Hello World!!

Menyambung cerita berseri tentang kehamilan, yang sayangnya absen saya update pada trimester ketiga karena padatnya kesibukan, akhirnya sampailah pada minggu-minggu menjelang HPL (hari perkiraan lahir). Menurut hitungan dokter, HPL sekitar awal januari (10 Januari 2012) dan saya sempat mengisi surat pengajuan cuti melahirkan ke kantor mulai dari 2 Januari. Eh tapi ternyata, setelah hari natal, 26 Desember saya mulai merasakan kontraksi yang teratur setiap 10 menit sekali. Rasanya tidak terlalu sakit, hanya tegang perut seperti menjelang menstruasi. Karena khawatir lahiran di bis, keluarga mendesak saya untuk memajukan masa cuti mulai 27 Desember 2011.

Sakit Peyut

Sehari kemudian, 27 Desember, sakit perutnya mulai meningkat intensitasnya, sementara durasinya masih tetap sama per 5 menit. Sembari bertegang-tegang perut, saya sempat browsing apa tanda-tanda akan melahirkan. Sebab bertanya ke si mamah, dia sendiri sudah lupa pengalamannya dulu karena kelamaan 😆 . Tanya ke teman, dia cuma bilang pokoknya “mules kaya pengen pup” :P. Karena penasaran plus paranoid, apalagi malam itu keluar lendir lumayan banyak dari vagina, dan saya bingung apakah itu cairan ketuban atau bukan. Akhirnya, saya ke dokter kandungan untuk memastikan. Kata dokter, “blum buuuu…”

Pecah Ketuban

Tanggal 28 sore, rasa sakitnya makin meningkat. Rasanya tidak hanya seperti keram saat mau menstruasi, tapi ditambah sakit pinggang dan panggul. Masih bisa saya tahan dengan menarik dan menghembuskan nafas panjang.

Subuh tanggal 29, jam 4 pagi, ketuban saya pecah. Ternyata rasanya seperti pipis yang tidak bisa ditahan, tau-tau ada aliran air membanjir keluar disertai lendir bercampur jaringan. Saat itu juga kami menuju rumah sakit.

Tiba di rumah sakit, bidan memeriksa pembukaan rahim dan ternyata baru bukaan 3 (3 cm), masih jauh dari bukaan penuh yaitu 10 (10 cm). Sakit pinggang makin menjadi, dan makin lama rasa sakit itu menjalar dari perut atas ke panggul dan pinggang.

Buka-bukaan

Tanggal 29 pagi, jam 7 bu bidan kembali memeriksa bukaan dan ternyata sudah bukaan 6. Yey, 4 lagi \m/.

Setelah bukaan 6 itu, intensitas rasa sakitnya makin menjadi-jadi dan sensasinya agak berbeda karena ditambah rasa ingin buang air. Makin lama, refleks mengejan itu makin kuat, dan harus ditahan. Apabila mengejan sebelum pembukaan penuh bisa berakibat fatal pada membengkakan mulut rahim yang malah menyebabkan menyempitnya jalan lahir.

Saat tengah hari, sudah bukaan 8 tapi kepala si dede masih belum turun ke jalan lahir. Rasa sakit makin menjadi, tapi yang paling susah ditahan adalah refleks untung mengejan. Saya hanya bisa meremas tangan mamah saya sambil mengatur nafas pendek-pendek untuk meredakan rasa sakitnya. Sementara suami terus memberikan semangat dan dukungan.

Jam 2an, masih bukaan 8 dan kepala si dede belum juga turun sementara saya sudah amat lemas menahan rasa sakitnya. Dokter menyarankan menunggu sebentar lagi.

Sejam kemudian saya sudah tak tahan, dan nyaris kehilangan kesadaran karena lemas. Bu bidan kembali mengecek, dan masih sama di pembukaan 8 dan kepala bayinya belum turun. Akhirnya dokter menyarankan untuk operasi caesar, karena diinduksi pun saya sudah lemas dan tak punya tenaga lagi untuk mengejan.

Perjuangan Belum Selesai….

Setelah diputuskan operasi caesar, saya sangat lega tapi imbasnya adalah toleransi rasa sakit malah makin mengendur sehingga rasa sakit yang sebelumnya masih bisa ditahan jadi mulai terasa sakitnya. Penantian satu jam lebih menunggu perawat dan dokter mempersiapkan operasi, adalah pengalaman yang kalo bisa dibilang sakit fisik yang teramat sakit.

