Kotak Imajiner

Dahulu sekali, saya pernah menciptakan sebuah kotak. Sebutlah sebuah kotak hitam, karena hitam adalah warna favorit saya, yang saya ciptakan di suatu malam dalam perjalanan bertemu jenazah orang paling tersayang. Waktu itu, di usia belia, tak mengerti bahayanya mengubur dan mengukung emosi negatif, hal itulah yang secara sadar saya lakukan.

Dan, berhasil… saat orang-orang menangis meraung-raung meratapi kepergiannya, saya bisa dengan tenangnya, tanpa tangisan, mengiringi jenazahnya dibungkus kain kafan dengan lantunan Surat Yasin, yang nyaris tanpa intonasi dan emosi. Seingat saya, saat dalam kondisi tersebut saya merasa normal, padahal mungkin tengah berada dalam kegilaan. Kenormalan yang terus dipertahankan sampai keesokan harinya, ketika semua pelayat sudah pulang, dan saya harus berangkat sekolah menghadapi ujian kenaikan kelas. Saya yang masih belia dikarbit secara instan untuk menjadi dewasa.

Sampai bertahun-tahun kemudian, seiring kepergian mayoritas orang terdekat yang sosoknya sempat menggantikan kehilangan yang pertama,  isi kotak tersebut makin berjejalan. Desakan letupan perasaan yang selalu coba ditahan, tapi sekalinya meluap seluruh isinya membanjir dan menggelamkan saya sampai ke dasar.

Saya tak pernah benar-benar menghilangkan kotak imajiner, dan membebaskan segala yang terkukung di dalamnya. Bahkan tak pernah sekalipun saya pikirkan, apalagi membicarakannya, seperti tulisan ini yang sedemikian gamblang. Hanya disimpan, dirawat, bertahan dalam penderitaan untuk terbebas melalui sebentuk ketabahan. Tentu semua saya sandarkan pada keberadaan Tuhan, bahwa setiap keping hati yang berserakan akan mengantarkan saya makin dekat pada kasih-Nya… atau rasa kasihan-Nya seraya memohon-mohon agar Beliau melenyapkan kepedihan saya seketika.

Haha.. masa lalu :mrgreen:

Kata orang, masa lalu bisa sedemikian konyolnya dipandang dari masa kini. Tapi saya merasa konyol karena di masa kini masih enggan/takut hadir dalam sebuah pemakaman. Karena toh saya sudah sering menghadapi kematian, dan logikanya harusnya sudah sedemikian terbiasa. Tapi sesungguhnya saya tak pernah hadir di sana…

Ya…

Karena dulu saya berpikir jika melihat sosok terbungkus kain putih itu secara perlahan-lahan diturunkan ke lubang kematian, saya rasanya akan terkubur bersamanya. Bukan, bukan jasad saya… tapi hidup saya…

Itu memang pikiran anak umur 15 tahun, belum terbukti apa benar. Karena saya belum pernah membuktikannya… dan sampai sekarang saya belum berniat membuktikannya…

Btw, ini hanya racauan terpicu pengumuman dari speaker Masjid akan wafatnya seorang bapak di gang belakang, yang belum pernah saya dengar namanya dan bahkan mungkin belum pernah bertemu wajahnya. Tapi telah membuat saya bernostalgila….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s