Jika Aku Menjadi: Bayi

Tangisan, hanya itulah yang dapat aku andalkan untung mengomunikasikan keinginan. Meski aku punya struktur mulut yang rasanya lengkap, sayang belum bisa digunakan untuk mengucapkan kata yang bermakna. Sehingga untuk bilang aku haus, lelah, gerah, basah, semua bunyinya sama… “owaaaaaaaa”.

Bahasa tubuh, sungguh belum bisa diandalkan. Kaki-tanganku sering kali bergerak-gerak sendiri tanpa kuinginkan. Sering di tengah malam, badanku tak terkendali padahal aku ingin mengistirahatkan badan. Akhirnya karena sudah kesal, aku menangis kencang. Seorang perempuan terponggoh-ponggoh menenangkan, tapi kayaknya dia masih amatiran sehingga kadang tidak mengerti apa yang aku inginkan.

Perempuan itu sering memintaku menyebutnya “Mama”. Mama… ah kami sering salah paham, seperti yang sebelumnya aku ceritakan. Pernah di pagi buta aku pup, tapi si Mama masih terlelap. Karena cuma bisa bilang “eh eh eh”, kutendang-tendang dia sambil bersuara demikian.  Tapi sungguh dia susah dibangunkan, doh! Padahal popokku sudah lengket oleh pup pup pup. Dan Mama pun bangun, akhirnya 🙄 . Tapi bukannya langsung menuju popokku, eh dia malah menepuk-nepuk pantatku untung menenangkan. Duh, bikin si pupi makin menempel saja. Aku pun menangis kencang dan menendang-nendang untuk memprotes tindakannya. Eh dia malah menyodorkan susu dan menepuk-nepukku lagi. Aku makin kencang menangis. Dia pun makin memaksaku menyusu. Ya sudah aku menyusu saja, sambil kutarik-tarik dan kutendang-tendang. Akhirnya Mama menyadari ada yang salah, yah setelah aku protes sekian lama. Dia berujar dengan polosnya.. “Oh kamu pupi yah dede.. bilang, dong” 😮 . Oh em ji 🙄 .

Meskipun sering salah paham, tapi kami telah melewati banyak kejadian manis. Aku paling suka dengan ritual mandi. Karena badanku sudah lengket bau ompol, acem, dan cucu. Mama biasa membaluri seluruh tubuhku dengan minyak bayi. Meski lengket-lengket gitu tapi nyaman rasanya badan ini dipijat setelah seharian ototku tegang dan lelah setelah seharian heboh gerak-gerak. Aku mengomunikasikan rasa sukaku dengan tersenyum kepadanya dan mengucapkan ocehan acak macam begini “hakeeeeeng, nggiiiih, dan mimimi”. Dan dia akan terkejut serta senang sekali. Kemudian aku diceburkan ke dalam bak mandi hangat.. hah segar rasanya. Saking segarnya, habis mandi biasanya aku langsung jatuh terlelap.

Berbeda dengan ritual mandi yang menyenangkan, ritual dan ritme tidur kami saling berlawanan. Aku biasanya mudah terlelap di kala siang, sementara Mama di siang hari sibuk dengan buku dan netbook-nya sambil menungguiku. Sehingga di malam hari yang seharusnya dia istirahat, dihabiskannya untuk mencoba menidurkanku yang masih melotot dengan mata jernih. Aku bukannya tak mau tidur, aku pun sudah mengantuk ditandai dengan menguap beberapa kali. Tapi kadang badanku tak terkendali, kaki tanganku sering bergerak sendiri di luar kehendak, jadinya aku kesal dan menangis kencang. Suatu malam Mama menjelaskan itu adalah Refleks Morr, gerakan tanpa sadar yang sering dialami bayi terutama ketika bayi tengah mempelajari gerakan baru, seperti tengkurap, duduk, maupun berjalan. Dan setelah Mama browsing di internet, untuk meredam gerakan tersebut aku harus dibedong. Do you know “bedong”? Yaitu membungkus badanku dari pundak ke bawah agar aku tidak bergerak lincah. Dan… berhasil \m/. Aku lebih nyaman dan langsung terlelap. Meskipun kadang aku tak nyaman ketika udara panas dan gerah, maka kuporak-porandakan itu bedongan.

