Inkompatibilitas ABO

Menurut orang Jepang, karakter manusia bisa dibedakan menurut golongan darahnya. Misal, orang bergolongan darah O, seperti saya katanya memiliki sifat easy-going, suka bersosialisasi, dan senang berada di tengah-tengah pusat perhatian. Benar, ga? Kayaknya ga sesuai yaa? 😆 . Dan saya menikah dengan seorang bergolongan darah AB, yang menurut artikel tersebut bersifat cool, rasional, mudah bersosialisasi, tukang kritik, dan tidak tanggungjawab. Err, sifat yang terakhir itu jelas-jelas tidak sesuai :P. Dari hasil peleburan sel ovum dan sperma kami lahirlah anak saya yang bergolongan darah A, yang katanya lagi, bersifat serius, sabar, keras kepala, dan tidak mudah puas. Gimana mirip kah dengan dia? Err, kami masih dalam tahap PDKT jadi belum kenal seutuhnya 😆 .

Jadinya percaya tak percaya, karena biasanya hal seperti itu kebanyakan hasil analisa cocologi. Jadi kalaupun cocok ya kebetulan semata. Lagi pula agaknya penafsiran tersebut berdasarkan sifat biologis-fisiologis golongan darah tersebut. Misal golongan darah O, yang merupakan pendonor universal, disebutkan sifatnya gampang bergaul karena bisa diberikan pada penerima dengan golongan darah apapun. Demikian juga dengan golongan darah AB, namun ditambah lagi orang bergolongan darah ini punya kepribadian ganda. Mungkin karena punya A dan B, makanya disebut kepribadiannya ada dua :P. Eniwei, itu hanya penafsiran semata.

Nah, katanya lagi nih, orang bergolongan darah O seperti saya itu cocok dengan orang bergolongan darah AB dan sesama O, tapi tidak dengan A (seperti anakku). Terus.. terus.. katanya antara O dan A berpotensi saling berkonflik dan berperang *halah*.

Tapi kalau diingat-ingat lagi, antara darah saya dan anak saya memang pernah saling bertempur siy. Malahan di awal kehidupannya, menyebabkan kadar bilirubinnya sangat tinggi.

.

.

Ngomong apa siy saya yaa 😆

Begini ceritanya…

Saat hari terakhir dirawat di RS paska kelahiran, seorang perawat memberitahu saya bahwa kadar bilirubin dalam tubuh anak saya meningkat mencapai 17 mg/dL, padahal normalnya dibawah 10 mg/dL. Bilirubin adalah pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah yang sudah tua. Pada kondisi normal, bilirubin akan diikat oleh protein pembawa (biasanya albumin) di hati, kemudian dibawa ke empedu dan akhirnya dibuang melalui urin. Nah, bilirubin ini lah yang memberikan warna kuning pada urin. Pada bayi yang baru lahir, enzim yang bertugas mengikatkan bilirubin dengan protein albumin belum bekerja, ditambah lagi fungsi hatinya pun belum optimal. Sehingga banyak bilirubin yang tidak berikatan dengan albumin dan tidak dapat dibuang ke luar tubuh. Bilirubin bebas tersebut tetap berada dalam sirkulasi darah, dan malahan menumpuk di berbagai jaringan tubuh. Penumpukan di kulit bisa kita lihat ketika si bayi kok kulitnya kuning. Malahan pada kadar yang tinggi, bagian matanya yang putih pun bisa berwarna kuning. Yang berbahaya apabila bilirubin ini menumpuk di otak karena bisa menyebabkan kerusakan sel syaraf permanen.

Kondisi tersebut sebenarnya bayak ditemukan pada bayi yang baru lahir, biasanya kuningnya muncul sekitar 48 jam setelah bayi dilahirkan. Ini disebabkan mulai terjadi penggantian sel darah merah, dimana yang sudah tua mulai dihancurkan. Akibatnya bilirubin pun banyak dihasilkan, dan karena sistem pembuangannya belum bekerja optimal muncullah kondisi bayi kuning tadi (sumber).

Tapi setelah saya baca-baca lagi, salah satu faktor yang memperparah kondisi tersebut adalah ketidaksesuaian golongan darah ibu dan anak. Ketika si ibu memiliki golongan darah O, sementara anaknya A atau B. Golongan darah O memiliki antibodi terhadap A dan B, sehingga hanya bisa menerima donor darah dari sesama O, jika selain itu maka darah A dan B akan dilawan atau dihancurkan oleh antibodi tersebut.

Selama kehamilan, darah ibu dan anak tidak bercampur. Sistem peredaran darah ibu dan anak terpisah oleh membran plasenta (ari-ari). Namun karena sebab-sebab tertentu, misalnya ketika proses melahirkan, darah ibu bisa melewati plasenta dan bercampur dengan darah bayinya. Akibatnya darah ibu yang O malahan bereaksi melawan darah bayinya yang A, sehingga banyak sel darah merah bayinya yang dihancurkan dan meningkatkan produksi bilirubin.

Pada kondisi yang tidak terlalu parah, jika kadar bilirubinnya masih di bawah 20 mg/dL, kondisi tersebut masih bisa ditangani dengan fototerapi. Yaitu penyinaran tubuh bayi dengan sinar biru yang memiliki panjang gelombang antara 420 sampai 470 nm. Sinar ini bisa membantu menguraikan bilirubin sehingga bisa dibuang lewat urin. Atau bisa juga dengan menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi (antara jam 8-9) sekitar 10-15 menit.

Namun jika penghancuran sel darah merahnya berlangsung dengan cepat, kadar bilirubinnya sudah terlampau tinggi dan tidak bisa diturunkan dengan fototerapi, maka penanganan selanjutnya adalah dengan exchange transfusion atau tranfusi tukar, seperti pernah kejadian sama bayinya Mbak Nirina. Yaitu darah bayi dikeluarkan, kemudian diganti dengan darah donor bergolongan darah O yang memiliki kandungan antibodi A yang rendah.

Untungnya, kemarin itu anak saya tidak sampai separah itu dan memerlukan transfusi tukar. Sebab setelah difototerapi selama 2×24 jam, kadar bilirubinnnya sudah turun menjadi 3 mg/dL. Yah, meskipun darah kami sempat bertepur dan saya menyebabkan sejumlah sel darah merahnya hancur, pertempuran itu tidak sampai berlansung lama.

Saya pun tidak ‘ngeh dengan resiko inkompatibilitas golongan darah ini meskipun dulu pernah baca siy :P. Makanya kalau mau punya anak kedua nanti, resiko seperti ini pun akan tetap ada. Sebab anak-anak kami (saya O dan suami AB), kemungkinan golongan darahnya A dan B. Kalaupun nanti lahir anak bergolongan darah B, ya sama aja efeknya :|. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur cinta nikah siy :lol:. Mengatasi penyakit akibat faktor genetis begini memang cuma bisa mengobati efek-efeknya saja, supaya tidak makin parah dan kemudian menyerahkan diri pada ketahanan tubuh si bayi untuk bertahan dan melawan. Atau ya berdoa kepada Tuhan minta keselamatan… ya, kalau Anda percaya pada Tuhan… #eh 😆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s