“H”

Hal yang tak lazim bisa berakibat dua hal, diingat atau malah diabaikan. Termasuk dengan nama belakang saya yang ada selipan huruf “h” yang tak berbunyi a.k.a silent mode. Tidak dibaca, tapi wajib ada supaya sesuai dengan kartu identitas macam KTP atau pasport.

Karena ketidak lazimannya, maka sangat maklum jika orang lain lupa/tak sadar/tidak tahu harus menyelipkan si “h“. Saya aja baru tahu keberadaan si “h” ketika jaman SD dulu, saat mengurus administrasi kelulusan dan benar-benar memperhatikan akte kelahiran. “Ooo, nama ku ada “h” nya ya 😮 ” begitu kira-kira responnya :lol:. Karena sebelum-sebelumnya, saya menuliskan nama di kertas ulangan maupun di buku tulis dengan berbagai macam varian nama belakang, mulai dari ~ti, ~ty, bahkan ~thy :lol:. Padahal harusnya ~thi :twisted:.

Nah, ini padahal baru satu huruf saja yang tak lazim. Kenalan saya menamakan anaknya dengan “Queenayyarra”, kalau misal anaknya disuruh menyebutkan nama di depan kelas kan jadi agak susah mengejanya, “Kwinayara, depannya pakai “Q”, terus “E, Y, dan R” nya ada dua ya, Bu Guyu”:lol:. Pernah juga ada dosen saya yang sampai bingung membaca nama seorang teman gara-gara banyak huruf konsonanya. Repot dah :mrgreen:.

Jadi ya, supaya kedepannya si anak tidak susah (namanya sulit dibaca, ditulis, serta diingat), tak usah lah memberi nama yang terlalu banyak asesorisnya. Yang pas kan terdiri dari tiga kata: nama depan, tengah, dan belakang (biasanya nama si bapak). Dua kata: nama depan dan belakang, juga masih pas. Kalo satu kata doang, meski enak banget karena gampang dan mempercepat mengisi formulir SPMB yang lingkaran hurufnya musti diarsir dengan pinsil 2B; tapi kalau berurusan dengan administrasi konon katanya agak menyulitkan :?.

Personally, ada satu nama yang sangat nyangkut di hati, yaitu Langit, dari nama tokoh novel Kisah Langit Merah :D. Kata yang umum, tapi jarang dipergunakan sebagai nama orang :D. Ah tapi saya ga pengen ganti nama jadi Langit kok, ntar nama saya makin ganteng :lol:. Sekarang aja namanya udah ganteng :D. Soalnya saya suka kok nama depan saya yang juga diambil dari nama bapak, artinya roh, jiwa, juga bisa berarti lembut. Cocok dengan karakter yang kaya roh a.k.a makhluk halus, tidak ingin terlihat sekaligus sangat transparan. Ho ho ho :mrgreen:

Advertisements

5 thoughts on ““H”

  1. Hahaha, nama belakang saya pun ada /h/ nya. Walaupun kalau cara Jawa ini sudah beda (“da” dan “dha” berbeda bacanya), tetep saja kami (anggota keluarga paternal saya punya nama belakang begini semua, dengan akhiran -i buat yang perempuan) kalau ngurus administrasi mesti, “ini ada /h/ nya ya Mas, de ha a”. 😆

    Oh dan tentu saja saya suka nama saya, soalnya yang make bermacam-macam, mulai dari orang ganteng sampe orang gagah sampe orang cantik sampe orang pinter sampe orang baik sampe orang keren. 😎 *dijitak*

  2. Saya yang ngga ada huruf H-nya, tapi sering banget ditambahin di belakangnya.. Lebih parah lagi, kadang nambah huruf Y juga di tengah2.. 😆

    Nama Langit kayaknya ganteng tuh, kalo ga dipake disimpen aja buat kapan2 siapa tau butuh.. :mrgreen:

  3. @ Lambrtz:
    Kayaknya saya perlu minta tanda tangan situ duluan sebelum jadi mahal dan sukar didapatkan 😆

    @ Ms. Plaida:
    Wah, dikasih bonus hurup tuh. daripada dikorupsi 😆

    @ Pak Presiden:
    H–
    Hitam
    Pengennya hitam-hitam semua :mrgreen:

  4. kalo sekilas liat judulnya, malah langsung keinget “H” yang genre tertentu itu 😈 😆

    soal nama emang rada2 tricky sih, kadang orang tua pengen nama anaknya keren (menurut mereka) tapi malah menyusahkan si anak di masa depannya 😛

    tapi untunglah nama saya normal-normal sahaja 😎

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s