Growing in Pain

My-beloved-adorable-daughter, belakangan telah tumbuh dengan pesat. Di usianya yang hampir 10 bulan dia sudah dapat berdiri tegak meski mesti tetap berpegangan di tembok. Kecepatan merangkaknya pun sudah makin bertambah, apalagi dengan manuver undur-undur. Jangan tanya lagi tentang daya jelajahnya, dia bisa merangkak dari kamar tidur sampai ke teras depan, masuk-keluar kolong meja makan, plus manjat undakan lantai yang lebih tinggi menuju dapur. Hebatnya dia tidak hanya berjalan-jalan mengelilingi rumah, tapi juga mengeksplorasinya, segala benda yang ada di jalurnya pasti dikunyahnya, kalau dia suka ditelannya, kalau tidak ya dilepeh lagi.

Saya juga terkejut dengan perkembangan emosionalnya, dia tampaknya memiliki sifat ekspresif. Jika tidak mau dan tidak suka dia akan menggeleng dengan mantap dan berteriak “enggaaaaakk”, sementara jika tertarik dia akan menggerahkan usaha sekeras mungkin untuk meraihnya dan marah-marah kalau tidak berhasil. HAHA. Sering kali dia juga pundung, kalau saya tidak mengikuti keinginannya. Terpatri jelas di ingatan saya, di usianya yang 2 bulan, saya meninggalkannya sebentar pergi ke Mol, saat saya kembali dia buang muka tidak mau menatap saya, bahkan ditawari minum ASI pun tak mau. Oh oh… dia pundung.

Kacakapan bahasanya juga sudah meningkat pesat. Sejumlah kata macam:

mamah -> mamah
papah -> papah
enyek -> nenek
em -> om
mamam -> makan
nenen -> minum ASI
mum -> minum air putih
bem -> motor
tiktik -> (ketik) leptop
tatih -> lagih
de el el…

Baguslah, dia jadi cerewet.. hihi. Oya, dia juga sudah bisa bersiul (bunyi, lho!), dan nunjuk dengan satu jari telunjuknya. Sementara sekarang sedang belajar menjentikkan jarinya. Ini gara-gara diajarin sama ibu-ibu tetangga, berisul-siul pada burung di sangkar. She’s a fast learner, definitely just like her parents :-“.

Seluruh kebiasaannya tidak dia raih dengan instan, melainkan melalui serangkaian proses menyakitkan. Pertambahan tinggi dan beratnya didapatkan lewat serangkaian demam dan ketidak nyamanan. Kecakapannya dalam berdiri dan merayap-rayap pun melalui sejumlah proses nyungsep, nyusruk, benjol, dan rangkaian tangisan. Tapi gadis kecilku tak pernah kapok mencoba.

Kepedihan emosional pun tak luput dari hidupnya. Mamah, nenek, dan om-nya bergantian pergi bekerja, meninggalkan dia hanya bedua di rumah dengan mbak pengasuhnya. Rutinitas di pagi hari adalah dia menangis kencang mengiringi kepergian saya. Tapi sepulangnya ke rumah, dia tetap menyambut saya dengan senyum sumrigahnya, seakan-akan tangisannya tadi pagi sudah tak membekas lagi. Setelah saya tanya ke pengasuhnya, seharian Risa anteng main sendiri dan sesekali bercengkrama dengan ibu-ibu tetangga.

Mengamati kepedihannya, saya jadi berfikir begini… bahwa sejak awal kehidupan manusia, kita dicekoki serangkaian rasa sakit fisik dan emosional, dan berhasil survive melewatinya. Makin bertambah umur seseorang, makin banyak library rasa sakitnya. Ibarat sel memori dalam ilmu imunologi: ketika tubuh terpapar bibit penyakit (patogen) dari lingkungan luar, maka sistem kekebalan tubuh akan memproduksi antibodi spesifik yang akan melawan patogen tersebut. Selain itu tubuh akan menghasikan sel memori yang menyimpan ingatan patogen yang pernah menyerang tubuh, sehingga ketika patogen tersebut datang lagi di kemudian hari, tubuh dapat memproduksi antibodi spesifik dengan cepat.

Analogi yang sama bisa diterapkan dalam kehidupan dalam tingkat organisme. Macam begini, pengalaman kecurian  hati membuat seseorang belajar mengidentifikasi karakteristik si pencuri. Maka, ketika ada individu lain yang dia identifikasi berpotensi menjadi pencuri, dia pun akan seribu langkah menghindari. Hal ini tentunya dengan term and condition bahwa si tercuri hati telah merelakan hatinya dibawa pergi, bukannya malah menguntit kemana hatinya dibawa kabur…hi hi hi

Oleh karena itu, idealnya dalam sebuah sistem yang efisien, semakin banyak seseorang terpapar masalah, maka makin banyak library cara menanggulanginya. Namun sering saya mengamati, terutama terhadap diri sendiri, makin bertambah tua makin rapuh dan lebay saja. Semakin umur bertambah, semakin jadi penggerutu dan mengeluh.

Kadang saya suka malu sendiri jika melihat putri saya, dia yang sekecil itu bisa melalui rasa sakitnya :(. Ah, apakah karena dia masih muda? mungkinkah faktor umur berpengaruh?

Kemudian saya jadi teringat dengan fenomena cell aging and death. Karena, ternyata proses metabolisme yang terjadi di dalam sel, selain memberi sokongan sel itu tumbuh, tapi juga berkontribusi pada kematiannya. Seperti proses respirasi–pengolahan sari makanan menjadi energi–menghasilkan molekul berenergi tinggi ATP, namun di lain pihak juga menghasilkan zat radikal bebas yang dapat merusak struktur DNA, merusak struktur sel, dan memicu program apoptosis (kematian sel). Makin bertambah usia, maka makin terakumulasi radikal bebas terbut. Pada akhirnya sel akan menurun aktifitasnya dan lama-lama mati.

Balik lagi ke analogi sehari-hari, mungkin produk sampingan radikal bebas tersebut lah yang membuat kemampuan/daya tahan seseorang semakin menurun. Saya tak yakin bentuk nyatanya si radikal bebas, mungkin, mungkin lho yaa… rasa lelah, putus asa, sedih, dan segala emosi negatif yang muncul saat melalui tahap-tahap pemecahan masalah.

Jadi ketika seseorang ingin terus bertubuh dan berjiwa muda, dia harus mengkonsumsi antioksidan untuk meremajakan sistemnya. Antioksidan untuk tubuh mah bisa dikonsumsi dalam bentuk segar maupun tablet, kalau untuk jiwa? Yah diperjalanan pasti akan menemukannya, asal tetap bertahan hidup dan jangan mati konyol ditengah perjalanan….

Advertisements

One thought on “Growing in Pain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s