Thrifty Phenotype Hypothesis

Begini kalau blogger hampir gantung keyboard, jarang mengunjungi blog sendiri, bahkan ketika tampilan situs wordpress.com sudah merubah -mungkin sudah lama juga berubahnya- jadi bingung nyari-nyari tulisan “log in“. Hehehe ūüė≥ . Eniwei, berhubung hiatus lama, di come back kali ini saya mau menumpahkan isi pikiran….

Begini…

Saat hamil dahulu mamah saya, neneknya Risa-chan, sering cerewet melarang macam-macam. Mending kalau larangannya masuk akal, yang sering terjadi itu adalah melarang sesuatu yang kalau dipikir-pikir tidak ada korelasinya dengan kehamilan. Misal, saya punya kebiasaan kalau makan ikan kepalanya selalu dimutilasi duluan, alasannya karena jijik. Tapi si mamah melarang takut si jabang bayi tidak ada kepalanya. Berhubung memang sudah jijik, tetep aja tuh kepala ikan dipenggal duluan. Dan kenyataannya, bayi saya masih ada kepalanya tuh, gede malah :lol:.

Hal-hal yang seperti itu -yang disebut pamali- sering menjadi momok dan bahan perdebatan. Tapi sesungguhnya pamali kadang-kadang ada benarnya juga. Misal, selama hamil si ibu mood-nya labil, anaknya kemudian menjadi cengeng. Tetangga saya, yang anaknya 9, sudah membuktikannya. Dan saya percaya! Setidaknya, hal ini mengindikasikan adanya pengaruh lingkungan/perilaku selama kehamilan pada perkembangan janin, bahkan mempengaruhi karakternya setelah lahir.

Bagaimana jika kita lihat dengan kacamata sains?

Sejak akhir dekade 90-an, dikalangan nutritionist, sudah berkembang hipotesis Thrifty Phenotype. yang mencoba menjelaskan hubungan antara faktor lingkungan selama kehamilan dengan resiko seseorang terkena penyakit-penyakit kronis ketika dewasa, seperti diabetes mellitus, obesitas, dan penyakit jantung.¬†Studi epidemiologi, banyak menunjukkan pada bayi-bayi yang lahir dengan berat badan rendah (<2500 g), ketika dewasa mereka akan lebih cepat terkena penyakit metabolisme (diabetes mellitus tipe 2, obesitas, penyakit jantung koroner, sindrom metabolik) dibandingkan orang-orang yang lahir dengan berat badan normal (3000-3500 g). Seperti kejadian kelaparan di Belanda tahun 1944, yang terkenal dengan “Hongerwinter” (“winter Hunger”) dalam bahasa Belanda, yaitu kelaparan yang terjadi di wilayah Belanda yang diduduki oleh Jerman selama musim dingin dari 1944-1945, menjelang akhir Perang Dunia II. Pada saat itu Jerman memblokade pengiriman makanan dan bahan bakar dari daerah pertanian untuk menghukum keengganan Belanda untuk membantu perang Nazi. Sekitar 22.000 orang meninggal, kebanyakan anak-anak dan orang tua.¬†Belakangan diketahui pada mereka yang selamat, terutama orang-orang yang pada saat kejadian tersebut masih berada di dalam kandungan, mereka lahir dengan berat badan rendah. Ketika dewasa mereka memiliki kadar gula darah yang tinggi, tekanan darah tinggi, serta lebih gemuk daripada orang-orang yang lahir dengan berat badan normal.

Kok gitu ya?

Sesungguhnya hal tersebut adalah efek samping dari proses adaptasi dan plastisitas organ tubuh dalam merespon  kondisi kekurangan nutrisi pada saat kehamilan. Ketika terpapar oleh kondisi kekurangan gizi, tubuh bayi berusaha menyesuaian fungsi organ-organ penting (otak, pankreas, hati) baik secara struktural maupun fungsional, sehingga  lebih mengoptimalkan perkembangan otak dengan mengorbankan pertambahan massa lemak dan otot. Sehingga bayi tersebut dapat survive, walaupun pada saat dilahirkan berat badannya akan rendah (>2500 g) namun perkembangan otaknya tetap optimal.

Nah… masalahnya adalah jika setelah lahir, si bayi kecil akan terpapar oleh lingkungan yang gizinya lebih melimpah. Biasanya bayi dengan berat lahir rendah mengalami pertambahan berat badan yang lebih cepat dibandingkan bayi dengan berat lahir normal. Seneng, doms? Eits, justru di sini bahayanya. Jika pertambahan berat badannya amat cepat, kita patut waspada dia akan lebih awal terkena obesitas dan diabetes. Karena, sederhananya, dia lahir dengan potensi memanfaatkan nutrisi sedikit (seperti saat di dalam kandungan), tapi ketika diberikan nutrisi melimpah tubuhnya tidak bisa mengolahnya, malah menumpuk menjadi timbunan lemak dan gula yang berlebih pun berputar-putar dalam aliran darah.¬†Percepatan pertumbuhan ini, dikenal dengan catch-up growth, telah diasosiasikan dengan peningkatan resiko penyakit metabolik, pematangan seksual lebih awal, dan polycystic ovary syndrome.

Catch-up growth, sesungguhnya adalah upaya survivalitas supaya bayi dengan berat lahir rendah punya kesempatan lebih tinggi untuk mencapai masa reproduksi, sehingga dia bisa mewariskan gen-nya ke keturunan berikutnya. Naturally, individu/populasi/spesies dianggap sukses jika berhasil melestarikan gen-nya, nggak perduli setelah itu dia/mereka kena serangan jantung atau bahkan mati. Yang penting, Kawin!! :lol:. Dan agaknya, manusia, sebagai salah satu anggota kingdom Animalia, pun tunduk pada hukum alam tersebut.

Namun, apakah faktor resikonya hanya kelaparan saja? Toh belakangan ini kita malah bermasalah dengan overnutrition? Penyebab bayi kecil tidak hanya karena kelaparan, tapi bisa juga karena kelainan pada plasenta. Plasenta adalah organ penting selama kehamilan yang berfungsi menghantarkan nutrisi dan oksigen, serta memproduksi hormon-hormon penting selama kehamilan. Faktor-faktor seperti stress dan merokok (aktif maupun pasif) telah dilaporkan berkorelasi dengan menurunnya aktivitas transport nutrisi dan oksigen pada plasenta. Akibatnya bayinya kecil, malah bisa lahir prematur.

Jadi, memang penting untuk menjaga kondisi/kesehatan selama kehamilan, yaitu dengan menerapkan asupan gizi seimbang (tak kurang dan tak lebih), hindari stress dan asap rokok, serta beraktifitas fisik yang cukup (tidak terlalu berat, tapi tidak sampai kecapekan juga). Daannn, yang penting, berbahagialah selalu… ^_^

**********

Further readings:

Roseboom TJ, van der Meulen JH, Ravelli AC, Osmond C, Barker DJ, Bleker OP. Effects of prenatal exposure to the Dutch famine on adult disease in later life: an overview. Mol Cell Endocrinol. 2001 Dec 20;185(1-2):93-8.

Hales CN, Ozanne SE. The dangerous road of catch-up growth. J Physiol. 2003 Feb 15;547(Pt 1):5-10.

Vieau D. Perinatal nutritional programming of health and metabolic adult
disease. World J Diabetes
. 2011 Sep 15;2(9):133-6.

Advertisements

3 thoughts on “Thrifty Phenotype Hypothesis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s