The Art of LDR

Kami lahir dan dibesarkan di dua kota berbeda terpisah jarak 146 km

Saat aku kuliah di tahun ke 3 kami malah memperlebar jaraknya menjadi 7337.18 km

Perkenalan pertama kami,  2 tahun 4 bulan yang lalu, pun masih pada jarak yang sama, 7337.18 km

Namun ketika saatnya tiba, pertemuan pertama sekaligus mengikat janji setia selamanya, kami memperpedek jarak menjadi sekitar 21-0 km

Jarak 21-0 km kami jalani 2 bulan saja sampai kami harus kembali berjarak 7337.18 km

Sekarang, terhitung sudah 10 bulan kami kembali ke jarak 7333.18 km tersebut

Akhirnya kalau dihitung-hitung…

Kami telah hidup terpisah sejak… *menghitung* 27 tahun 3 bulan untukku dan 32 tahun 11 bulan untuknya pada jarak berkisar antara 7337.18-136 km

Haha.. galau? 😆

Tentu saja 😥

Ah tapi coba lihat seberapa jauh dan lama kami akhirnya saling menemukan satu sama lain, membuatnya amat berharga untuk dipertahankan… selamanya… selama yang bisa diusahakan

The art of LDR and any type of relationship:

Rumput di depan rumah kita jauh lebih subur dan hijau daripada rumput tetangga

Dan seperti yang pernah aku tulis [di sini]

… penderitaan itu bersumber ketika kita menginginkan seseorang mencintai dengan cara yang kita inginkan, bukannya membebaskan sebagaimana cinta itu dengan semestinya memanifestasikan diri.

[The Zahir-Paulo Coelho]

Demikian menurut pengalamanku, bagaimana dengan Anda?

Tentang Hak Asasi Anak: Agama, Sunat dan Tindik Telinga

Menjadi orang tua adalah segalanya tentang memberi yang terbaik kepada anak. Makanan terbaik, pakaian terbaik, pendidikan terbaik, pasti ingin yang segala-galanya terbaik. Tapi tentu ukuran terbaik itu relatif mengacu pada takaran penilaian orang tua, dan lingkungan sekitar. Apalagi pada anak yang baru di awal usia kehidupannya, saat ia tengah berada pada masa keemasan ketika otak dan panca indranya seperti spons yang menyerap rangsangan luar dengan pesat. Ketika dia diperkenalkan pada gaya (ritme) hidup manusia normal, beserta segala rutinitas dan peraturan yang sesuai dengan tatakrama sosial, otaknya akan meresapnya dan mengendapkannya.

Sering saya memandang wajah polos Risa, dan bertanya-tanya… “Apakah yang menurut Mama adalah hal terbaik untukmu, memang benar-benar baik untukmu ya, de?” 😕 . Pada soal apa saja? Banyak. Yang paling krusial adalah tentang hak asasinya, misalnya saja dalam beragama. Ah, dulu juga Mas Gentole pernah mempertanyakan adakah hak asasi anak dalam memilih agamanya. Saya dan suami termasuk tidak fanatik ingin mendoktrinkan kepercayaan kami kepada anak. Tapi mustahil melepaskan anak ke pergaulan masyarakat tanpa identitas agama, dia akan bingung tidak masuk ke kotak apapun. Karenanya kami sepakat untuk membekali sewajarnya tentang ketuhanan dan ritual keagamaan, sembari mencoba menumbuhkan sikap kritis. Sehingga jika nanti dia ingin mencari, tidak pakai nyasar muter-muter kaya emak-bapaknya 😆 .

Selain soal agama yang sifatnya universal, hal lain yang bisa melanggar hak asasi, tak lain tak bukan adalah perlakuan fisik terutama pada anak perempuan yang berpotensi menyiksa dengan semata-mata dilandaskan pada dalil agama dan stigma sosial *halah kepanjangan* 😆 . Singkatnya adalah pada perkara: SUNAT dan TINDIK. Dua hal yang lumrah dilakukan pada bayi perempuan yang baru lahir, dulu.. tapi sekarang?