Begitulah, manis-asem-asin kehidupanku yang masih seumur bayi 2 bulan. Meski sering salah paham dan miskomunikasi, tapi aku dan Mama mencoba saling mengerti keinginan satu sama lain. Tak hanya saat aku belum cakap berbicara begini, nanti pun setelah aku sudah bisa mengucapkan kalimat lengkap yang bermakna, semoga kami bisa saling mengerti bukan hanya semata-mata mendengarkan saja.

.

.

.

Begitulah mungkin tafsiran dari serentetan perilaku putriku belakangan ini. Allah hu alam, entah benar atau tidak, saya hanya bisa menduga-duga demikian.

Advertisements

Lagu Anak Jaman Sekarang

Minggu sore kemarin, saat mejeng bareng Risa di depan rumah, kami dirubung bocah-bocah tetangga sekitar usia 5-7 tahunan. Bocah perempuan semuanya, wangi sudah mandi semua.

Sambil ngobrol ngalor-ngidul dan ngegodain Risa, saya minta mereka untuk bernyanyi biar si Risa bisa senyum soalnya dia merem-melek melulu :P.

Salah satu bocah pun menyanyikan lagu SM*SH dengan faseh-nya 😆 .

Saya tergelak dan merekues lagu lain, “Lagu anak-anak, dong!”

Eh si bocah kemudian malah bingung, “Lagu apa? Aku mah hapalnya lagu semes sama ceribel,” jawabnya dengan polos.

Alamak 😆

SM*SH Idola Anak Jaman Sekarang

Begini agaknya potret anak jaman sekarang, setiap hari dibanjiri konten dewasa sampai-sampai lagu sebagai sarana eskpresi musikalitas yang sesuai umur mereka pun tak punya. Sebagai anak jaman dulu, saya masih ingat jelas, seumuran mereka saya suka berdendang “Soleram sol soleram… soleram anak yang manis…” bareng bocah-bocah tetangga.

Sementara anak jaman sekarang adalah generasi boy/girl band 😕 atau kalo meminjam istilah seorang teman, generasi Inbox dan Dahsyat :lol:. Ketika itu teman saya takjub melihat bocah-bocah (yang lagi-lagi) tetangganya berbondong-bondong menghadiri acara Inbox di salah satu pelataran parkir Pasar Modern Karawaci. Saya aja tidak tahu dimana itu Pasar Modern Karawaci.

Terus kenapa? Apa salah menjadi generasi boy/girl band sejak dini? Saya tak begitu faham tentang psikologi anak-anak, jadi tak tau dampaknya buat para gadis belia ini. Tapi pernah ngobrol dengan keponakan seumuran kelas 3 SD yang juga menggilai SM*SH, dan saya tanya “emang ngerti maksud lagunya?”. Dan dia menjawab, “soal cinta-cintaan.” Masih saya cecar dengan pertanyaan lanjutan, “Emang cinta tuh apa sih?” Dan dia menjawab dengan polos, “Cinta tuh suka-sukaan, pacaran gitu.” Dan iseng saya tanya lagi, “Emang kamu udah punya pacar?” Dan si eneng tidak menjawab dan cuma tersapu-sapu malu…. :lol:.

Jaman dulu, seumuran begitu, saya masih ngejar-ngejar tukang bakso dan bukannya cowo.. Eh abang tukang bakso tuh cowok juga ya :lol:.

Jadi ya sebagai anak jaman dulu, memang ajaib sekaligus ngeri melihat anak jaman sekarang. Apalagi kalau membayangkan anak di masa depan, haduh kaya apa itu nanti pergaulan :-?.

Tapi ah saya tak ingin jadi emak-emak kuno super protektif yang malah mengekang keingintahuan Risa nantinya. Saya mau jadi ibu gaol yang tetap melek pada perkembangan jaman. Biar dia melihat dunia dengan pengawasan, dan membekalinya skill untuk menilai apa yang dia lihat.

