Kimia Opera Sabun

Professor Kimia yang legendaris itu pernah berujar, kelarutan adalah perkara interaksi zat terlarut dengan pelarut. Kalau kita contohkan protein, yaitu interaksi antara gugus samping yang bersifat polar dengan gugus -OH pada molekul air. Keduanya bersifat polar, sehingga bisa menyatu. Lain halnya dengan zat yang berbeda polaritas, seperti lemak dan air. Lemak yang non-polar tentu tak akan pernah bersatu dengan air yang polar. Lemak dapat larut dalam pelarut organik, macam kloroform.

Namun tentu, di alam ini selalu ada jalan tengah untuk menyatukan perbedaan, menyepakati dalam suatu mufakat, hidup beriringan, dan lain sebagainya… yaitu dengan SABUN. Sabun atawa detergen itu punya bagian molekul yang bisa mengikat air dan lemak. Sehingga dua fasa berbeda pun bisa bersatu membentuk emulsi, meski tidak stabil. Untuk tetap beremulsi, campuran minyak air mesti sering diberi guncangan (dikocok-kocok). Sebab jika didiamkan lama, kedua fasa akan kembali berpisah..

Guncangan untuk menyatukan…

Hello World!!

I decided to become a blogger (again), not a facebooker. Even though my ability in producing a long post (as compared to FB status) has been dramatically decreased, but I’ll try…

Yeah…

Cukup sekian untuk posting perdana, terima kasih…

#halah ­čśŤ

 

Gitu aja kok repot…

Jika kita ibaratkan agama sebagai pakaian, itu adalah identitas si pemakai yang membuatnya diterima dalam kumpulan atau sebaliknya menjadi pembenaran untuk pembantaian semata-mata demi keberagaman.

Jika kita ibaratkan kepercayaan sebagai pakaian dalam, itu adalah zona intim antara diri dengan UNKNOWN, bisa Tuhan atau hanTu. Tidak berada dalam kapasitas untuk dihakimi, karena tak logis rasanya memakai cangcut di luar celana.

Jadi terkadang ketika mengamati sosok-sosok SUPERMEN, yang mengumbar celana dalamnya, terbersit sebuah keraguan apakah dibaliknya dia memang tidak memakai apa-apa. Atau ada selembar lagi yang kusam, kumal, bau acem, tersembunyi dan tidak pernah dibersihkan.

Jadi ketika kau memandang seorang perempuan

berjilbab

pakaian tertutup rapat

wajah kalem tanpa ekspresi

ditelinganya tersumpal earphone, bukan mendengarkan nasyid atau murotal Quran…. melainkan METALICA

dilengannya mengenggam buku, bukan buku tafsir Al-Misbah, tapi tafsir Al-Nietzche

pandangannya menerawang, bukan mengagungkan Tuhan, tapi malah membunuhNya

Sesungguhnya yang nampak hanya pakaian, gitu aja kok repot….

Growing in Pain

My-beloved-adorable-daughter, belakangan telah tumbuh dengan pesat. Di usianya yang hampir 10 bulan dia sudah dapat berdiri tegak meski mesti tetap berpegangan di tembok. Kecepatan merangkaknya pun sudah makin bertambah, apalagi dengan manuver undur-undur. Jangan tanya lagi tentang daya jelajahnya, dia bisa merangkak dari kamar tidur sampai ke teras depan, masuk-keluar kolong meja makan, plus manjat undakan lantai yang lebih tinggi menuju dapur. Hebatnya dia tidak hanya berjalan-jalan mengelilingi rumah, tapi juga mengeksplorasinya, segala benda yang ada di jalurnya pasti dikunyahnya, kalau dia suka ditelannya, kalau tidak ya dilepeh lagi.

Saya juga terkejut dengan perkembangan emosionalnya, dia tampaknya memiliki sifat ekspresif. Jika tidak mau dan tidak suka dia akan menggeleng dengan mantap dan berteriak “enggaaaaakk”, sementara jika tertarik dia akan menggerahkan usaha sekeras mungkin untuk meraihnya dan marah-marah kalau tidak berhasil. HAHA. Sering kali dia juga pundung, kalau saya tidak mengikuti keinginannya. Terpatri jelas di ingatan saya, di usianya yang 2 bulan, saya meninggalkannya sebentar pergi ke Mol, saat saya kembali dia buang muka tidak mau menatap saya, bahkan ditawari minum ASI pun tak mau. Oh oh… dia pundung.

