An Affair That Will Never be Forgotten

Judul postingan yang mungkin rada-rada sadis itu adalah plesetan dari novel yang baru saya baca kembali lanjutannya :lol:. Novelnya sudah dibeli lamaaaaaa banget padahal, yah sudahlah :P.

Terlepas dari tidak natural dan agak-agak maksa alur ceritanya–di mana si istri yang diselingkuhi amat rasional sampai-sampai bersahabat baik dengan si cewek penggoda suaminya malah sama sekali ga ada menye-menyenya, danΒ  dari sini terlihat jelas penuturan dari sudut pandang lelaki–menariknya, ada sebuah kutipan tentang perumpamaan seorang laki-laki yang berselingkuh (toh perselingkuhan lebih banyak dilakukan oleh oknum lelaki).

Laki-laki itu ibarat mobil yang didorong-dorong, bagaimanapun caranya dia didorong-dorong tidak akan bisa jatuh ke jurang. Lain halnya jika mobil itu sudah berada di pinggir jurang, maka hanya dengan sebuah sentuhan ia bisa jatuh.

Dalam kata lain perselingkuhan terjadi jika hubungan itu sendiri sudah bermasalah. Ketika berada di pinggir jurang, ditambah ada sesorang yang bisa mendorongnya jatuh. Akan tetapi seseorang yang sering disebut orang ketiga itu terkadang tidak mengetahui sedari awal posisi si mobil. Ia seakan-akan merasa tengah terbang, selayaknya orang yang tengah jatuh (cintah). Tapi kemudian mengetahui telah (berkontribusi) menjatuhkan, mungkin lebih tepat jatuh bersama-sama, ketika perasaan itu sudah jatuh teramat dalam. Susyeh toh :lol:.

Dan siapa yang patut disalahkan? Kalo menurut saya mah yah mobilnya :twisted:. Kalau lagi di pinggir jurang, yah mbo bilang-bilang posisi terakhir gitu. Biar si orang ketiga masih punya pilihan, apakah terjun bebas bersama atau kembali ke jalan yang landai. Sebab jikalau sudah terlanjur jatuh, dan orang ketiga sudah tau posisinya, agak susah untuknya untuk memanjat naik. Terutama dipicu oleh sikap si mobil yang tak jelas, mau gimana sih nih mobil, merayap naik atau tetap berada di dasar jurang dan mencari jalan lain bersamanya? :roll:. Begitu deh, pasti serba dilematis.

But, anyway… berbicara tentang perselingkuhan dalam konteks pacaran, mungkin cuma sesimpel pilih yang mana-dan tinggalkan. Lain dengan ketika dua orang sudah terikat pernikahan. Tentu, saya tidak tahu pastinya bagaimana, lah blum pengalaman :lol:. Tapi, mungkin cerita novel “The Zahir” agak tepat menggambarkan bagaimana sebuah pernikahan secara perlahan-lahan terdesak ke tepi jurang:

Dikisahkan sepasang suami istri yang telah terikat pernikahan selama bertahun-tahun, menikah karena saling mencintai, dan cinta tetap ada selama pernikahan itu. Meski sering berselisih paham, tapi wajar-wajar saja. Tidak ada yang bermasalah, sampai si istri suatu hari pergi tanpa memberi kabar, menghilang tanpa kepastian akan kembali. Lama-lama suami menyadari ada yang salah, bahwa selama tubuh mereka bersama, perasaan terbiasa membuat jiwa mereka berjauhan. Karenanya si istri memilih pergi biar tubuh mereka menjauh, dan si suami berkelana mencari jiwanya yang telah hilang ditelan rutinitas keseharian.

Pada kasus lain, cerita novel tentu saja :P, suami istri tetap bertahan demi alasan sayang telah terlanjur bersama, atau demi anak-anak, dan lain-lain, tapi tanpa memecahkan akar kejenuhan itu sendiri. Jadi meski tetap terikat pernikahan, sesungguhnya sudah saling terlepas. Demikian, lama-lama terdesak ke tepi jurang. Ketika ada sedikit momentum, si mobil pun jatuh ke jurang.

Akar masalah tampaknya terletak pada kejenuhan, dan kadang saya bertanya-tanya gimana ya caranya, apalagi hidup ama si itu-itu aja selama berpuluh-puluh tahun. Tapi yaah, meneketempe :lol:. Tapi bagaimana pun juga perkara kesetiaan adalah sebuah keputusan, bukan pilihan. Sejalan dengan bagaimana kepercayaan itu diberikan, seperti kita mempercayakan suatu benda untuk dijaga pasangan kita. Ketika benda ada di tangan dia, terserah apakah mau dijaga atau dirusak. Yang jelas, jika rusak, jangan berharap untuk mendapat ganti baru. Karena benda itu mungkin hanya ada satu-satunya untuk selama-lamanya. Jika yang mengkhianati diizinkan untuk kembali, tentu ia hanya membawa separuh sisa dari kepercayaan yang masih tersisa.

Karenanya agak-agak sulit memaafkan, bahkan mustahil melupakan dosa perselingkuhan. Tuhan saja tak ingin diduakan:

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An Nisa: 116)

Apalagi perempuan *siyul-siyul*

Makanya biar bisa diampuni, mungkin kudu taubatan nasuha dan kembali ke jalan yang benar :P. Tapi, sekali lagi, mungkin perselingkuhan dapat dimaafkan tapi tak dapat dilupakan πŸ˜‰

Advertisements

4 thoughts on “An Affair That Will Never be Forgotten

  1. Apakah novel ini dapat dikategorikan sebagai penggambaran kehidupan sekarang?

    BTW,if you only have to choose, which one is your choice?
    Never get married or get divorce?

  2. @ Akiko:
    Jika melihat pada fenomena free sex-nya, iya menggambarkan realita sekarang. Justru konon katanya selingkuh ketika dua2nya sudah melikah tuh lebih safe, kalo hamil kan dianggap dihamili oleh suami sahnya :lol:. Pantes klien yang mau tes DNA mengingkat pesat πŸ˜› . Serem siy, tapi begitu mungkin realitanya, tinggal pilih mau mengikuti arus atau teguh diprinsip sendiri :mrgreen:

    Wuah, pilihan yang sulit πŸ˜†
    Mungkin dari pada terus2 takut berenang dan bertahun-tahun bermimpi akan indahnya dasar lautan. Jika ada peluang, ga ada salahnya usaha nyemplung dan berenang sekuatnya. Soal gagal, itu urusan belakangan.. It’s just a part of life πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s