Inkompatibilitas ABO

Menurut orang Jepang, karakter manusia bisa dibedakan menurut golongan darahnya. Misal, orang bergolongan darah O, seperti saya katanya memiliki sifat easy-going, suka bersosialisasi, dan senang berada di tengah-tengah pusat perhatian. Benar, ga? Kayaknya ga sesuai yaa? 😆 . Dan saya menikah dengan seorang bergolongan darah AB, yang menurut artikel tersebut bersifat cool, rasional, mudah bersosialisasi, tukang kritik, dan tidak tanggungjawab. Err, sifat yang terakhir itu jelas-jelas tidak sesuai :P. Dari hasil peleburan sel ovum dan sperma kami lahirlah anak saya yang bergolongan darah A, yang katanya lagi, bersifat serius, sabar, keras kepala, dan tidak mudah puas. Gimana mirip kah dengan dia? Err, kami masih dalam tahap PDKT jadi belum kenal seutuhnya 😆 .

Jadinya percaya tak percaya, karena biasanya hal seperti itu kebanyakan hasil analisa cocologi. Jadi kalaupun cocok ya kebetulan semata. Lagi pula agaknya penafsiran tersebut berdasarkan sifat biologis-fisiologis golongan darah tersebut. Misal golongan darah O, yang merupakan pendonor universal, disebutkan sifatnya gampang bergaul karena bisa diberikan pada penerima dengan golongan darah apapun. Demikian juga dengan golongan darah AB, namun ditambah lagi orang bergolongan darah ini punya kepribadian ganda. Mungkin karena punya A dan B, makanya disebut kepribadiannya ada dua :P. Eniwei, itu hanya penafsiran semata.

Nah, katanya lagi nih, orang bergolongan darah O seperti saya itu cocok dengan orang bergolongan darah AB dan sesama O, tapi tidak dengan A (seperti anakku). Terus.. terus.. katanya antara O dan A berpotensi saling berkonflik dan berperang *halah*.

Tapi kalau diingat-ingat lagi, antara darah saya dan anak saya memang pernah saling bertempur siy. Malahan di awal kehidupannya, menyebabkan kadar bilirubinnya sangat tinggi.

.

.

Ngomong apa siy saya yaa 😆

Begini ceritanya…

Saat hari terakhir dirawat di RS paska kelahiran, seorang perawat memberitahu saya bahwa kadar bilirubin dalam tubuh anak saya meningkat mencapai 17 mg/dL, padahal normalnya dibawah 10 mg/dL. Bilirubin adalah pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah yang sudah tua. Pada kondisi normal, bilirubin akan diikat oleh protein pembawa (biasanya albumin) di hati, kemudian dibawa ke empedu dan akhirnya dibuang melalui urin. Nah, bilirubin ini lah yang memberikan warna kuning pada urin. Pada bayi yang baru lahir, enzim yang bertugas mengikatkan bilirubin dengan protein albumin belum bekerja, ditambah lagi fungsi hatinya pun belum optimal. Sehingga banyak bilirubin yang tidak berikatan dengan albumin dan tidak dapat dibuang ke luar tubuh. Bilirubin bebas tersebut tetap berada dalam sirkulasi darah, dan malahan menumpuk di berbagai jaringan tubuh. Penumpukan di kulit bisa kita lihat ketika si bayi kok kulitnya kuning. Malahan pada kadar yang tinggi, bagian matanya yang putih pun bisa berwarna kuning. Yang berbahaya apabila bilirubin ini menumpuk di otak karena bisa menyebabkan kerusakan sel syaraf permanen.

Kondisi tersebut sebenarnya bayak ditemukan pada bayi yang baru lahir, biasanya kuningnya muncul sekitar 48 jam setelah bayi dilahirkan. Ini disebabkan mulai terjadi penggantian sel darah merah, dimana yang sudah tua mulai dihancurkan. Akibatnya bilirubin pun banyak dihasilkan, dan karena sistem pembuangannya belum bekerja optimal muncullah kondisi bayi kuning tadi (sumber).

Tapi setelah saya baca-baca lagi, salah satu faktor yang memperparah kondisi tersebut adalah ketidaksesuaian golongan darah ibu dan anak. Ketika si ibu memiliki golongan darah O, sementara anaknya A atau B. Golongan darah O memiliki antibodi terhadap A dan B, sehingga hanya bisa menerima donor darah dari sesama O, jika selain itu maka darah A dan B akan dilawan atau dihancurkan oleh antibodi tersebut.

Selama kehamilan, darah ibu dan anak tidak bercampur. Sistem peredaran darah ibu dan anak terpisah oleh membran plasenta (ari-ari). Namun karena sebab-sebab tertentu, misalnya ketika proses melahirkan, darah ibu bisa melewati plasenta dan bercampur dengan darah bayinya. Akibatnya darah ibu yang O malahan bereaksi melawan darah bayinya yang A, sehingga banyak sel darah merah bayinya yang dihancurkan dan meningkatkan produksi bilirubin.