Kembali ke 2 tahun lalu di tengah-tengah pecakapan makan siang bareng teman-teman kantor, yang mereka kebetulan adalah praktisi kesehatan, kami membahas tentang praktisi sunat perempuan dari berbagai negara. Mulai yang terekstrim sampai memotong klitoris dan menjahit labia majora, sehingga yang tersisa hanya lubangnya saja. Oh sungguh  perempuan seakan-akan diperuntukan untuk produksi anak saja tanpa membiarkannya menikmati prosesnya. Sementara di Indonesia konon hanya dengan membuang tudung klitoris, yang sesungguhnya tidak jelas mudharat-nya jika dibandingkan dengan preputium (kulit pada ujung penis) pada laki-laki. Semenjak hari itu saya berketetapan hati untuk tidak menyunat jika dianugerahi anak perempuan.

Dan ketika Risa lahir, apakah semudah itu keputusan tidak menyunat diberlakukan? Ehe, saya dan suami sepakat untuk tidak menyunatnya. Tapi pertanyaan dari orang-orang luar lah yang membikin gerah. Mamah saya awalnya tidak sepakat, karena dari dulu perempuan harusnya memang disunat. Dan setelah saya jelaskan alasannya, beliau untungnya menerima. Namun terkadang sering orang lain bertanya, dan ketika saya jawab “tidak” dan bukannya “belum”, beserta penjelasan alasannya, kebanyakan respon para ibu senior itu adalah “tapi dari dulu juga anak perempuan selalu disunat“. See? Haha 😆 . Untungnya saya punya alasan pamungkas, bahwa surat edaran Depkes tahun 2010 melarang praktisi kesehatan untuk melakukan sunat pada perempuan. Dan nyatanya memang rumah sakit sekarang tidak melayani jasa sunat perempuan.

Soal tindik telinga pun nasibnya sama dengan sunat, sama-sama lumrah dilakukan tapi alasan yang mendasarinya sesungguhnya tidak penting-penting amat. Sepemahaman saya tindik telinga dilakukan untuk diferensiasi gender, pembeda bayi perempuan dari bayi laki-laki, serta untuk alasan estetika agar bayi perempuan tampak cantik dengan perhiasan menggelantung di telinga. Tindik juga dilakukan sedini mungkin supaya bayi tidak terlalu merasakan sakit dan sedari awal terbiasa dengan anting yang menggantung di telinganya sehingga tidak ditarik-tarik. Beberapa kawan yang juga baru melahirkan telah menindik bayinya di umur kurang dari seminggu malah. Dulu setelah melahirkan, saya ragu menindik Risa karena dia lahir dengan berat badan rendah (2,6 kg) dan telinganya begitu tipis. Kebayang kalau dilubangi dan digelayuti logam emas meski hanya 0.5 g, telinga rapuh itu bisa sedemikian terbebani. Awalnya saya berniat menindiknya setelah dia berusia 3 bulan, setelah mendapat vaksin Tetanus. Karena bagaimanapun juga tindik telinga merupakan tindakan melukai yang memiliki resiko infeksi dan tertular penyakit semacam hepatitis bahkan HIV jika peralatan yang digunakan tidak disterilisasi dengan baik. Setidaknya setelah dia mendapat vaksin, kekebalan tubuhnya untuk melawan infeksi sudah terbentuk.

Namun sekarang, kalau dipikir-pikir lagi, meskipun sebagai ibu yang telah mempertaruhkan nyawa mengandung dan melahirkannya, apa saya punya hak untuk melubangi telinganya (melukai bagian tubuhnya) semata-mata untuk alasan yang sederhana. Dia berhak atas tubuh seutuhnya, sebagaimana sempurnanya dia dilahirkan. Melubangi telinganya, harusnya atas seijinnya, sang pemilik tubuh. Lagipula diferensiasi gender bisa dilakukan dengan memakaikan pakaian khas perempuan, baik dari model maupun warna. Dan jika demi alasan estetika anak usia belia mana mengerti soal kecantikan, malah rasanya cuma memuaskan ego ibunya yang ingin anaknya tampil cantik.

Haha…

Jadi apakah bulan depan kami jadi melubangi telinga mungilnya? Rasanya kami akan memikirkannya lagi. Mungkin menunggu sampai Risa bisa mengutarakan keinginan telinganya mau ditindik atau tidak, karena toh dia lah yang paling berhak memutuskan atas tubuhnya sendiri.

Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,

Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

~Kahlil Gibran~

Jika Aku Menjadi: Bayi

Tangisan, hanya itulah yang dapat aku andalkan untung mengomunikasikan keinginan. Meski aku punya struktur mulut yang rasanya lengkap, sayang belum bisa digunakan untuk mengucapkan kata yang bermakna. Sehingga untuk bilang aku haus, lelah, gerah, basah, semua bunyinya sama… “owaaaaaaaa”.

Bahasa tubuh, sungguh belum bisa diandalkan. Kaki-tanganku sering kali bergerak-gerak sendiri tanpa kuinginkan. Sering di tengah malam, badanku tak terkendali padahal aku ingin mengistirahatkan badan. Akhirnya karena sudah kesal, aku menangis kencang. Seorang perempuan terponggoh-ponggoh menenangkan, tapi kayaknya dia masih amatiran sehingga kadang tidak mengerti apa yang aku inginkan.

Perempuan itu sering memintaku menyebutnya “Mama”. Mama… ah kami sering salah paham, seperti yang sebelumnya aku ceritakan. Pernah di pagi buta aku pup, tapi si Mama masih terlelap. Karena cuma bisa bilang “eh eh eh”, kutendang-tendang dia sambil bersuara demikian.  Tapi sungguh dia susah dibangunkan, doh! Padahal popokku sudah lengket oleh pup pup pup. Dan Mama pun bangun, akhirnya 🙄 . Tapi bukannya langsung menuju popokku, eh dia malah menepuk-nepuk pantatku untung menenangkan. Duh, bikin si pupi makin menempel saja. Aku pun menangis kencang dan menendang-nendang untuk memprotes tindakannya. Eh dia malah menyodorkan susu dan menepuk-nepukku lagi. Aku makin kencang menangis. Dia pun makin memaksaku menyusu. Ya sudah aku menyusu saja, sambil kutarik-tarik dan kutendang-tendang. Akhirnya Mama menyadari ada yang salah, yah setelah aku protes sekian lama. Dia berujar dengan polosnya.. “Oh kamu pupi yah dede.. bilang, dong” 😮 . Oh em ji 🙄 .

Meskipun sering salah paham, tapi kami telah melewati banyak kejadian manis. Aku paling suka dengan ritual mandi. Karena badanku sudah lengket bau ompol, acem, dan cucu. Mama biasa membaluri seluruh tubuhku dengan minyak bayi. Meski lengket-lengket gitu tapi nyaman rasanya badan ini dipijat setelah seharian ototku tegang dan lelah setelah seharian heboh gerak-gerak. Aku mengomunikasikan rasa sukaku dengan tersenyum kepadanya dan mengucapkan ocehan acak macam begini “hakeeeeeng, nggiiiih, dan mimimi”. Dan dia akan terkejut serta senang sekali. Kemudian aku diceburkan ke dalam bak mandi hangat.. hah segar rasanya. Saking segarnya, habis mandi biasanya aku langsung jatuh terlelap.

Berbeda dengan ritual mandi yang menyenangkan, ritual dan ritme tidur kami saling berlawanan. Aku biasanya mudah terlelap di kala siang, sementara Mama di siang hari sibuk dengan buku dan netbook-nya sambil menungguiku. Sehingga di malam hari yang seharusnya dia istirahat, dihabiskannya untuk mencoba menidurkanku yang masih melotot dengan mata jernih. Aku bukannya tak mau tidur, aku pun sudah mengantuk ditandai dengan menguap beberapa kali. Tapi kadang badanku tak terkendali, kaki tanganku sering bergerak sendiri di luar kehendak, jadinya aku kesal dan menangis kencang. Suatu malam Mama menjelaskan itu adalah Refleks Morr, gerakan tanpa sadar yang sering dialami bayi terutama ketika bayi tengah mempelajari gerakan baru, seperti tengkurap, duduk, maupun berjalan. Dan setelah Mama browsing di internet, untuk meredam gerakan tersebut aku harus dibedong. Do you know “bedong”? Yaitu membungkus badanku dari pundak ke bawah agar aku tidak bergerak lincah. Dan… berhasil \m/. Aku lebih nyaman dan langsung terlelap. Meskipun kadang aku tak nyaman ketika udara panas dan gerah, maka kuporak-porandakan itu bedongan.

Begitulah, manis-asem-asin kehidupanku yang masih seumur bayi 2 bulan. Meski sering salah paham dan miskomunikasi, tapi aku dan Mama mencoba saling mengerti keinginan satu sama lain. Tak hanya saat aku belum cakap berbicara begini, nanti pun setelah aku sudah bisa mengucapkan kalimat lengkap yang bermakna, semoga kami bisa saling mengerti bukan hanya semata-mata mendengarkan saja.