Sekitar jam 4 sore saya masuk ruang operasi, molor setengah jam dari waktu yang dijanjikan oleh dokter. Saat itu saya benar-benar tak tahan menahan rasa untuk mengejan, sampai memohon-mohon pada dokter anastesi untuk menbius saya segera. Setelah bius lokal mulai membuat bagian dada ke bawah terasa kebas, seketika rasa sakit itu sirna. Perut saya dibelek dalam keadaan dada ke atas masih sadar, dan dokter-dokter itu membelek sambil ngobrol rencana tahun baruan mereka *doh*.

Hello World!!

Tak berapa lama terdengar gerasak-gerusuk dan suara tangisan bayi yang sangat kencang kemudian menghilang dibawa keluar ruangan. Tak berapa lama tangisan itu kembali terdengar, dan ditunjukkanlah seorang bayi mungil yang matanya sudah melek menggeliat-geliat lincah dalam dekapan perawat. “Selamat, Bu. Bayinya perempuan, sehat, normal, dan lengkap semuanya.”

Tepat jam 4.30 sore, 29 Desember 2011 bayi mungil kami lahir menyapa dunia. Papahnya sudah menyiapkan sebuah nama cantik…

Sarisha Yasmin

yang memiliki arti “Bunga Melati yang Memukau”. Panggilannya adalah Risa. Soalnya kalau “Sari” sudah pasaran, sementara “Shasha” seperti nama bumbu masakan.

Lega rasanya. Rasa sakit yang sedari tadi mendera, lenyap semuanya. Tubuh saya menggigil hebat ketika dokter-dokter itu mengobras perut saya. Sekitar jam 5.30 sore, saya didorong keluar ruang operasi menuju ruang pemulihan. Baru menjelang jam 9 malam saya dipindahkan ke ruang perawatan.

Normal vs Caesar

Saya menghabiskan waktu 4 hari perawatan di rumah sakit pasca operasi. 24 jam pertama, kateter dan infus masih terpasang di badan dan saya tidak boleh bangun bahkan untuk sekedar mengangkat kepala dari pembaringan. Yang diperbolehkan, malah diharuskan, adalah miring kiri dan kanan. Itupun nyerinya lumayan :lol:.

Pagi harinya, si mungil di bawa ke ruangan saya. Karena tak bisa bangun, si mungil digendong-gendong oleh neneknya. Dia pun belajar menghisap ASI, lumayan sudah bisa menghisap, sayang ASI nya belum ada.

Setelah 24 jam pasca operasi, semua selang infus dan kateter dilepas. Saya mesti belajar bangun dan jalan, sakitnya lumayan juga, terasa mulai dari perut bagian atas sampai panggul. Tapi harus dipaksakan, kalau tidak lukanya akan lama keringnya dan badan jadi kaku.

Sehari tiga kali si mungil di antar ke kamar saya. Dan kami mulai PDKT dan belajar hisap-menghisap.

Hari ke tiga, saya sudah bisa duduk dan online pakai netbook. Nyusuin si mungil pun sudah bisa sambil duduk.

Dan hari terakhir, mobilitas hampir mendekati kondisi normal meski sambil nahan sakit. Sudah bisa jalan-jalan ke ruang bayi untuk menjenguk si mungil.

Begitulah, pada akhirnya pengalaman saya lengkap sudah. Merasakan kontraksi melahirkan normal hampir ke pembukaan penuh, dan sempat mengejan juga menjelang detik-detik pembiusan karena sudah tak tahan. Kemudian merasakan operasi caesar plus sakitnya pemulihan pasca operasi.

Jadi kalau bisa memilih, mana yang paling “sakit”?  Menurut saya mah, dua-duanya menyajikan rasa sakit yang berbeda dan rasa sakit itu akan lenyap ketika melihat buah hati kita lahir selamat dan sehat.

Fototerapi Risa-chan

Malam terakhir sebelum pulang, seorang perawat memberitahu saya bahwa si mungil Risa memiliki kadar bilirubin yang tinggi, mencapai 13 mg/dL sehingga terlihat kulitnya kuning. Detik itu saya langsung panik. Bagaimana tidak, bilirubin adalah topik penelitian saya di lab, dan jelas-jelas saya tahu efek negatifnya jika kadarnya sangat tinggi… well, walaupun subjek penelitiannya pada mencit putih siy :roll:. Pokoknya jika bilirubinnya sangat tinggi bisa menyebabkan kejang-kejang dan kerusakan otak permanen.

