When King Shark Met Ubur-ubur

Di suatu masa hiduplah seonggok ubur-ubur yang terapung-apung hanyut terbawa arus lautan. Tak jelas maunya apa, berkeinginan bermigrasi pergi namun serpihan hatinya masih berserakan di sini. Sambil mengumpulkan serpihan hati, si ubur-ubur membangun mimpi kembali. Agaknya dia terlalu meratapi yang hilang, bukannya merelakan dan hidup dengan apa yang masih tersisa. Sehingga luka gores rasanya seperti diamputasi saja. Oh malangnya 😆 Sampai pada suatu titik, si Ubur-ubur letih mengumpulkan serpihan mimpi dan memusatkan diri pada penyembuhan diri. Toh hati kan adalah organ yang bisa beregenerasi, jadi dia memberi kesempatan waktu untuk memulihkan luka.

Di masa pemulihan, si Ubur-ubur menghabiskan waktu mengarungi lautan. Menjelajah berbagai komunitas, menjumpai berbagai jenis ikan. Mulai dari ikan bersorban sampai dengan ikan tanpa embel-embel namun paham akan lautan dalam. Dalam perannya sebagai pengamat, si ubur-ubur menikmati keleluasaan, meski kemudian ia menyadari mengapa ia pernah terkukung dalam kekerdilan.

Ubur-ubur yang terhanyut ke sana ke mari, entah baru berapa lama kemudian baru menyadari bahwa ia diamati. Dan bukan tanggung-tanggung, yang mengikutinya adalah Raja Hiu yang sepintas saja terlihat berkarakter kuat dan petarung ulung. Tapi, berdasarkan pengalamannya main game Feeding Frenzy, seekor paus pun bisa keracunan kalau terkena racun ubur-ubur. Makanya si ubur-ubur tidak takut di makan Hiu juga siy 😎 .

Raja Hiu ternyata bos penyalur satpam bersertifikat halal, malah buka usaha sampingan jasa ojek yang siap antar. Ketika Raja Hiu menawarkan jasa tersebut, serta merta Ubur-ubur percaya akan keseriusannya, bahwa Raja Hiu pasti serius… serius bercanda 😆 . Si Ubur-ubur telah belajar bahwa apa yang terlihat belum tentu tampak seperti apa adanya, karena realitas adalah buah dari persepsi dan kekecewaan adalah buah dari harapan. Apalagi ketika menterjemahkan bahasa yang digunakan para jantan, jangan pernah gegabah menafsirkannya maksud para jantan, jikalau si betina tak ingin terjebak dalam taman bunga mawar. Indah, memabukkan, tapi amat menyakitkan durinya.

Tetapi si Ubur-ubur tidak melawan arus yang membawanya. Si Ubur-ubur tetap mengamati, sambil terus terombang-ambing dalam arusnya sendiri. Ke mana pun si Ubur-ubur pergi, Raja Hiu selalu mengawal dan mengamati dalam jarak aman yang tidak mengancam tapi terasa menaungi. Tapi sudah dari bawaan orok tabiat ubur-ubur memang begitu, acuh tak acuh, butuh tak butuh, elu elu gue gue, apalagi ketika didekati secara refleks ia akan menjauh pergi. Makanya ketika Raja Hiu ingin mengakuisisi, si Ubur-ubur mementahkannya kembali. Mau tak mau determinasi dan konsistensi Raja Hiu pun teruji.

Sekali lagi, karena si Ubur-ubur memposisikan diri sebagai pengamat, tanpa menambatkan harapan sehingga ia terbebas dari kekecewaan. Tapi Raja Hiu membuktikan tidak mengecewakan, naungannya terasa hangat dan makin melindungi dalam keleluasaan. Sampai akhirnya si Ubur-ubur menyadari akan aliran udara hangat yang memenuhi dan membawa hawa kehidupan. Ia tak memikirkan kembali lukanya, mungkin sudah sembuh, atau mungkin masih ada. Ia hanya merasakan apa yang tengah dirasa, bukan mencari-cari hal tersembunyi yang sudah tidak nampak lagi. Hatinya terasa lapang, sederhana, tapi kompleks. Ia merasakan benih-benih itu pun mulai tumbuh. Benih cinta kah? Meneketehe :P. Itu baru bakal, bisa jadi bakal pohon berbuah manis, asam, kecut, bahkan pahit. Bisa jadi juga hanya lichenes, tanaman non-vaskular simbiosis alga dan jamur yang biasanya tumbuh pertama kali setelah sebuah ekosistem mengalami suksesi primer. Hanya waktu yang bisa menumbuhkan, dan aliran udara hangat itu yang menyuburkan.

Sampai tahap tertentu, si Ubur-ubur tak bisa, tak berani, memastikan apa yang tengah tumbuh di hatinya. Ia hanya merasa lapang, ringan, seperti berada di padang rumput. Di sini jiwa pengecutnya menghalangi ia menyadari sesuatu, menciutkan keberanian untuk mendefinisikan rasa. Utamanya, karena ia takut kecewa definisi itu akan membuatnya menggantungkan harapan, dimana harapan itulah sumber kekecewaannya sebelumnya. Masih, ia masih membawa beban masa lalu. Meski ia menyangkal, dengan berkata saat itu ia hanya belajar jangan sampai jatuh seperti di masa lalu.