.

.

.

Begitulah mungkin tafsiran dari serentetan perilaku putriku belakangan ini. Allah hu alam, entah benar atau tidak, saya hanya bisa menduga-duga demikian.

Kotak Imajiner

Dahulu sekali, saya pernah menciptakan sebuah kotak. Sebutlah sebuah kotak hitam, karena hitam adalah warna favorit saya, yang saya ciptakan di suatu malam dalam perjalanan bertemu jenazah orang paling tersayang. Waktu itu, di usia belia, tak mengerti bahayanya mengubur dan mengukung emosi negatif, hal itulah yang secara sadar saya lakukan.

Dan, berhasil… saat orang-orang menangis meraung-raung meratapi kepergiannya, saya bisa dengan tenangnya, tanpa tangisan, mengiringi jenazahnya dibungkus kain kafan dengan lantunan Surat Yasin, yang nyaris tanpa intonasi dan emosi. Seingat saya, saat dalam kondisi tersebut saya merasa normal, padahal mungkin tengah berada dalam kegilaan. Kenormalan yang terus dipertahankan sampai keesokan harinya, ketika semua pelayat sudah pulang, dan saya harus berangkat sekolah menghadapi ujian kenaikan kelas. Saya yang masih belia dikarbit secara instan untuk menjadi dewasa.

Sampai bertahun-tahun kemudian, seiring kepergian mayoritas orang terdekat yang sosoknya sempat menggantikan kehilangan yang pertama,  isi kotak tersebut makin berjejalan. Desakan letupan perasaan yang selalu coba ditahan, tapi sekalinya meluap seluruh isinya membanjir dan menggelamkan saya sampai ke dasar.

Saya tak pernah benar-benar menghilangkan kotak imajiner, dan membebaskan segala yang terkukung di dalamnya. Bahkan tak pernah sekalipun saya pikirkan, apalagi membicarakannya, seperti tulisan ini yang sedemikian gamblang. Hanya disimpan, dirawat, bertahan dalam penderitaan untuk terbebas melalui sebentuk ketabahan. Tentu semua saya sandarkan pada keberadaan Tuhan, bahwa setiap keping hati yang berserakan akan mengantarkan saya makin dekat pada kasih-Nya… atau rasa kasihan-Nya seraya memohon-mohon agar Beliau melenyapkan kepedihan saya seketika.

Haha.. masa lalu :mrgreen:

Kata orang, masa lalu bisa sedemikian konyolnya dipandang dari masa kini. Tapi saya merasa konyol karena di masa kini masih enggan/takut hadir dalam sebuah pemakaman. Karena toh saya sudah sering menghadapi kematian, dan logikanya harusnya sudah sedemikian terbiasa. Tapi sesungguhnya saya tak pernah hadir di sana…

Ya…

Karena dulu saya berpikir jika melihat sosok terbungkus kain putih itu secara perlahan-lahan diturunkan ke lubang kematian, saya rasanya akan terkubur bersamanya. Bukan, bukan jasad saya… tapi hidup saya…

Itu memang pikiran anak umur 15 tahun, belum terbukti apa benar. Karena saya belum pernah membuktikannya… dan sampai sekarang saya belum berniat membuktikannya…

Btw, ini hanya racauan terpicu pengumuman dari speaker Masjid akan wafatnya seorang bapak di gang belakang, yang belum pernah saya dengar namanya dan bahkan mungkin belum pernah bertemu wajahnya. Tapi telah membuat saya bernostalgila….

A Quarter Life Crisis

“Kapan…?”

Setiap kalimat tanya yang diawali oleh satu kata di atas itu pernah menjadi momok yang menyebalkan dalam suatu rentang usia hidup saya. Dan entah kenapa kok orang-orang jadi lebih banyak bertanya dengan diawali satu kata tersebut di dalam rentang usia tersebut. Dan entah kenapa saya juga amat terpengaruh olehnya, padahal sebelumnya, ketika masih sedikit lebih muda, saya bisa santai menanggapinya.