Kacakapan bahasanya juga sudah meningkat pesat. Sejumlah kata macam:

mamah -> mamah
papah -> papah
enyek -> nenek
em -> om
mamam -> makan
nenen -> minum ASI
mum -> minum air putih
bem -> motor
tiktik -> (ketik) leptop
tatih -> lagih
de el el…

Baguslah, dia jadi cerewet.. hihi. Oya, dia juga sudah bisa bersiul (bunyi, lho!), dan nunjuk dengan satu jari telunjuknya. Sementara sekarang sedang belajar menjentikkan jarinya. Ini gara-gara diajarin sama ibu-ibu tetangga, berisul-siul pada burung di sangkar. She’s a fast learner, definitely just like her parents :-“.

Seluruh kebiasaannya tidak dia raih dengan instan, melainkan melalui serangkaian proses menyakitkan. Pertambahan tinggi dan beratnya didapatkan lewat serangkaian demam dan ketidak nyamanan. Kecakapannya dalam berdiri dan merayap-rayap pun melalui sejumlah proses nyungsep, nyusruk, benjol, dan rangkaian tangisan. Tapi gadis kecilku tak pernah kapok mencoba.

Kepedihan emosional pun tak luput dari hidupnya. Mamah, nenek, dan om-nya bergantian pergi bekerja, meninggalkan dia hanya bedua di rumah dengan mbak pengasuhnya. Rutinitas di pagi hari adalah dia menangis kencang mengiringi kepergian saya. Tapi sepulangnya ke rumah, dia tetap menyambut saya dengan senyum sumrigahnya, seakan-akan tangisannya tadi pagi sudah tak membekas lagi. Setelah saya tanya ke pengasuhnya, seharian Risa anteng main sendiri dan sesekali bercengkrama dengan ibu-ibu tetangga.

Mengamati kepedihannya, saya jadi berfikir begini… bahwa sejak awal kehidupan manusia, kita dicekoki serangkaian rasa sakit fisik dan emosional, dan berhasil survive melewatinya. Makin bertambah umur seseorang, makin banyak library rasa sakitnya. Ibarat sel memori dalam ilmu imunologi: ketika tubuh terpapar bibit penyakit (patogen) dari lingkungan luar, maka sistem kekebalan tubuh akan memproduksi antibodi spesifik yang akan melawan patogen tersebut. Selain itu tubuh akan menghasikan sel memori yang menyimpan ingatan patogen yang pernah menyerang tubuh, sehingga ketika patogen tersebut datang lagi di kemudian hari, tubuh dapat memproduksi antibodi spesifik dengan cepat.

Analogi yang sama bisa diterapkan dalam kehidupan dalam tingkat organisme. Macam begini, pengalaman kecurian┬á hati membuat seseorang belajar mengidentifikasi karakteristik si pencuri. Maka, ketika ada individu lain yang dia identifikasi berpotensi menjadi pencuri, dia pun akan seribu langkah menghindari. Hal ini tentunya dengan term and condition bahwa si tercuri hati telah merelakan hatinya dibawa pergi, bukannya malah menguntit kemana hatinya dibawa kabur…hi hi hi

Oleh karena itu, idealnya dalam sebuah sistem yang efisien, semakin banyak seseorang terpapar masalah, maka makin banyak library cara menanggulanginya. Namun sering saya mengamati, terutama terhadap diri sendiri, makin bertambah tua makin rapuh dan lebay saja. Semakin umur bertambah, semakin jadi penggerutu dan mengeluh.

Kadang saya suka malu sendiri jika melihat putri saya, dia yang sekecil itu bisa melalui rasa sakitnya :(. Ah, apakah karena dia masih muda? mungkinkah faktor umur berpengaruh?

Kemudian saya jadi teringat dengan fenomena cell aging and death. Karena, ternyata proses metabolisme yang terjadi di dalam sel, selain memberi sokongan sel itu tumbuh, tapi juga berkontribusi pada kematiannya. Seperti proses respirasi–pengolahan sari makanan menjadi energi–menghasilkan molekul berenergi tinggi ATP, namun di lain pihak juga menghasilkan zat radikal bebas yang dapat merusak struktur DNA, merusak struktur sel, dan memicu program apoptosis (kematian sel). Makin bertambah usia, maka makin terakumulasi radikal bebas terbut. Pada akhirnya sel akan menurun aktifitasnya dan lama-lama mati.

