah efek terornya tetap sama?

Singkat cerita, ketika dihadapkan pada pilihan hitam-putih, para tokoh di cerita ini cenderung membuatnya jadi abu-abu, kemudian malah merubah hitam menjadi putih. Dalam kata lain, membuat pembenaran-pembenaran. Misal,  kisah Yesus Kristus yang mengorbankan dirinya untuk menebus dosa umatnya, hal ini diadaptasi menjadi pemahaman bahwa boleh mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan desa dari kemiskinan. Emas yang nanti diperoleh akan digunakan untuk kemaslahatan umat deh pokoknya. Ketika mereka punya pemahaman dari sisi lain yang diperbolehkan oleh norma, sekarang tinggal memilih korbannya. Pemilihan korban berdasarkan siapa yang kalau mati tidak ada orang yang akan menangisi, dan waktunya untuk mati sebenarnya tidak lama lagi jadi apa bedanya menunggu mati dengan dikorbankan sebagai martil!! eh, maksudnya martir :lol:. Jika mati berkorban, toh dia akan mati dengan mulia dan dikenang jasa-jasanya sepanjang jaman. Malah mau dibikinin tugu peringatan :lol:. Catatan: Perencanaan ini tentu tidak diketahui si calon martil.

Jadi apakah pembunuhan itu terjadi? apakah seluruh penduduk desa bisa menikmati emasnya? Atau justru baik lah yang menang, dan jahat kalah.. selayaknya dongeng-dongeng itu biasa bercerita?

Jika mau tau kelanjutan ceritanya, silahkan baca sendiri bukunya 😉

*ngumpet dari timpukan botol*

Kalau saya mah lebih tertarik pada pembenaran-pembenaran tersebut. Dan jadinya teringat pada cerita anime/manga yang ada tokoh cowok ganteng sejagat raya 😳 *halah*.

This world is rotten, rotten people should die to cleanse this world -Kira-

Pada anime/manga Death Note, Raito Yagami, membenarkan tindakannya untuk membunuh para penjahat dengan menulisnya dalam buku kematian. Raito menjelma menjadi Kira, Tuhan, yang menerbarkan teror pada para penjahat, politikus busuk, dan sekaligus polisi yang mencoba melacak dirinya :P.  Seperti yang diduga, teror itu menyebar, siapa yang jahat ia akan mati. Kejahatan berkurang drastis, tapi apakah tindakannya bisa dibenarkan?

Jawabannya mungkin terangkum pada pernyataan Near di akhir cerita manga/anime ini, ketika berhasil membuka topeng Raito:

What is right from wrong? What is good from evil?

Nobody can truly distinguish between them.

Even if there was a god.

Now, supposing a god and his word existed, even then I’d stop and think for myself.

I’d decide for myself whether his teachings are right or wrong.

After all, I am just the same as you.

I put faith in my own convictions as to what I believe is right, and consider them to be righteous.

:mrgreen:

Advertisements

7 thoughts on “The Devil and Miss Prym

  1. wah death note ada animenya toh, sama kaya manga nggak ceritanya? doramanya terlalu mengecewakan sih, kalah seru dibanding manganya 😦

  2. sudah baca, dan pernah merekomendasikan ini untuk uni Snowie.

    Yang saya tangkap justru keduanya, manusia pada dasarnya punya kedua sisi, baik dan jahat.

    konon, yang membedakan santo (siapa itu namanya, di sejarahnya Viscos) dengan penjahat yg kemudian tobat itu, adalah kemampuan diri untuk mengendalikan kecenderungan2 diantara keduanya.

    (duh. saya ndak suka kalo lupa nama begini 😦 bacanya udah dulu banget sih. kalo Hilde Moller & Albert Knag saya masih inget :mrgreen: )

  3. @ TamaGO:
    Ada. IMO, ending manga lebih nendang dibandingkan Anime, selebihnya sama kok :mrgreen:

    @ Gentole:
    Kejahatan tidak hanya terjadi karena ada niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan!! Waspadalah!! Waspadalah!! *bang napi mode* 😎

    Begitu toh :mrgreen:

    @ Lumiere:
    Yup, begitulah 😀
    Si “baik” dan “jahat” akan terus berperang sepanjang jaman.

    Btw, saya juga ga pernah inget nama tokoh, bahkan nama orang baru kenalan pun susah ingetnya 😛

    @ Grace:
    Kupinjemi kalo kita kopdar lagi yaa 😀

  4. Saya jadi teringat dengan The Town-nya Ben Affleck, di akhir cerita, pemeran utamanya pindah dari kota tempat dia lahir dan dibesarkan, membawa hasil kejahatan terakhirnya di kota itu, tapi meninggalkan beberapa untuk disumbangkan di kota itu.

    Di akhir cerita ada satu kalimat yang saya suka, tidak peduli seberapa perubahan yang sudah kamu lalui, kamu harus membayar untuk hal-hal yang pernah kamu lakukan.

  5. Aaaaaaaarrrrrggggghhhh™!!! Itu novel favorit saya sepanjang masa! >__<

    *lebhay*

    .
    .
    .
    @ Gentole
    Mas, bukannya hal ini pernah jadi bahasan pendek 2008 lalu, bersama Watonist dan Sitijenang di lapak Esensi dulu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s