Sesungguhnya, pertanyaan “Kapan…?” yang membuat saja jengah hanya dua. “Kapan kawin?” yang kebanyakan dipertanyakan oleh oknum sekitar keluarga dan pertemanan non-akademis dan non-profesi, dan “Kapan sekolah lagi?” yang dipertanyakan oleh oknum sekitar lingkup akademis dan profesi. Oh dua pertanyaan akan dua status yang (bisa) saling berseberangan dan (malahan bisa) saling meniadakan. Mengapa demikian? Saya masih ingat wejangan mamah saya, dan tante, dan sepupu, dan tetangga 😆 , jika laki-laki kadang takut pada perempuan berpendidikan tinggi, terutama yang lebih tinggi dari dirinya 🙄 . Oh, sial 😆 . Padahal cita-cita saya jadi PhD dan kalaupun jadi ibu rumah tangga maunya di luar negeri. Dan tentu sulit mencari calon suami yang bisa mewujudkan kedua hal tersebut, kalaupun ada belum tentu mau sama saya :lol:.

Penanya paling menuntut tentu saja orang tua saya, yang segera ingin menimang cucu, dan terutama mengamankan satu-satunya anak gadisnya yang ambisius mengejar pendidikan untuk bersegera terikat dalam kemapanan pernikahan. Suatu hari beliau pernah bertanya “Kapan kawin?” kepada saya, tepat sesaat saya mengutarakan keinginan untuk melamar sejumlah beasiswa luar negeri. Dan tanpa pikir panjang saya pun nyeletuk “Nanti kalau sudah 26 tahun, kalau sudah 2010”. Saat itu usia saya 24 tahun.

Meski hanya asal nyeletuk dan kepepet nyari jawaban aman, kemudian saya berpikir kenapa “26”? :-?. Bukan usia realistis untuk menikah jikalau saya ingin mengejar kesempatan sekolah ke luar negeri, karena untuk studi Master pun butuh waktu 2 tahun apalagi kalau lanjut PhD yang memakan usia lebih banyak. Setidaknya umur awal 30 lah saya sudah terbebas dari bangku kuliah, dan baru memikirkan berumah tangga. Tapi ya itu tadi… jika sekolah sambil terus melajang. Lain halnya jika di sana saya ketemu pangeran bermata biru atau orang Indo sesama student dan kemudian mengikatkan diri hidup saling bergantung satu sama lain di negeri orang. Pokoknya menikah di usia “26” bukan hal yang realistis.

Tapi lama kelamaan momok “26” dan “2010” telah menjadi semacam deadline, tenggat waktu untuk merubah nasib. Perasaan stuck, mentok, terjebak, dan ingin melompat lebih tinggi menghiasi hari-hari di seputaran usia seperempat abad. Saat itu saya sudah bekerja tepat 2 tahun, cukup untuk prasayarat sejumlah beasiswa. Pekerjaan terasa monoton, sempat diping-pong ke berbagai proyek penelitian yang tidak sampai selesai kemudian tenggelam dalam ide-ide baru lainnya, ditambah merasakan intrik dalam dunia yang sebenarnya. Semua mengusik jiwa idealis saya, yang dengan naifnya, masih membandingkannya dengan masa ketika masih jadi mahasiswa. Yang saat itu diinginkan adalah sebuah lompatan, karir… apapun… agar hidup saya lebih bergejolak. Sementara dipihak lain desakan keluarga untuk menikah menjadi semacam alternatif lain, yang pada saat itu tidak terlalu saya seriusi karena tengah patah hati 😆 .

Perasaan galau usia 25 tahun tersebut, yang nama kerennya “Quarter Life Crisis“, meski berefek samping galau, antisosial, krisis identitas, insekuritas, sampai mengarah ke depresi; sebenarnya merupakan katalisator percepatan pendewasaan seseorang. Saat di satu titik usia saya merasa ingin lebih, dan mulai membuka mata pada percepatan pendewasaan orang lain. Di tahap yang sama, saya pun menilik ke dalam diri dan mempertanyakan apa yang selanjutnya ingin dilakukan dan dicapai. Jika tidak ada krisis tersebut, saya bisa cepat puas dan menerima keadaan. Tentu saja menerima keadaan adalah hal mulia, tapi tentu kita ingin naik pada level selanjutnya untuk bisa melihat dunia dari tempat yang lebih tinggi. Seperti kata Senna pada Ichigo di Bleach Movie I…

“When you’re up high, all the stuff that looks confusing and messed up… suddenly becomes crystal clear.”