Satu-satunya cara menguji apakah memang yang dipikulnya adalah sebuah trauma atau pelajaran, adalah dengan menghadapi masa lalunya. Luar biasanya, alam, teman SMA nya yang menikah, dan mamah beserta tetangga-tetangganya, seakan-akan bersekongkol terlibat secara langsung-tak langsung sadar-tak sadar, menghadapkan si Ubur-ubur pada ketakutan terbesarnya. Yang paling ia takutkan, sebenarnya, adalah reaksinya ketika menghadapi momen tersebut. Dan ketika momen itu datang, ketika hatinya tengah berasa lapang, ia terkejut dengan reaksinya sendiri yang di luar dugaan. Saat itulah, sesuatu itu mulai mempunyai nama yang sederhana, tapi dengan definisi tak terhingga batasannya.

Sebagaimana yang telah ia sadari, ketika cinta telah terdefinisi posesifitas itu pun membumbui. Meski ia sepenuhnya sadar diri bahwa tak ada seorangpun yang benar-benar memiliki. Ia pun sempat terkukung dalam jerat “ideal”, dengan mematok “yang semestinya”, “yang seharusnya”… bla bla bla. Ketika sebuah momen menjadi pusat jagad raya dan patokan standar untuk segalanya, dengan demikianlah wujud kebahagiaan dan penderitaan itu mulai kembali terdefinisi karena acuan yang naïf dan kaku.

Lihat kan? Bagaimana si Ubur-ubur selalu mempermainkan standarnya sendiri 😈 . Dibalik muka datar 😐 , benaknya selalu penuh akan kontradiksi :lol:. Dengan berpindah dari satu kontradiksi ke kontradiksi yang lain, selain konsekuensinya tentu saja galau, di satu sisi membuatnya menyadari perjalanan mencintai Raja Hiu adalah perjalanan untuk menemukan dirinya sendiri. Memang, seperti sabda Raja Hiu dulu, bahwa cinta tak bisa terlepas dari “aku”, si Ubur-ubur pun merasa mencintai dirinya yang telah kembali menjadi “aku”. Tetapi “aku” telah menemukan sisi terbaik dari dirinya setelah bercermin pada sisi terbaik dari si Raja Hiu. Seperti tulisan Paulo Coelho dalam “The Zahir”:

“Ketika ada dua orang pemadam kebakaran pergi ke hutan untuk memadamkan kebakaran kecil, setelah selesai mereka pergi ke anak sungai. Wajah yang seorang hitam penuh jelaga, sementara yang satunya lagi bersih sama sekali. Pertanyaannya: Siapakah di antara mereka yang akan membasuh muka?

Bukan… Bukan yang wajahnya kotor penuh jelaga. Karena yang wajahnya kotor melihat wajah temannya yang bersih, sehingga ia mengira wajahnya sendiri juga bersih. Sebaliknya, yang wajahnya bersih melihat wajah temannya yang kotor, dan ia akan berpikir: wajahku pasti kotor juga, sebaiknya aku cuci muka.”

Jika si Ubur-ubur berkaca pada mata ikan yang dicintai tapi tidak mencintainya, pantas saja ia tak merasa berharga. Lain jika sebaliknya. Ketika yang ia lihat adalah keyakinan, ia merasa yakin setelahnya. Ketika yang dilihatnya keteguhan dan konsistensi, maka demikianlah pula ia akan bersikap. Dengan demikiannya orang yang saling mencintai bisa saling mempengaruhi. Memang, sangat tidak independent 😆 . Tapi itu sangat manusiawi, siapa yang bisa bertahan selamanya dalam kasih yang tidak berbalas :P.

Akhir kata, dengan sepenuh ketidaktahuannya, kesoktahuannya, kegalauannya, si Ubur-ubur rasanya akan tetap terombang-ambing dalam arusnya. Ia tak akan melawan bahkan mengekang, tapi belajar mengikuti dan menikmati. Karena bagaimanapun juga, penderitaan itu bersumber ketika kita menginginkan seseorang mencintai dengan cara yang kita inginkan, bukannya membebaskan sebagaimana cinta itu dengan semestinya memanifestasikan diri.

________________

Catatan kaki:

Sebagian besar kutipan dan metafora di dalam tulisan ini saya ambil dari novel “The Zahir” karya Paulo Coelho. Ketika saya membaca novel tersebut untuk yang kedua kalinya, entah kenapa seakan-akan menapaktilas perjalanan hubungan bersama suami. Tentu, ceritanya amat berbeda, tokoh novel itu sudah ditahap “mandek” sementara kami baru memulai. Tapi dengan melihat berbagai kontradiksi, banyak hal yang baru saya sadari dan jauh lebih banyak yang masih belum saya pahami, dan tentu baru bisa memahami setelah menjalani.

Salam hangat untuk orang yang anda cintai :D.

Advertisements

6 thoughts on “When King Shark Met Ubur-ubur

  1. Pingback: The Art of LDR | Time Capsule

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s