Pada kondisi yang tidak terlalu parah, jika kadar bilirubinnya masih di bawah 20 mg/dL, kondisi tersebut masih bisa ditangani dengan fototerapi. Yaitu penyinaran tubuh bayi dengan sinar biru yang memiliki panjang gelombang antara 420 sampai 470 nm. Sinar ini bisa membantu menguraikan bilirubin sehingga bisa dibuang lewat urin. Atau bisa juga dengan menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi (antara jam 8-9) sekitar 10-15 menit.

Namun jika penghancuran sel darah merahnya berlangsung dengan cepat, kadar bilirubinnya sudah terlampau tinggi dan tidak bisa diturunkan dengan fototerapi, maka penanganan selanjutnya adalah dengan exchange transfusion atau tranfusi tukar, seperti pernah kejadian sama bayinya Mbak Nirina. Yaitu darah bayi dikeluarkan, kemudian diganti dengan darah donor bergolongan darah O yang memiliki kandungan antibodi A yang rendah.

Untungnya, kemarin itu anak saya tidak sampai separah itu dan memerlukan transfusi tukar. Sebab setelah difototerapi selama 2×24 jam, kadar bilirubinnnya sudah turun menjadi 3 mg/dL. Yah, meskipun darah kami sempat bertepur dan saya menyebabkan sejumlah sel darah merahnya hancur, pertempuran itu tidak sampai berlansung lama.

Saya pun tidak ‘ngeh dengan resiko inkompatibilitas golongan darah ini meskipun dulu pernah baca siy :P. Makanya kalau mau punya anak kedua nanti, resiko seperti ini pun akan tetap ada. Sebab anak-anak kami (saya O dan suami AB), kemungkinan golongan darahnya A dan B. Kalaupun nanti lahir anak bergolongan darah B, ya sama aja efeknya :|. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur cinta nikah siy :lol:. Mengatasi penyakit akibat faktor genetis begini memang cuma bisa mengobati efek-efeknya saja, supaya tidak makin parah dan kemudian menyerahkan diri pada ketahanan tubuh si bayi untuk bertahan dan melawan. Atau ya berdoa kepada Tuhan minta keselamatan… ya, kalau Anda percaya pada Tuhan… #eh 😆

Hello World!!

Menyambung cerita berseri tentang kehamilan, yang sayangnya absen saya update pada trimester ketiga karena padatnya kesibukan, akhirnya sampailah pada minggu-minggu menjelang HPL (hari perkiraan lahir). Menurut hitungan dokter, HPL sekitar awal januari (10 Januari 2012) dan saya sempat mengisi surat pengajuan cuti melahirkan ke kantor mulai dari 2 Januari. Eh tapi ternyata, setelah hari natal, 26 Desember saya mulai merasakan kontraksi yang teratur setiap 10 menit sekali. Rasanya tidak terlalu sakit, hanya tegang perut seperti menjelang menstruasi. Karena khawatir lahiran di bis, keluarga mendesak saya untuk memajukan masa cuti mulai 27 Desember 2011.

Sakit Peyut

Sehari kemudian, 27 Desember, sakit perutnya mulai meningkat intensitasnya, sementara durasinya masih tetap sama per 5 menit. Sembari bertegang-tegang perut, saya sempat browsing apa tanda-tanda akan melahirkan. Sebab bertanya ke si mamah, dia sendiri sudah lupa pengalamannya dulu karena kelamaan 😆 . Tanya ke teman, dia cuma bilang pokoknya “mules kaya pengen pup” :P. Karena penasaran plus paranoid, apalagi malam itu keluar lendir lumayan banyak dari vagina, dan saya bingung apakah itu cairan ketuban atau bukan. Akhirnya, saya ke dokter kandungan untuk memastikan. Kata dokter, “blum buuuu…”

Pecah Ketuban

Tanggal 28 sore, rasa sakitnya makin meningkat. Rasanya tidak hanya seperti keram saat mau menstruasi, tapi ditambah sakit pinggang dan panggul. Masih bisa saya tahan dengan menarik dan menghembuskan nafas panjang.