Risa-chan akhirnya malam itu juga pindah ke ruang perawatan perinatologi untuk di sinar selama 2×24 jam, supaya kadar bilirubinnya turun. Alhasil ketika saya keluar rumah sakit, Risa-chan mesti menginap semalam lagi.

Sedih pastinya, terpisah dari anak sendiri. Apalagi ketika melihat tubuh mungilnya terbaring lemah dalam keremangan sinar ultraviolet :(. Rasa nyeri bekas jahitan pun saya abaikan demi bolak-balik rumah-RS untuk menjenguknya. Dan alhamdulillah, setelah 2 hari dirawat kadar bilirubin Risa-chan turun menjadi 3 mg/dL dan dia diperbolehkan pulang.

Senangnya… kini tangisnya, tingkah lucunya, mewarnai hari-hari kami. Mulai saat ini, dan seterusnya, tiap hari tak akan pernah berasa sama. Saya pun mulai, makin, malas berfilsafat bergalau-galau apa arti kebahagiaan dan bahkan cintah. Suami saya pernah berujar bahwa seorang perempuan baru mengerti arti cinta ketika ia telah menjadi ibu. Meski menjadi ibu baru 7 hari, mustahil menjadikan saya pakar cintah, tapi semuanya yang dulu saya anggap kompleks itu ternyata sedemikian sederhana. Ah ya.. tidak perlu ribet-ribet didefinisikan, cukup dirasakan dengan sepenuhnya kesadaran.

Whatever it is.. live life to the fullest..

Advertisements

12 thoughts on “Hello World!!

  1. Saya…bingung 😆

    Tapi dasarnya yang punya berlatar belakang Biologi, postingannya terperinci ya. Jadi ingat dua puluhan tahun lalu ketika Mama nglahirin saa :’) *eh*

    Dan selamat datang di dunia, Risha! 😀

  2. Sakit banget ya mbak? 😦 mungkin krn deskripsinya mendetil, jadi saya bacanya sambil mbayangin saya diposisi itu 🙄

    well, sehat2 ya dede Risa ^_^

  3. aku terharuuu bacanya! akhir2 ini selalu mudah terharu baca postingan ibu muda, it seems soo….amazing. I wonder if I can be one someday..
    Btw, selamat yah mbak! Risa-chan cantiiiiikkkk! Cant wait to visit her and cium2 her! hehehe

  4. @ lambrtz:
    Haha 😆
    Memang, pengalaman melahirkan kemarin itu seperti praktikum matakuliah Fisologi Reproduksi saja 😐
    Kalau dulu saya mempelajarinya lewat text book dan nonton video melahirkan cewe bule yang bikin temen cowo awalnya melotot lihat Miss V, eh mereka malah ngumpet dibalik telapak tangan ketika tuh Miss V mengeluarkan kepala bayi

    @ Lumiere:
    Rasa sakitnya hilang kok saat memeluk si bayi mungil 😀

    @ Asop:
    Yup, dia memang mendesak-desak mau tahun baruan di luar rahim :lol:. Btw, makasih :D.

    @ TamaGO:
    Makasih ya 🙂
    memang pengalaman yang tak terlupakan dah

    @ grace:
    Thank you~ *peluk-peluk*.
    Kalau pulang kampung, kopdaran yaaaa~

  5. Ngeringis pas baca bagian yang sakit-sakit… sampe merinding gini *terlalu menghayati*

    BTW, selamat ya Mbak, udah jadi ibu. 🙂

  6. @ Akiko:
    Yup, saya pun jadi membayangkan sakitnya ibu saat melahirkan kami dulu. Pantas memang jika dibilang surga ada di telapak kaki ibu 🙂

    @ Bang Alex:
    Wah bentar lagi yaaaa 😀
    Tenang… mudah-mudahan prosesnya lancar yaa 🙂

  7. Weittts! Ganti theme dia. Haha. Keren loh tema baru ini. Belakangan tema di WordPress.com emang udah banyak kayak majalah gitu. Lebih enak kalau mau milah-milah bacaan :mrgreen:

  8. ^

    Wahahaha, emang lagi ngubek-ngubek theme nih :lol:.
    Iyah keren memang, serasa profesional blog gitu. Padahal isi ecek-ecek dan jarang update pulak :P.

    Ah jadi kepingin ngeblog lagi… la la la~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s