A Quarter Life Crisis

“Kapan…?”

Setiap kalimat tanya yang diawali oleh satu kata di atas itu pernah menjadi momok yang menyebalkan dalam suatu rentang usia hidup saya. Dan entah kenapa kok orang-orang jadi lebih banyak bertanya dengan diawali satu kata tersebut di dalam rentang usia tersebut. Dan entah kenapa saya juga amat terpengaruh olehnya, padahal sebelumnya, ketika masih sedikit lebih muda, saya bisa santai menanggapinya.

Sesungguhnya, pertanyaan “Kapan…?” yang membuat saja jengah hanya dua. “Kapan kawin?” yang kebanyakan dipertanyakan oleh oknum sekitar keluarga dan pertemanan non-akademis dan non-profesi, dan “Kapan sekolah lagi?” yang dipertanyakan oleh oknum sekitar lingkup akademis dan profesi. Oh dua pertanyaan akan dua status yang (bisa) saling berseberangan dan (malahan bisa) saling meniadakan. Mengapa demikian? Saya masih ingat wejangan mamah saya, dan tante, dan sepupu, dan tetangga 😆 , jika laki-laki kadang takut pada perempuan berpendidikan tinggi, terutama yang lebih tinggi dari dirinya 🙄 . Oh, sial 😆 . Padahal cita-cita saya jadi PhD dan kalaupun jadi ibu rumah tangga maunya di luar negeri. Dan tentu sulit mencari calon suami yang bisa mewujudkan kedua hal tersebut, kalaupun ada belum tentu mau sama saya :lol:.

Penanya paling menuntut tentu saja orang tua saya, yang segera ingin menimang cucu, dan terutama mengamankan satu-satunya anak gadisnya yang ambisius mengejar pendidikan untuk bersegera terikat dalam kemapanan pernikahan. Suatu hari beliau pernah bertanya “Kapan kawin?” kepada saya, tepat sesaat saya mengutarakan keinginan untuk melamar sejumlah beasiswa luar negeri. Dan tanpa pikir panjang saya pun nyeletuk “Nanti kalau sudah 26 tahun, kalau sudah 2010”. Saat itu usia saya 24 tahun.

Meski hanya asal nyeletuk dan kepepet nyari jawaban aman, kemudian saya berpikir kenapa “26”? :-?. Bukan usia realistis untuk menikah jikalau saya ingin mengejar kesempatan sekolah ke luar negeri, karena untuk studi Master pun butuh waktu 2 tahun apalagi kalau lanjut PhD yang memakan usia lebih banyak. Setidaknya umur awal 30 lah saya sudah terbebas dari bangku kuliah, dan baru memikirkan berumah tangga. Tapi ya itu tadi… jika sekolah sambil terus melajang. Lain halnya jika di sana saya ketemu pangeran bermata biru atau orang Indo sesama student dan kemudian mengikatkan diri hidup saling bergantung satu sama lain di negeri orang. Pokoknya menikah di usia “26” bukan hal yang realistis.

Tapi lama kelamaan momok “26” dan “2010” telah menjadi semacam deadline, tenggat waktu untuk merubah nasib. Perasaan stuck, mentok, terjebak, dan ingin melompat lebih tinggi menghiasi hari-hari di seputaran usia seperempat abad. Saat itu saya sudah bekerja tepat 2 tahun, cukup untuk prasayarat sejumlah beasiswa. Pekerjaan terasa monoton, sempat diping-pong ke berbagai proyek penelitian yang tidak sampai selesai kemudian tenggelam dalam ide-ide baru lainnya, ditambah merasakan intrik dalam dunia yang sebenarnya. Semua mengusik jiwa idealis saya, yang dengan naifnya, masih membandingkannya dengan masa ketika masih jadi mahasiswa. Yang saat itu diinginkan adalah sebuah lompatan, karir… apapun… agar hidup saya lebih bergejolak. Sementara dipihak lain desakan keluarga untuk menikah menjadi semacam alternatif lain, yang pada saat itu tidak terlalu saya seriusi karena tengah patah hati 😆 .

Perasaan galau usia 25 tahun tersebut, yang nama kerennya “Quarter Life Crisis“, meski berefek samping galau, antisosial, krisis identitas, insekuritas, sampai mengarah ke depresi; sebenarnya merupakan katalisator percepatan pendewasaan seseorang. Saat di satu titik usia saya merasa ingin lebih, dan mulai membuka mata pada percepatan pendewasaan orang lain. Di tahap yang sama, saya pun menilik ke dalam diri dan mempertanyakan apa yang selanjutnya ingin dilakukan dan dicapai. Jika tidak ada krisis tersebut, saya bisa cepat puas dan menerima keadaan. Tentu saja menerima keadaan adalah hal mulia, tapi tentu kita ingin naik pada level selanjutnya untuk bisa melihat dunia dari tempat yang lebih tinggi. Seperti kata Senna pada Ichigo di Bleach Movie I…

“When you’re up high, all the stuff that looks confusing and messed up… suddenly becomes crystal clear.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s