Balik lagi ke analogi sehari-hari, mungkin produk sampingan radikal bebas tersebut lah yang membuat kemampuan/daya tahan seseorang semakin menurun. Saya tak yakin bentuk nyatanya si radikal bebas, mungkin, mungkin lho yaa… rasa lelah, putus asa, sedih, dan segala emosi negatif yang muncul saat melalui tahap-tahap pemecahan masalah.

Jadi ketika seseorang ingin terus bertubuh dan berjiwa muda, dia harus mengkonsumsi antioksidan untuk meremajakan sistemnya. Antioksidan untuk tubuh mah bisa dikonsumsi dalam bentuk segar maupun tablet, kalau untuk jiwa? Yah diperjalanan pasti akan menemukannya, asal tetap bertahan hidup dan jangan mati konyol ditengah perjalanan….

Thrifty Phenotype Hypothesis

Begini kalau blogger hampir gantung keyboard, jarang mengunjungi blog sendiri, bahkan ketika tampilan situs wordpress.com sudah merubah -mungkin sudah lama juga berubahnya- jadi bingung nyari-nyari tulisan “log in“. Hehehe ­čś│ . Eniwei, berhubung hiatus lama, di come back kali ini saya mau menumpahkan isi pikiran….

Begini…

Saat hamil dahulu mamah saya, neneknya Risa-chan, sering cerewet melarang macam-macam. Mending kalau larangannya masuk akal, yang sering terjadi itu adalah melarang sesuatu yang kalau dipikir-pikir tidak ada korelasinya dengan kehamilan. Misal, saya punya kebiasaan kalau makan ikan kepalanya selalu dimutilasi duluan, alasannya karena jijik. Tapi si mamah melarang takut si jabang bayi tidak ada kepalanya. Berhubung memang sudah jijik, tetep aja tuh kepala ikan dipenggal duluan. Dan kenyataannya, bayi saya masih ada kepalanya tuh, gede malah :lol:.

Hal-hal yang seperti itu -yang disebut pamali- sering menjadi momok dan bahan perdebatan. Tapi sesungguhnya pamali kadang-kadang ada benarnya juga. Misal, selama hamil si ibu mood-nya labil, anaknya kemudian menjadi cengeng. Tetangga saya, yang anaknya 9, sudah membuktikannya. Dan saya percaya! Setidaknya, hal ini mengindikasikan adanya pengaruh lingkungan/perilaku selama kehamilan pada perkembangan janin, bahkan mempengaruhi karakternya setelah lahir.

Bagaimana jika kita lihat dengan kacamata sains?

Sejak akhir dekade 90-an, dikalangan nutritionist, sudah berkembang hipotesis Thrifty Phenotype. yang mencoba menjelaskan hubungan antara faktor lingkungan selama kehamilan dengan resiko seseorang terkena penyakit-penyakit kronis ketika dewasa, seperti diabetes mellitus, obesitas, dan penyakit jantung.┬áStudi epidemiologi, banyak menunjukkan pada bayi-bayi yang lahir dengan berat badan rendah (<2500 g), ketika dewasa mereka akan lebih cepat terkena penyakit metabolisme (diabetes mellitus tipe 2, obesitas, penyakit jantung koroner, sindrom metabolik) dibandingkan orang-orang yang lahir dengan berat badan normal (3000-3500 g). Seperti kejadian kelaparan di Belanda tahun 1944, yang terkenal dengan “Hongerwinter” (“winter Hunger”) dalam bahasa Belanda, yaitu kelaparan yang terjadi di wilayah Belanda yang diduduki oleh Jerman selama musim dingin dari 1944-1945, menjelang akhir Perang Dunia II. Pada saat itu Jerman memblokade pengiriman makanan dan bahan bakar dari daerah pertanian untuk menghukum keengganan Belanda untuk membantu perang Nazi. Sekitar 22.000 orang meninggal, kebanyakan anak-anak dan orang tua.┬áBelakangan diketahui pada mereka yang selamat, terutama orang-orang yang pada saat kejadian tersebut masih berada di dalam kandungan, mereka lahir dengan berat badan rendah. Ketika dewasa mereka memiliki kadar gula darah yang tinggi, tekanan darah tinggi, serta lebih gemuk daripada orang-orang yang lahir dengan berat badan normal.

