Jika Aku Menjadi: Bayi

Tangisan, hanya itulah yang dapat aku andalkan untung mengomunikasikan keinginan. Meski aku punya struktur mulut yang rasanya lengkap, sayang belum bisa digunakan untuk mengucapkan kata yang bermakna. Sehingga untuk bilang aku haus, lelah, gerah, basah, semua bunyinya sama… “owaaaaaaaa”.

Bahasa tubuh, sungguh belum bisa diandalkan. Kaki-tanganku sering kali bergerak-gerak sendiri tanpa kuinginkan. Sering di tengah malam, badanku tak terkendali padahal aku ingin mengistirahatkan badan. Akhirnya karena sudah kesal, aku menangis kencang. Seorang perempuan terponggoh-ponggoh menenangkan, tapi kayaknya dia masih amatiran sehingga kadang tidak mengerti apa yang aku inginkan.

Perempuan itu sering memintaku menyebutnya “Mama”. Mama… ah kami sering salah paham, seperti yang sebelumnya aku ceritakan. Pernah di pagi buta aku pup, tapi si Mama masih terlelap. Karena cuma bisa bilang “eh eh eh”, kutendang-tendang dia sambil bersuara demikian.  Tapi sungguh dia susah dibangunkan, doh! Padahal popokku sudah lengket oleh pup pup pup. Dan Mama pun bangun, akhirnya 🙄 . Tapi bukannya langsung menuju popokku, eh dia malah menepuk-nepuk pantatku untung menenangkan. Duh, bikin si pupi makin menempel saja. Aku pun menangis kencang dan menendang-nendang untuk memprotes tindakannya. Eh dia malah menyodorkan susu dan menepuk-nepukku lagi. Aku makin kencang menangis. Dia pun makin memaksaku menyusu. Ya sudah aku menyusu saja, sambil kutarik-tarik dan kutendang-tendang. Akhirnya Mama menyadari ada yang salah, yah setelah aku protes sekian lama. Dia berujar dengan polosnya.. “Oh kamu pupi yah dede.. bilang, dong” 😮 . Oh em ji 🙄 .

Meskipun sering salah paham, tapi kami telah melewati banyak kejadian manis. Aku paling suka dengan ritual mandi. Karena badanku sudah lengket bau ompol, acem, dan cucu. Mama biasa membaluri seluruh tubuhku dengan minyak bayi. Meski lengket-lengket gitu tapi nyaman rasanya badan ini dipijat setelah seharian ototku tegang dan lelah setelah seharian heboh gerak-gerak. Aku mengomunikasikan rasa sukaku dengan tersenyum kepadanya dan mengucapkan ocehan acak macam begini “hakeeeeeng, nggiiiih, dan mimimi”. Dan dia akan terkejut serta senang sekali. Kemudian aku diceburkan ke dalam bak mandi hangat.. hah segar rasanya. Saking segarnya, habis mandi biasanya aku langsung jatuh terlelap.

Berbeda dengan ritual mandi yang menyenangkan, ritual dan ritme tidur kami saling berlawanan. Aku biasanya mudah terlelap di kala siang, sementara Mama di siang hari sibuk dengan buku dan netbook-nya sambil menungguiku. Sehingga di malam hari yang seharusnya dia istirahat, dihabiskannya untuk mencoba menidurkanku yang masih melotot dengan mata jernih. Aku bukannya tak mau tidur, aku pun sudah mengantuk ditandai dengan menguap beberapa kali. Tapi kadang badanku tak terkendali, kaki tanganku sering bergerak sendiri di luar kehendak, jadinya aku kesal dan menangis kencang. Suatu malam Mama menjelaskan itu adalah Refleks Morr, gerakan tanpa sadar yang sering dialami bayi terutama ketika bayi tengah mempelajari gerakan baru, seperti tengkurap, duduk, maupun berjalan. Dan setelah Mama browsing di internet, untuk meredam gerakan tersebut aku harus dibedong. Do you know “bedong”? Yaitu membungkus badanku dari pundak ke bawah agar aku tidak bergerak lincah. Dan… berhasil \m/. Aku lebih nyaman dan langsung terlelap. Meskipun kadang aku tak nyaman ketika udara panas dan gerah, maka kuporak-porandakan itu bedongan.

Begitulah, manis-asem-asin kehidupanku yang masih seumur bayi 2 bulan. Meski sering salah paham dan miskomunikasi, tapi aku dan Mama mencoba saling mengerti keinginan satu sama lain. Tak hanya saat aku belum cakap berbicara begini, nanti pun setelah aku sudah bisa mengucapkan kalimat lengkap yang bermakna, semoga kami bisa saling mengerti bukan hanya semata-mata mendengarkan saja.

.

.

.

Begitulah mungkin tafsiran dari serentetan perilaku putriku belakangan ini. Allah hu alam, entah benar atau tidak, saya hanya bisa menduga-duga demikian.

Advertisements

2 thoughts on “Jika Aku Menjadi: Bayi

  1. hanya saja menjadi bayi lebih riskan dengan segala bentuk penyakit karena kekebalan tubuh bayi msh kurang, untuk itu bayi perlu penanganan khusus.

  2. wow,,jdi senyum-senyum sendiri sambil baca,, membayangkan anak dirumah ngeluarin kata enggiiih,,yg orang rmh bilang sich enggeh,,maklum orang jawa,, thanks for the artikel,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s