Subuh tanggal 29, jam 4 pagi, ketuban saya pecah. Ternyata rasanya seperti pipis yang tidak bisa ditahan, tau-tau ada aliran air membanjir keluar disertai lendir bercampur jaringan. Saat itu juga kami menuju rumah sakit.

Tiba di rumah sakit, bidan memeriksa pembukaan rahim dan ternyata baru bukaan 3 (3 cm), masih jauh dari bukaan penuh yaitu 10 (10 cm). Sakit pinggang makin menjadi, dan makin lama rasa sakit itu menjalar dari perut atas ke panggul dan pinggang.

Buka-bukaan

Tanggal 29 pagi, jam 7 bu bidan kembali memeriksa bukaan dan ternyata sudah bukaan 6. Yey, 4 lagi \m/.

Setelah bukaan 6 itu, intensitas rasa sakitnya makin menjadi-jadi dan sensasinya agak berbeda karena ditambah rasa ingin buang air. Makin lama, refleks mengejan itu makin kuat, dan harus ditahan. Apabila mengejan sebelum pembukaan penuh bisa berakibat fatal pada membengkakan mulut rahim yang malah menyebabkan menyempitnya jalan lahir.

Saat tengah hari, sudah bukaan 8 tapi kepala si dede masih belum turun ke jalan lahir. Rasa sakit makin menjadi, tapi yang paling susah ditahan adalah refleks untung mengejan. Saya hanya bisa meremas tangan mamah saya sambil mengatur nafas pendek-pendek untuk meredakan rasa sakitnya. Sementara suami terus memberikan semangat dan dukungan.

Jam 2an, masih bukaan 8 dan kepala si dede belum juga turun sementara saya sudah amat lemas menahan rasa sakitnya. Dokter menyarankan menunggu sebentar lagi.

Sejam kemudian saya sudah tak tahan, dan nyaris kehilangan kesadaran karena lemas. Bu bidan kembali mengecek, dan masih sama di pembukaan 8 dan kepala bayinya belum turun. Akhirnya dokter menyarankan untuk operasi caesar, karena diinduksi pun saya sudah lemas dan tak punya tenaga lagi untuk mengejan.

Perjuangan Belum Selesai….

Setelah diputuskan operasi caesar, saya sangat lega tapi imbasnya adalah toleransi rasa sakit malah makin mengendur sehingga rasa sakit yang sebelumnya masih bisa ditahan jadi mulai terasa sakitnya. Penantian satu jam lebih menunggu perawat dan dokter mempersiapkan operasi, adalah pengalaman yang kalo bisa dibilang sakit fisik yang teramat sakit.

Sekitar jam 4 sore saya masuk ruang operasi, molor setengah jam dari waktu yang dijanjikan oleh dokter. Saat itu saya benar-benar tak tahan menahan rasa untuk mengejan, sampai memohon-mohon pada dokter anastesi untuk menbius saya segera. Setelah bius lokal mulai membuat bagian dada ke bawah terasa kebas, seketika rasa sakit itu sirna. Perut saya dibelek dalam keadaan dada ke atas masih sadar, dan dokter-dokter itu membelek sambil ngobrol rencana tahun baruan mereka *doh*.

Hello World!!

Tak berapa lama terdengar gerasak-gerusuk dan suara tangisan bayi yang sangat kencang kemudian menghilang dibawa keluar ruangan. Tak berapa lama tangisan itu kembali terdengar, dan ditunjukkanlah seorang bayi mungil yang matanya sudah melek menggeliat-geliat lincah dalam dekapan perawat. “Selamat, Bu. Bayinya perempuan, sehat, normal, dan lengkap semuanya.”

Tepat jam 4.30 sore, 29 Desember 2011 bayi mungil kami lahir menyapa dunia. Papahnya sudah menyiapkan sebuah nama cantik…

Sarisha Yasmin

yang memiliki arti “Bunga Melati yang Memukau”. Panggilannya adalah Risa. Soalnya kalau “Sari” sudah pasaran, sementara “Shasha” seperti nama bumbu masakan.

Lega rasanya. Rasa sakit yang sedari tadi mendera, lenyap semuanya. Tubuh saya menggigil hebat ketika dokter-dokter itu mengobras perut saya. Sekitar jam 5.30 sore, saya didorong keluar ruang operasi menuju ruang pemulihan. Baru menjelang jam 9 malam saya dipindahkan ke ruang perawatan.