Kok gitu ya?

Sesungguhnya hal tersebut adalah efek samping dari proses adaptasi dan plastisitas organ tubuh dalam merespon  kondisi kekurangan nutrisi pada saat kehamilan. Ketika terpapar oleh kondisi kekurangan gizi, tubuh bayi berusaha menyesuaian fungsi organ-organ penting (otak, pankreas, hati) baik secara struktural maupun fungsional, sehingga  lebih mengoptimalkan perkembangan otak dengan mengorbankan pertambahan massa lemak dan otot. Sehingga bayi tersebut dapat survive, walaupun pada saat dilahirkan berat badannya akan rendah (>2500 g) namun perkembangan otaknya tetap optimal.

Nah… masalahnya adalah jika setelah lahir, si bayi kecil akan terpapar oleh lingkungan yang gizinya lebih melimpah. Biasanya bayi dengan berat lahir rendah mengalami pertambahan berat badan yang lebih cepat dibandingkan bayi dengan berat lahir normal. Seneng, doms? Eits, justru di sini bahayanya. Jika pertambahan berat badannya amat cepat, kita patut waspada dia akan lebih awal terkena obesitas dan diabetes. Karena, sederhananya, dia lahir dengan potensi memanfaatkan nutrisi sedikit (seperti saat di dalam kandungan), tapi ketika diberikan nutrisi melimpah tubuhnya tidak bisa mengolahnya, malah menumpuk menjadi timbunan lemak dan gula yang berlebih pun berputar-putar dalam aliran darah.┬áPercepatan pertumbuhan ini, dikenal dengan catch-up growth, telah diasosiasikan dengan peningkatan resiko penyakit metabolik, pematangan seksual lebih awal, dan polycystic ovary syndrome.

Catch-up growth, sesungguhnya adalah upaya survivalitas supaya bayi dengan berat lahir rendah punya kesempatan lebih tinggi untuk mencapai masa reproduksi, sehingga dia bisa mewariskan gen-nya ke keturunan berikutnya. Naturally, individu/populasi/spesies dianggap sukses jika berhasil melestarikan gen-nya, nggak perduli setelah itu dia/mereka kena serangan jantung atau bahkan mati. Yang penting, Kawin!! :lol:. Dan agaknya, manusia, sebagai salah satu anggota kingdom Animalia, pun tunduk pada hukum alam tersebut.

Namun, apakah faktor resikonya hanya kelaparan saja? Toh belakangan ini kita malah bermasalah dengan overnutrition? Penyebab bayi kecil tidak hanya karena kelaparan, tapi bisa juga karena kelainan pada plasenta. Plasenta adalah organ penting selama kehamilan yang berfungsi menghantarkan nutrisi dan oksigen, serta memproduksi hormon-hormon penting selama kehamilan. Faktor-faktor seperti stress dan merokok (aktif maupun pasif) telah dilaporkan berkorelasi dengan menurunnya aktivitas transport nutrisi dan oksigen pada plasenta. Akibatnya bayinya kecil, malah bisa lahir prematur.

Jadi, memang penting untuk menjaga kondisi/kesehatan selama kehamilan, yaitu dengan menerapkan asupan gizi seimbang (tak kurang dan tak lebih), hindari stress dan asap rokok, serta beraktifitas fisik yang cukup (tidak terlalu berat, tapi tidak sampai kecapekan juga). Daannn, yang penting, berbahagialah selalu… ^_^

**********

Further readings:

Roseboom TJ, van der Meulen JH, Ravelli AC, Osmond C, Barker DJ, Bleker OP. Effects of prenatal exposure to the Dutch famine on adult disease in later life: an overview. Mol Cell Endocrinol. 2001 Dec 20;185(1-2):93-8.

Hales CN, Ozanne SE. The dangerous road of catch-up growth. J Physiol. 2003 Feb 15;547(Pt 1):5-10.

Vieau D. Perinatal nutritional programming of health and metabolic adult
disease. World J Diabetes
. 2011 Sep 15;2(9):133-6.