Normal vs Caesar

Saya menghabiskan waktu 4 hari perawatan di rumah sakit pasca operasi. 24 jam pertama, kateter dan infus masih terpasang di badan dan saya tidak boleh bangun bahkan untuk sekedar mengangkat kepala dari pembaringan. Yang diperbolehkan, malah diharuskan, adalah miring kiri dan kanan. Itupun nyerinya lumayan :lol:.

Pagi harinya, si mungil di bawa ke ruangan saya. Karena tak bisa bangun, si mungil digendong-gendong oleh neneknya. Dia pun belajar menghisap ASI, lumayan sudah bisa menghisap, sayang ASI nya belum ada.

Setelah 24 jam pasca operasi, semua selang infus dan kateter dilepas. Saya mesti belajar bangun dan jalan, sakitnya lumayan juga, terasa mulai dari perut bagian atas sampai panggul. Tapi harus dipaksakan, kalau tidak lukanya akan lama keringnya dan badan jadi kaku.

Sehari tiga kali si mungil di antar ke kamar saya. Dan kami mulai PDKT dan belajar hisap-menghisap.

Hari ke tiga, saya sudah bisa duduk dan online pakai netbook. Nyusuin si mungil pun sudah bisa sambil duduk.

Dan hari terakhir, mobilitas hampir mendekati kondisi normal meski sambil nahan sakit. Sudah bisa jalan-jalan ke ruang bayi untuk menjenguk si mungil.

Begitulah, pada akhirnya pengalaman saya lengkap sudah. Merasakan kontraksi melahirkan normal hampir ke pembukaan penuh, dan sempat mengejan juga menjelang detik-detik pembiusan karena sudah tak tahan. Kemudian merasakan operasi caesar plus sakitnya pemulihan pasca operasi.

Jadi kalau bisa memilih, mana yang paling “sakit”?  Menurut saya mah, dua-duanya menyajikan rasa sakit yang berbeda dan rasa sakit itu akan lenyap ketika melihat buah hati kita lahir selamat dan sehat.

Fototerapi Risa-chan

Malam terakhir sebelum pulang, seorang perawat memberitahu saya bahwa si mungil Risa memiliki kadar bilirubin yang tinggi, mencapai 13 mg/dL sehingga terlihat kulitnya kuning. Detik itu saya langsung panik. Bagaimana tidak, bilirubin adalah topik penelitian saya di lab, dan jelas-jelas saya tahu efek negatifnya jika kadarnya sangat tinggi… well, walaupun subjek penelitiannya pada mencit putih siy :roll:. Pokoknya jika bilirubinnya sangat tinggi bisa menyebabkan kejang-kejang dan kerusakan otak permanen.

Risa-chan akhirnya malam itu juga pindah ke ruang perawatan perinatologi untuk di sinar selama 2×24 jam, supaya kadar bilirubinnya turun. Alhasil ketika saya keluar rumah sakit, Risa-chan mesti menginap semalam lagi.

Sedih pastinya, terpisah dari anak sendiri. Apalagi ketika melihat tubuh mungilnya terbaring lemah dalam keremangan sinar ultraviolet :(. Rasa nyeri bekas jahitan pun saya abaikan demi bolak-balik rumah-RS untuk menjenguknya. Dan alhamdulillah, setelah 2 hari dirawat kadar bilirubin Risa-chan turun menjadi 3 mg/dL dan dia diperbolehkan pulang.

Senangnya… kini tangisnya, tingkah lucunya, mewarnai hari-hari kami. Mulai saat ini, dan seterusnya, tiap hari tak akan pernah berasa sama. Saya pun mulai, makin, malas berfilsafat bergalau-galau apa arti kebahagiaan dan bahkan cintah. Suami saya pernah berujar bahwa seorang perempuan baru mengerti arti cinta ketika ia telah menjadi ibu. Meski menjadi ibu baru 7 hari, mustahil menjadikan saya pakar cintah, tapi semuanya yang dulu saya anggap kompleks itu ternyata sedemikian sederhana. Ah ya.. tidak perlu ribet-ribet didefinisikan, cukup dirasakan dengan sepenuhnya kesadaran.

Whatever it is.. live life to the fullest..